INDIGO & 7

INDIGO & 7
Pertempuran dan orang licik.



Inilah saat yang kalian tunggu.


Perang pecah saat para jin muncul dari hutan menuju istana. Prajurit yang sudah siaga di kerahkan untuk menyerang siapa saja yang datang ke arah istana. Wulan,nawang,5 panglima ikut andil dalam pertempuran dahsyat itu. Mereka dengan mudah menghancurkan dan mencabik cabik jin yang mereka lawan. Wulan merasa ada aura besar mendekat dan jumlahnya ada 4. Wulan memberi komando untuk nawang dan para panglima untuk mundur dulu. Tapi sayang belum sempat mundur 4 bola api besar meluncur ke arah 4 panglima dan untung mereka sigap menghindar. Setelah 4 bola api itu hancur menghantam pohon muncul 4 sosok bertanduk.


"Putri wulan sepertinya itu adalah 4 jin terkuat yang memimpin aliansi jin." ucap panglima kumbang.


"Wulan sebaiknya segera kita mundur!" ajak nawang.


"Kakak mundur dulu saja lapor ke bunda biar aku yang menghalangi mereka."


"Kami akan ikut menghalau mereka!" ucap panglima kumbang.


"Tidak panglima kalian juga ikut kembali ke istana percayakan mereka padaku." perintah wulan.


"Tapi.."


"Tidak ada tapi cepat kembali ini perintah!" tegas wulan.


"Baiklah. Hati hati tuan putri bantuan akan segera tiba."


Dalam hati panglima kumbang berkata bahwa wulan memang punya kemampuan memimpin yang baik dan layak jadi ratu berikutnya.


Tiba di istana nawang memberi tahu kalau wulan sedang menghalau 4 jin kuat di medan perang. Ratu langsung murka kepada nawang dan para panglima karena bisa bisanya meninggalkan wulan sendirian. Dengan wajah merah bak bara api ratu galuh telah berubah jadi ular besar dan meluncur ke medan perang. Panglima yang tahu ratunya sedang murka segera mengejar dan menyuruh nawang berjaga di istana.


Di medan perang wulan telah bertarung dengan 4 jin itu dengan gagah berani ia menantang 4 jin itu. Efeknya tidak ragu lagi mereka menyerang silih berganti mengepung wulan. Wulan yang cerdik sengaja menghindar dan mencari celah yang pas untuk menjatuhkan mereka. Tapi prediksi wulan salah 4 jin itu bertarung tanpa celah walau wulan bergerak secepat apapun. Malah wulan yang terkena pukulan telak di dada saat mencoba menyerang mereka di titik buta.


Akibatnya wulan terpental menghantam para prajurit yang sedang bertarung. Setelah terpental wulan muntah darah dan merasa dadanya sakit sekali. Wulan baru sadar yang di hadapi bukan sembarang jin melainkan Jin yang memimpin aliansi jin.


"Anak kemarin sore coba coba mengelabuhi kami hahaha... melawan satu dari kami saja belum tentu kamu mampu. Berdirilah anak sombong biar ku putus tubuhmu dengan pedangku ini." Sosok itu mengeluarkan pedang dari belakang tubuhnya.


"Tenang daripada di potong lebih baik kita jadikan budak saja lihat dia cantik dan masih muda." Ucap Jin yang kepalanya seperti kambing.


"Menyerah lah dan ikut kami setelah perang berakhir." Ucap jin yang memukulnya tadi.


"Cuihh.. Aku tak sudi ikut kalian." wulan meludah ke samping dan berusaha bangkit.


"Sombong betul anak ini ayo kita musnahkan saja aku tak suka melihatnya lama lama." ucap jin berselimutkan api di tubuhnya.


"Biar aku yang maju!" ucap si kepala kambing.


Jin itu mengeluarkan palu lalu menyerang wulan yang sedang kesusahan berdiri. Tiba tiba seekor ular besar melilit wulan dan membawanya pergi. Ya itu ratu galuh yang membawa wulan lalu mengobati lukanya.


"Kenapa kau gegabah menghadapi mereka sendirian? Mereka bukan jin lemah yang bisa kamu lawan sendirian." Omel ratu ke wulan.


"Sudahlah pulihkan lukamu dan hancurkan jin jin kecil saja biar bunda,Patih,sunan dan sultan yang menghadapi jin sialan itu."


Panglima kumbang dan 4 panglima lain tiba di dekat ratu galuh.


"Kumbang,Maung,Jayadi,Abiyaksa ikut bersamaku ke medan perang. Resi Seto panggil sunan dan bala bantuan lain untuk menyerang sekarang. Tidak ada tapi!" Ucap ratu dengan tegas.


Resi seto segera menuju istana dan menemui sunan kalau sudah waktunya menyerang. Sunan bingung karena menurutnya ini sangat cepat. Sunan mengajak semua untuk menyerang tapi sultan hasanuddin menolak dan ingin menjaga istana saja khawatir dengan adanya bayu dan pak ustad. Sunan percaya pada sultan dan segera menuju medan perang. Beberapa menit mereka sudah sampai di tempat ratu galuh bertarung dengan 4 jin itu. Akhirnya ratu galuh melawan jin berselimut api itu. Sunan melawan jin bekepala kambing bersama anaknya. Patih melawan jin yang memukul wulan tadi bersama anaknya sultan. Sedangkan jin yang membawa pedang di keroyok oleh 9 panglima sekaligus tapi jin itu mampu mengimbangi walau kalah jumlah.


Tinggal dulu medan perang karena di istana sedang ada penyusup. Ayo kalian tebak siapakah dia? ......


Di istana bayu dan pak ustad menjaga erlin di kamarnya tiba tiba terdengar suara dan pintu ingin di buka paksa tapi berhubung pintu di konci oleh pak ustad jadi tidak bisa di buka.


"Hey yang di dalam cepat keluar atau jadi pengecut di dalam. Kita sedang di serang oleh musuh bantu kami." ucap suara dari luar sambil terus menggedor gedor pintu.


"Siapa kamu?" tanya pak ustad.


Aku panglima kumbang. Aku di suruh memanggil kalian oleh ratu."


Bayu yang mengamati pintu itu di gedor melihat sosok di balik pintu itu dan bayu tahu itu orang yang menghadangnya saat masuk istana tadi.


"Tunggu pak jangan di buka!" bisik bayu ke pak ustad.


"Kamu yang tadi menghalangi kami masuk istana bukan." ucap bayu yang membuat sosok di luar berhenti menggedor pintu.


"Rupanya hebat juga kamu anak kemarin sore." ucap sosok itu lalu brakkk pintu hancur di hancurkan sosok hitam besar bertaring dan berbulu lebat. Sejenis genderuwo tapi sosok itu jauh lebih mengerikan dan bayu tahu aura makhluk itu sangat hitam pekat.


Jika kalian menebak penyusup itu sultan yhup jawaban kalian tepat. Orang yang berdiri di belakang makhluk beraura hitam pekat itu adalah sultan hasanuddin.


Sultan tersenyum tipis setelah berhasil menghancurkan pintu kamar erlin di jaga bayu dan pak ustad. Pak ustad yang merasa terdesak mengeluarkan tasbih yang bentuknya unik lalu melemparnya ke atas dan muncul sosok pria memakai rompi tebal berwarna putih dan membawa pedang di tangan kiri serta pedang di tangan kanan.


"Hahaha... Buat apa kau memanggil jin lemah sepertinya." ucap sultan tertawa.


"Serang dia!" Perintah pak ustad ke makhluk yang baru muncul tadi.


Tapi sayang benar ucapan sultan jin yang di panggil pak ustad dalam sekejap sudah terlempar keluar istana menembus tembok. Sosok hitam itu berjalan mendekat dengan senyum tipis mengintimindasi siapapun yang melihatnya.


Sosok itu melihat ke arah erlin berbaring dengan tatapan tajam.


Bayu hanya bisa melihat tanpa bisa berbuat apa apa karena dia tidak bisa melawan makhluk ghoib. Kurang beberapa langkah sosok itu di depan erlin dari luar kamar ada suara teriakan. Ya itu suara sultan yang seperti di serang. Melihat sultan di serang sosok hitam itu seolah tak peduli dan sekarang sudah berada di samping wulan. Sosok itu mengeluarkan kuku tajam bagaikan pedang di tangan kanannya.