INDIGO & 7

INDIGO & 7
Bertemu dimas.



Pov Aris.


Kita tinggalkan dulu bayu yang sudah aman dalam perjalanannya. Sekarang kita kembali ke kota Malang yang saat ini aris sedang ngamen. Kok aris ngamen bukannya dia kerja di warung bakso ya? Iya itu betul tapi shift arif itu sore jam 4 sampai jam 10 malam jadi kalau libur begini pagi sampai siang dia ngamen. Aris ngamen bukan karena uang dari anggar kurang tapi dia ngamen buat hiburan sekaligus tidak melupakan kegiatannya dulu saat hidup di jalanan.


Pagi itu aris berangkat agak pagi yaitu pukul 6 karena jam segitu di perempatan masih rame. Sudah beberapa perempatan di lalui aris dan sekarang dia sedang duduk di sebuah halte untuk menghitung uang yang di dapatkannya. 20k yhup itu nominal yg di dapat aris dari 2 jam mengamen. Bagi beberapa orang 20k itu uang yang kecil tapi bagi aris 20k itu sudah banyak. Karena aris pernah merasakan betapa susahnya mencari uang 5k.


Lanjut aris menuju warung terdekat untuk sarapan.


"Bu Nasi pecel sama es teh satu ya." ucap aris ke penjual.


"Lauknya apa mas?"


"Tambah telurnya aja bu."


"Siap."


Pesanan tiba aris langsung makan dengan tenang.


"Mas pengamen ya?" tanya ibu warung.


"Hehe... iya bu kok tahu." jawab aris seraya tersenyum.


"Kamu lupa ya dulu kamu beberapa kali ngamen ke sini tapi ibu kasih 1 bungkus nasi."


"Ya ampun iya bu baru inget. Tapi kali ini saya bayar kok bu. Maaf bu dulu saya sering merepotkan." ucap aris.


"Ah tidak apa apa. Ibu senang sekarang kamu kesini sebagai pembeli bukan pengamen lagi."


"Iya bu saya sekarang buat hiburan aja sih."


"Oh pantesan kok udah lama nggak lihat kamu. Sekarang kamu kerja apa gimana?"


"Alhamdulillah saya ketemu orang baik dan di kasih kerjaan di warung bakso bu." jawab aris.


"Buka jam berapa warungnya kok jam segini kamu masih ngamen."


Terhenti sebentar karena ada yang bayar dan ada yang pesan.


"Jam 7 sudah buka bu tapi saya shift sore jadi pagi sanpai siang sayang ngamen aja." Lanjut aris.


"Total berapa bu?"


"Oh begitu. Semua 10k."


"Tapi uangnya receh bu gimana?" tanya aris.


"Udah gapapa asal uangnya halal hehe..."


"Ibu bisa aja. Ini bu di hitung dulu siapa tahu kurang."


"Udah pas makasih."


"Sama sama bu mari."


Aris melanjutkan acara ngamennya dan bertemu yuda teman satu kelasnya di SMP.


"Woi ris ngapain lu?" tanya yuda dari atas motornya lalu menepi ke arah aris.


"Eh lu yud. Dari mana? Gw lagi ngamen nih mau ikut?" Jawab aris.


"Nggak ah takut kena razia satpol PP gw. Dari Gang antasari Nganterin ibu gw ke rumah sodara."


"Lah kok lu tinggal."


"Gw di suruh jemput nanti malem katanya."


"Eh lu suka jaranan nggak? Di sebelah desa gw lagi ada acara nih yuk ke sana!" Ajak yuda.


"Nggak suka gw yud."


"Ah elah ya udan kita jalan jalan aja ke sana cari makanan habis itu main ke rumah gw. Kan lu belum pernah main ke rumah gw."


"Ya udah ayuk."


Untuk sampai di rumah yuda mereka harus lewat desa sebelah desa yuda dulu dan ternyata ramainya bukan main sepertinya mereka habis do'a bersama di punden desanya. Karena jalanan ramai yuda mengendarai motornya kayak siput.


"Udah tak jalan aja yud tak tunggu di dekat gapura depan ya." ucap aris turun dari motor dan berjalan kaki.


Sampai di dekat gapura aris melihat seorang pemuda ya umurnya tidak jauh dengan bayu. Pemuda itu berjalan sambil menggendong seekor kera atau monyet. Mungkin hal itu wajar tapi yang membuat aris heran kera itu berbulu emas bersinar.


Pemuda yang di lihat aris itu di bisikin oleh keranya lalu menatap aris. Yang tadinya mau belok pemuda itu malah mendatangi aris.


"Hallo bro siapa mamamu? kayaknya bukan orang sini ya?" tanya si pemuda.


"Iya mas. Aku aris." Jawab aris singkat sambil melirik kera berbulu emas di bahu pemuda itu.


"Oh kenalin aku Dimas." Sambil menjabat tangan aris.


"Kamu lihat si Akong?" tanyanya.


"Hah?" Aris bingung.


"Ya monyet di bahuku ini namanya Akong."


"Salam kenal anak muda." Ucap si kera membuat aris kaget.


"Salam kemal. Iya aku bisa melihatnya." jawab aris.


" Sebenarnya ingin ngobrol lebih lama tapi aku ada perlu jadi kapan kapan aja kita ngobrol. Pasti ketemu kok." Ucap pemuda yang bernama dimas itu.


Dia pergi begitu saja meninggalkan aris dengan rasa herannya.


Setelah itu aris dan yuda lanjut ke rumah yuda untuk bermain PS.


Skip hari selasa aris ingin ngamen keliling Alun alun untuk menghibur anak anak di sana.


Suasana pagi itu ramai sekali dan aris cuma menghibur saja tidak mau di kasih uang.


Puas berkeliling aris istirahat di bawah pohon beringin tua di alun alun.


"Di sini auranya berbeda sekali. Penghuni di pohon ini bisa hidup rukun tanpa ada perselisihan padahal mereka berbeda jenis." gumam aris sambil tiduran.


"Hey jumpa lagi kita." ucap suara mengagetkan aris.


"Eh iya. Yang kemarin itu kan."


"Iya. Lagi ngapain?" tanya dimas.


"Tiduran aja mas. Mas di sini lagi jalan jalan?"


"Enggak lagi nyariin kamu aja. Kemarin belum puas ngobrolnya hehe.." Ucap dimas agak aneh menurutnya karena buat apa dia nyariin aris kalau cuma mau ngobrol pasti ada niat terselubung.


"Oh mau ngobrolin apa mas? sini duduk biar nggak pegel."


"Santai berdiri seharian pun aku bisa kok. Langsung to the point aja ya. Kamu indigo sejak kapan?" tanya dimas.


"Emang perlu di jawab ya mas? Buat apa mas bertanya seperti itu?" tanya aris balik.


"Maaf sebelumnya aku hanya ingin tahu saja. Tidak harus di jawab juga kok."


"Aku udah seperti ini dari kecil mas. Tapi aku nggak tahu ini dari lahir atau muncul saat aku kecil." Ucap aris lalu mencoba membaca isi hati dimas


"Kira kira dia mau nggak ya aku ajak masuk organisasi?" isi hati dimas.


"Sepertinya bakatmu alami ris. Gimana kalau di asah." ucap dimas mulai mengarahkan pembicaraan ke organisasi nya.


"Lebih baik nggak usah deh mas. Aku juga sebenarnya nggak mau jadi indigo dan ingin jadi orang normal aja."


"Waduh kayaknya dia nggak mau nih." batin dimas.


"Loh kenapa? Kamu itu istimewa berbeda dari yang lain. Seharusnya kamu senang punya kelebihan daripada orang lain yang harus bersemedi atau tirakat untuk membuka mata batinnya."