INDIGO & 7

INDIGO & 7
Masih misterius



Tiba di istana wulan mencari ibunya tapi tidak menemukannya. Saat wulan melewati kamar nawang wulan melihat kakaknya itu sedang duduk bersila.


'Kak bunda di mana ya?' tanya wulan dari ambang pintu.


'Ahh sialan lagi lagi gagal. Kamu sih gangguin aku. Bunda sedang olah ilmu di gunung kidul mungkin beberapa hari di sana.' ucap nawang mulai konsentrasi lagi.


'Ohh gitu. Terus kakak lagi ngapain?' tanya wulan.


'Hadeh gagal lagi. Sana pergi jangan ganggu meditasiku deh.' usir nawang.


Wulan tanpa banyak omong langsung pergi sambil terkikih melihat tingkah kakaknya itu. !!!!!!


Wulan segera menuju tempat yang di maksud kakaknya tadi. Sampai di gunung kidul wulan ke mana mana mencari bundanya tapi tidak ditemukan.


"Sedang mencari siapa kamu kesini?" tanya seorang kakek muncul di belakang wulan.


Wulan sempat heran kakek itu manusia atau makhluk halus. Kalau di lihat kakinya napak ke tanah berarti manusia tapi dia bisa lihat wulan.


'Maaf kek saya mencari ibu saya ratu Galuh. P." ucap wulan.


"Ohh kamu anaknya ratu galuh. Ikuti aku!" ucap kakek itu lalu berjalan di ikuti wulan.


"Itu ibumu sedang mengolah ilmunya di air terjun tingkat ke 3. Kakek hanya bisa mengantar sampai sini hati hatilah." ucap kakek itu.


"Baik kek terimakasih." ucap wulan dan berjalan menuju air terjun itu.


"Ini bukan tempat sakral yang biasa ibu jadikan tempat mengolah ilmu dan bertapa. Aura positif dan energi alamnya sangatlah bersih dan sejuk." ucap wulan sambil menyerap sedikit energi alam si tempat itu.


Akibat terlalu menikmati tempat itu wulan tidak sadar ada sosok pemuda tampan mengawasinya dari balik air terjun.


"Hey siapa kau dan sedang apa di tempat ini?" ucap suara mengagetkan wulan.


Wulan membuka mata dan menatap sekelilimg lalu wulan menangkap bayangan di balik air terjun tingkat 1.


"Aku wulan putri ratu galuh pandhita. Mohon maaf mengganggu ketenangan anda di sini." ucap wulan membungkuk hormat.


"Aku tidak mempercayaimu. Kalahkan aku jika kamu ingin menemui ratu galuh!" ucap pemuda itu keluar dari balik air terjun dan berdiri di atas batu besar.


"Siapa kau? Beraninya kau menantangku anak dari ratu galuh. Kau juga bukan pengawal kerajaan Paku bulan yang biasa mengawal bunda." ucap wulan emosi.


"Ayo lawan aku!" pemuda itu berubah jadi seekor harimau benggala yang sangat lincah dan cepat. Wulan yang kaget dengan serangan mendadak itu dia terkena cakaran di lengannya tapi dengan kemampuannya luka itu sekejap pulih dan normal lagi.


"Hebat kau mampu meregenerasi tubuhmu secepat itu. Tapi sayang itu tidak berguna jika tanganmu putus." harimau itu menyerang lagi dan wus wulan hampir terkena gigitan harimau itu.


"Kau memang lincah, cepat dan ganas tapi kau punya titik lemah mencolok." ucap wulan di atas dahan pohon.


"Kau hanya menghindar ayo serang aku jika kau mampu." tantang harimau itu dan menyerang memanjat ke atas pohon. Wulan tidak menyangka harimau satu ini bisa memanjat karena mayoritas siluman harimau tidak bisa memanjat pohon yang tinggi. Wulan segera berkelit untuk melompat ke pohon lain dan di ikuti harimau itu. Mau tidak mau wulan harus menghadapi dengan serius. Saling adu ilmu fisik terjadi dan keduanya sama kuat lalu di kesempatan tertentu wulan berusaha mengeluarkan ajian gelap ngampar dan hujan petir terjadi di tempat itu tapi sayang satupun petir tidak ada yang mengenai harimau itu. Ajian gelap ngampar gagal lalu wulan mengeluarkan pedang bermata 2 yang jarang di keluarkannya kecuali nafsu membunuhnya sudah menguwasai. Pedang itu sangat tajam sepertinya bukan dari bahan pedang biasa. Harimau itu berhenti bergerak dan berubah ke wujud pamuda tadi dan membungkuk hormat.


"Maaf putri wulan telah meragukanmu. Silahkan lewat sini ratu galuh sudah menunggu." ucap pemuda itu lalu menunjuk pintu di bawah air terjun itu.


"Mengapa berhenti? Salah satu di antara kita belum ada yang kalah ayo lanjutkan." ucap wulan menunjuk pemuda itu dengan pedangnya.


"Sialan belum selesai udah pergi aja." ucap wulan lalu memasukan pedangnya lagi. Wulan memasuki pintu itu dan memasuki sebuah desa makhluk halus. Waktu wulan lewat para penduduk tidak berani di dekat wulan.


"Ngapain mereka jaga jarak denganku? apa mereka takut sama aku. Maaf pak air terjun tingkat 2 di mana ya?" Tanya wulan ke bapak penjual buah.


"Anu tuan saya tidak tahu."


"Udah kasih tau aja biar dia cepet pergi." ucap rekannya.


"Beneran nggak tahu?" tanya wulan penasaran.


"Itu tuan ada gapura besar tuan masuk saja dan naik ke tempat tujuan tuan." ucap rekannya.


"Sebentar kenapa kalian memanggilku tuan? aku bukan tuan kalian." ucap wulan.


"Kami hanya menjalankan aturan di desa ini tuan."


"Ya sudah aku pergi." ucap wulan lalu lanjut berjalan tapi bapak bapak tadi memanggil.


"Tuan tunggu..Sebaiknya hati hati atau pulang saja kalau mau aman tuan." ucap rekannya.


"Iya tuan si sana berbahaya walau saya tahu ilmu tuan sangat tinggi hingga sampai sini."


"Memangnya ada apa di atas sana sampai kalian melarangku?" tanya wulan.


"Di sana ada jin kembar yang terkenal kebal segala senjata dan ilmu jenis apapun."


"Dia termasuk jin yang kuat dan ganas jadi tuan harus hati hati jika ingin menghadapinya." ucap rekan bapak itu.


"Baik terimakasih sudah mengingatkan. Kalau boleh tahu nama kampung ini apa?" tanya wulan.


"Tirta urip tuan." jawab si bapak mengubah bentuknya jadi siluman ikan bersisik biru gelap.


"Air yang hidup ya. Baiklah aku pergi dulu." ucap wulan lalu berjalan menuju jalan yang di tunjuk siluman ikan tadi.


"Hati hati tuan!" ucap si bapak sudah kembali menyamar.


"Sungguh wanita tangguh ya gik." ucap rekannya sambil menatap langkah wulan menjauh.


"Iya man cantik pula parasnya pasti bukan anak siluman atau setan biasa."


"Jelas bukan lah. Kalau cuma siluman dan setan Arga tidak akan mengizinkan dia masuk."


Wulan sudah di depan gapura besar yang di maksud siluman tadi. Ilmu penerawangan di keluarkan oleh wulan sehingga objek yang jauh ratusan meter dapat di lihat olehnya. Dari kejauhan wulan melihat 2 raksasa kembar yang tingginya sekitar 5 meter lebih. Saat wulan mengamati 2 raksasa itu keduanya menatap tajam ke arah wulan sepertinya mereka tahu sedang di awasi.


"Jangan cuma mengintai dari jauh seperti pengecut." ucap mereka bersamaan lalu muncul angin berhembus ke arah wulan berada. Wulan menghentikan penerawangannya dan menatap ke atas pohon yang bergoyang goyan lalu wuss puhon di sekirar wulan terhempas nyaris patah dan hampir tercabut dari tanah.


'Sialan jurus suara angin. Berarti mereka benar benar kuat."


Lanjut chapter selanjutnya>>>