INDIGO & 7

INDIGO & 7
Lanjutan.



Pagi harinya mereka berempat mbangkong dalam bahasa jawa yang berarti bangun kesiangan. Ayu dan sopi di suruh bangunin mereka karena waktunya sarapan pagi.


"Pi hitungan ke 3 nyalain ya alarmnya sekeras mungkin." ucap ayu meletakkan HP di dekat telinga bayu.


"Oke siap yu." Hal yang sama di lakukan ke bagas.


1..2..3 Kringgggggg........Alarm berbunyi dengan keras.


"Kebakaran Kebakaran gas kebakaran ayo bangun." ucap bayu langsung bangun dari tidurnya.


"Ha kebakaran? Kebakaran Lari..." Bagas yang responnya lebih lama dari bayu tiba tiba bangun dan langsung lari keluar kamar. Setelah sadar mereka di kerjain sekarang sopi dan ayu di tangkep bagas dan bayu menggelitiki kaki keduanya.


"Ampun mas geli mas ampun." ucap ayu memohon.


"Iya mas ampun ini ide ayu mas." ucap sopi menyalahkan ayu padahal itu tadi ide dari sopi.


"Alah keduanya sekongkol rasain nih." bayu semakin cepat menggelitiki mereka.


Setelah di rasa cukup bagas melepaskan mereka berdua dan bagas punya ide usil ngebangunin rahma dan nafia.


"Ehh nggak boleh mas cowok masuk kamar cewek itu." ucap ayu.


"Iya mas biar kita aja yang bangunin nanti biar mereka lari keluar kamar nah baru mas gendong." ucap sopi.


"Tapi kita cek dulu kondisinya aman nggak."


"Iya deh terserah lu pada."


Bayu dan bagas ke KM memastikan bak air penuh setelah aman 2 bocil itu masuk kamar rahma dan nafia. Dengan cara yang sama rahma berhasil lari keluar kamar seperti bagas tadi dan dari luar bagas menangkap rahma dan menggendongnya ke Kamar mandi. Sedangkan nafia seperti orang kebingungan saat bangun dan bayu yang tidak sabar langsung masuk dan menggendong nafia ke Kamar mandi juga.


"Ehh yang apa apaan nih. Mau di bawa kemana aku?" ucap nafia masih bingung.


Di dalam KM rahma udah basah kuyup di guyur air oleh bagas dan sekarang giliran nafia yang di masukan bak oleh bayu dan tidak berselang lama nafia sudah basah kuyup seperti rahma. Setelah rahma dan nafia basah kuyup nafia dan rahma melempari bayu dan bagas dengan gayung dan beberapa alat lainnya karena kesal. Bayu dan bagas lari keluar kamar mandi dengan tertawa terbahak bahak. Skip semua sudah mandi dan sekarang mereka mau jalan jalan keliling Kota angin.


Jalan jalan kita skip karena tidak ada yang perlu di ceritakan.


Sore itu bayu duduk di teras sendirian dan mbah nang duduk di samping bayu.


"Nak sendirian aja?"


"Iya mbah yang lain di kamar. Ada apa mbah?" tanya bayu.


"Hmm mbah cuma mau tanya kemarin malam bayu pulang beneran tidak nyasar? Langsung ketemu gapura desa ini?" tanya mbah nang.


"Iya mbah langsung ketemu emang kenapa? Orang lain pernah nyasar ya mbah?"


"Malah bisa di sebut sering. Terutama orang laur desa yang mau datang ke desa ini jam 8 lebih sering tidak ketemu gapuranya malah mereka nyasar ke desa lain. Terus pas kamu masuk desa kamu di kasih lihat sesuatu nggak? kejadian yang aneh gitu? Jujur aja nak." ucap mbah nang seolah tahu.


"Emn iya mbah di area persawahan rame banyak orang seperti pasar gitu. Tapi pas sampai ujung jalan mau belok ke sini semua hilang dan jadi sepi. Itu apa ya mbah?" Tanya bayu kepo.


"Hmm begitu jadi mata batinmu sudah terbuka penuh ya. Berarti sudah saatnya ayo ikut mbah!" ucap mbah nang mengajak bayu masuk.


"Apa semacam tempat pesugihan gitu mbah?"


"Iya betul tapi pasar demit itu tidak tiap malam ada hanya malam jum'at legi dan selasa kliwon saja." ucap mbah nang dan sekarang mereka sudah di belakang rumah.


"Hari senin malam kamu sama mbah akan melakukan ritual di sini ya." ucap mbah nang membuka pintu ruangan itu.


Ruang itu sangat gelap dan di dalam tidak ada apa apa selain tikar lusuh.


"Ritual apa mbah? Kalau ritual aneh2 bayu nggak mau." ucap bayu.


"Membuka gerbang energi di tubuhmu nak. Tenang aman kok. Di ikuti jin cantik itu aja kamu nggak takut masa di ruang ini semalam aja takut.


"Jin cantik siapa mbah?" tanya bayu pura pura tidak tahu.


"Mbah nggak tahu yang jelas dia berpakaian keraton dan pastinya dia cantik. Siapa namanya?" tanya nang.


"Wulan mbah." jawab bayu jujur.


"Kemana dia? kok pulang dari gunung nggak ngikutin kamu?" tanya mbah nang sambil menyalakan rokok dan duduk di depan ruangan itu.


"Nggak tahu mbah mungkin pulang ke asalnya." jawab bayu.


"Kalau dia nggak ngikutin kamu mbah nggak akan ngebolehin kamu naik gunung bersama teman temanmu soalnya di gunung itu banyak penunggunya. Mbah tahu dia itu kuat makanya kamu juga harus sekuat dia biar tidak jadi beban untuknya." ucap mbah nang.


"Maksudnya mbah?"


"Setelah energimu bisa mengalir kamu akan belajar sesuatu untuk menjaga dirimu sendiri dari makhluk halus di luar sana."


"Sulit nggak mbah?" tanya bayu.


"Sulit tidaknya tergantung dirimu sendiri."


"Udah yuk balik ke dalam."


Sehabis maghrib malam minggu di desa sukaman bisa di bilang ramai karena beberapa anak muda keluar untuk kencan ke nganjuk kota.


Saat bayu duduk di teras bersama yang lain dian datang dan memberi tahu dirinya akan melihat jaranan di desa sebelah. Bayu dan bagas ikut pasti nafia dan rahma juga ikut mana mungkin mereka membiarkan pacar mereka bersama cewek lain.


Ayu dan sopi tidak mau ikut mereka memilih mabar bersama adit,deren dan adik sepupunya dian bernama dewi.


Jalan kaki menuju kampung sebelah terasa asik karena mereka ngobrol ngalor ngidul sambil memakan mi yang di taruh di plastiknya itu.


Rahma dan nafia yang tidak pernah makan pakai sumpit dari bambu kecil kesusahan memakannya tapi setelah mengamati bayu dan bagas mereka bisa juga.


Tak terasa 15 menit mereka berjalan dan sudah tiba di tempat jaranan itu akan tampil.


Malam itu bayu antusias menonton soalnya sudah lama tidak menonton.


Jam 7 jaranan di mulai dengan pembukaan berupa pemagaran ghaib dan berdo'a bersama. Saat pemagaran ghaib itu seirang bopo atau kru jaranan itu membawa dupa di angklung dan membawa kendi berisikan air. Bopo itu membuat garis memutari area yang menjadi tempat mereka tampil nanti dengan air dari kendi tadi. Bayu yang melihat itu tahu kalau air itu membentuk sebuah kaca. Yhup untuk mata normal tidak kelihatan, Kaca itu tingginya kurang lebih 3 meter.