INDIGO & 7

INDIGO & 7
Mengolah energi dasar.



Senin pagi bayu di ajak mbah nang ke pasar untuk membeli beberapa peralatan. Sebenarnya yang lain juga di ajak tapi bagas punya rencana mancing bersama adit dan deren. Rahma dan nafia membuat rujak bersama mbah dok di bantu sopi dan ayu.


Bayu di bonceng mbah nang dengan sepeda kunonya karena mbah nang nggak punya motor dan tidak bisa mengendarainya. Pasar terdekat dari desa sukaman ini sekitar 3 Km tapi soal dagangan bisa di bilang komplit dan ramai. Sampai di penjualnya mbah nang menyebutkan beberapa barang yang tidak bisa author tulis karena belum tentu benar. Ohh iya hari ini bayu berpuasa sesuai perintah mbah nang. Pulang dari pasar bayu mendapat telpon dari miko. Masih inget kan miko keponakan pak anton yang masuk penjara.


"Hallo assalamu'alaikum."


"Waalaikumsalam mas. Mas bayu di mana nih? Rumahnya kok tutupan dan sepi."


"Aku liburan si kota N mik. Ada apaan?"


"Ada deh. Mas kapan pulang?"


"Belum tahu pastinya tapi kemungkinan sih besok siang otw pulang."


"Sip mas kabar kabar kalau udah di rumah."


"Oke deh."


Bayu menutup telepon lalu menuju dapur untuk melihat para cewek membuat rujak tapi sialnya bayu malah di suruh beli ini beli itu wkwk...


Skip sore harinya mbah nang memberi tahu kalau nanti malam jam 9 keluar dari kamar. Tepat pukul 9 malam bayu keluar kamar dan mbah nang sudah menunggu di dekat pintu dapur. Bayu di ajak masuk ruangan kemarin tapi sekarang ada lilin sebagai pencahayaan. Ada juga baskom berisi kembang 7 rupa. Bayu di suruh duduk di tikar dengan posisi bersila. Mbah nang di belakang bayu sambil tangannya di rendam ke dalam baskom tadi.


"Rasanya sedikit sakit tapi cuma sebentar. Setelah rasa sakit hilang pejamkan matamu lalu fokuskan pernapasan di perut bagian bawah. Lakukan berulang sampai perut bagian bawahmu terasa penuh dah keras. Setelah rasanya penuh coba alirkan sesuatu yang penuh itu ke tangan kiri atau kanan bebas. Paham."


Bayu mengangguk tanda paham lalu tangan kiri mbah nang memegang pundak kiri bayu sedangkan tangan kanan menekan sesuatu di bawah punggung bayu. Dalam hitungan 1 sampai 3 hap.. Kretekkk... Suara tulang yang geser dan rasanya sungguh sakit sampai mata bayu berkunang kunang otomatis bayu memejamkan mata dan bayu mulai memusatkan oksigen di bagian perut bawahnya. Tapi bayu Masih belum bisa mengumpulkannya di perut bagian bawahnya.


"Perlahan saja jangan buru buru." ucap mbah nang lalu keluar ruangan."


"Mbah kembali lagi nanti fokuskan dulu pernapasan mu."


Satu jam lamanya bayu di tinggal di ruangan itu sendiriani tapi bayu tidak takut sama sekali karena dia fokus ke pernapasan. Setelah 1 jam bayu mulai tenang dalam pernapasan dan perut bagian bawahnya seperti terisi sesuatu yang cair. Bayu memfokuskan cairan di bawah perutnya menuju tangan kanan tapi cairan itu tidak mau naik. Bayu mempercepat pola nafasnya dan berhasil cairan itu naik dan perlahan mengalir ke tangan kanan bayu. Mbah nang masuk ke ruangan itu untuk melihat perkembangan bayu.


"Bagus kamu sudah bisa mengalirkan energi hanya hitungan jam. Sekarang setelah tanganmu terasa penuh dan dingin luruskan tanganmu ke depan."


Beberapa menit kemudian tangan bayu sudah penuh dengan rasa dingin bayu meluruskan tangan kanannya ke depan lalu terdengar Pyar.. ada sesuatu pecah di depan bayu.


"Sekarang normalkan pernapasan mu seperti awal."


Setelah nafas bayu normal energi di bawah perut bayu yang tadinya terasa mengganjal perlahan hilang.


"Buka matamu."


"Kok gelap mbah?" tanya bayu setelah membuka mata.


"Coba pertajam penglihatan mu supaya bisa melihat isi di dalam ruangan ini."


Bayu menuruti ucapan mbah nang dan nampak ruangan yang sama tapi lilin yang tadinya di depan bayu sudah hancur jadi butiran abu.


"Iya yang memecah lilin itu energi atau tenaga yang keluar dari tanganmu tadi."


Bayu mengulanginya dan hasilnya 2 apel itu berlubang tepat di tengah.


"Mbah apel itu kok berlubang tidak hancur seperti lilin tadi?" tanya bayu.


"Karena lilin itu padat sehingga 1 titik kena tenaga dalam bagian lain akan ikut hancur. Beda dengan apel itu yang hanya 1 titik yang hancur karena energimu cuma terpusat pada 1 titik. Dulu mbah pertama belajar apel itu sama dengan lilin yang hancur. Butuh beberapa bulan sampai mbah bisa memfokuskan energi pada 1 titik tapi kamu baru belajar sudah bisa itu sebuah keistimewaan tersendiri. Ayo sekarang keluar mbah tunjukan sesuatu."


Sampai di luar rumah mbah nang menyuruh bayu untuk melihat mbah nang. Mbah nang pasang kuda kuda dan bayu bisa melihat mbah nang mengeluarkan sebuah bola energi di tangan kanannya.


"Nah ini dia energi yang ada di bawah perutmu tadi. Jika kamu sudah terbiasa kamu tidak perlu melakukan pernapasan untuk mengumpulkan dan mengalirkannya cukup dengan kendali pikiran kita saja. Contoh seperti ini." Mbah nang merubah bola di tangannya menjadi sebuah keris.


"Nah kita cukup memikirkan apa keinginan kita terhadap energi ini dan energi ini akan terbentuk karena energi termasuk bagian dari badan kita yang di kendalikan otak. Sekarang lihat mbah akan membuat tanda di pohon itu."


Mbah nang melempar bola energi itu ke pohon mangga di samping rumah dan suara ledakan muncul Duarr... Sebuah lingkaran membekas di pohon itu.


Di sisi lain wulan dari jarak jauh melihat bayu yang belajar mengolah energinya.


"Bagus kau benar benar berbakat tak salah bunda menyuruhku menjagamu." ucap wulan terus memantau.


"Coba kamu lakukan seperti kakek dalam posisi berdiri."


Bayu mencobanya tapi energi yang terkumpul di bawah perutnya tidak sebanyak saat di ruangan tadi. Dengan buru buru bayu mengalirkan energi yang kecil itu ke tangan kanannya lalu mengarahkan ke pohon di depannya. Yhup bisa di tebak tidak ada efek sama sekali yang muncul karena energi belum sampai keluar dari tangan sudah habis duluan.


"Haha...Kau terlalu ambisius. Kau belum sampai level itu. Duduk aja dan kumpulkan energi sebanyak banyaknya."


Percobaan ke 2 bayu berhasil melubangi pohon itu bukan sekedar membuat tanda.


"Wah wah energimu sangat tajam ya sampai pohon itu berlubang"


Sampai tengah malam bayu berlatih dan kita skip saja karena bakal panjang banget nantinya.


Setelah latihan bayu di berikan jamu oleh mbah nang yang membuat tubuh bayu bertenaga lagi.


"Besok kamu mau pulang kan? Ada yang nungguin kamu."


"Nggak harus besok sih mbah rabu atau kamis juga bisa." jawab bayu.


"Mau mbah juga gitu tapi sepertinya besok kamu harus pulang soalnya ada hal yang penting. Kalau di lewatkan mungkin berefek ke masa depanmu nanti. Tapi ya tergantung teman temanmu dan adikmu udah mau pulang belum sepertinya mereka mulai betah tinggal di kampung sukaman."


"Besok bayu tanya mereka mbah kalau pulang ya siang kita otw pulang. Makasih mbah sudah mengajari bayu mengolah energi. Bayu jadi bisa menjaga diri dari orang dan makhluk halus berbahaya."


"Memang sudah tugas mbah mengajarimu karena kamu keturunan terpilih. Mbah kira anak dari budhemu yang menjadi penerus kemampuan ini tapi kamu yang mewarisinya. Padahal dulu bapakmu nggak pernah mau mbah ajari hal hal yang berbau ghoib malah budhemu yang nota bene perempuan minat belajar. Tapi karena budhemu kurang berbakat dia berhenti di tengah jalan terutama saat dia sibuk bekerja."


"Ya udah kamu tidur gih pasti capek." ucap mbah nang.


"Mbah nang juga istirahat. Ingat umur mbah."


"Haha iya mbah bentar lagi masuk."