
"Njir lu tau kalau yang di ambil itu bulu sekaligus kulitnya? Gila bener dah." ucap bayu geleng geleng.
"Sumpah kalo itu gw nggak tau. Yang tau riski budi sama waluyo aja. Gw pikir juga cuma bulunya." ucap anggar tegas tanda dia serius.
"Oke oke gw percaya. Mampir kuburan bentar nggar buat nguburin ini. Ya kali gw bawa pulang dan gak mungkin besok karena pasti ada yang jaga." ucap bayu.
"Iya juga sih ya udah kita ke sana dulu deh." ucap anggar melajukan mobilnya.
Tiba di kuburan setengah 8 lebih dan bayu bergegas masuk membawa keranjang berisi bunga setaman dan di dalam bunga itu ada kotak tadi. Bayu sengaja tidak bawa alat menggali supaya warga sekitar nggak curiga. Tapi anggar yang bawa besi pipih di dalam jaketnya. Singkat cerita bayu segere menguburkan plastik berbau busuk dan berisi bulu itu bayu setelah itu menutupnya kembali. Setelah itu bayu cuci tangan dan meminta maaf karena lama dan anggar juga meminta maaf sebesar besarnya sampai dia nangis sesenggukan. Saat anggar menangis air matanya terjatuh ke kuburan nadia dan muncul sosok wanita berdres putih itu lalu berubah jadi sosok nadia yang cantik jelita ternyata ini toh bentuk sang primadona SMK Putra Bangsa angkatannya anggar. Pantas jadi rebutan banyak orang tapi sayangnya mati secara teragis. Buat readers yang merasa cantik dan banyak di puja atau di kejar banyak cowok selalu hati hati ya karena bahaya menanti di setiap langkahmu.
'Terima kasih bayu sudah mau menolongku untuk pergi dari dunia ini selamanya." ucap nadia lalu memudar tak terlihat lagi.
Bayu hanya menganggukkan kepala lalu mengajak anggar kembali ke mobil karena udah jam 8 lebih nanti bisa di marahi ibunya.
"Nggar tau rumah bu sudarti?" ucap bayu.
"Tau gw emang kenapa?" tanya anggar.
"Besok ajak sekalian ke makam nadia. Dia juga harus minta maaf. Kalau pak A kayaknya dia udah di tahan jadi nggak bisa di ajak." ucap bayu dan di iyakan oleh anggar.
Skip ke minggu pagi rencana pagi ke makan nadia bersama bu sudarti, miko, anggar, ibunya waluyo, anggi dan dino.
Sampai di makam sudah ada ibunya waluyo yang memang paling dekat dengan desa nadia.
"Assalamu'alaikum pagi bu. Ibu tahu dari siapa rencana kita?" tanya bayu heran.
"Kemarin malam anggar main ke rumah ibu dan menceritakan semua awalnya ibu nggak percaya tapi ketika anggar bilang 3 teman waluyo yang lain juga sudah meninggal ibu baru percaya dan ibu kesini ingin meminta maaf untuk waluyo nak. " ucap ibu waluyo.
Beberapa menit muncul anggi bersama dino tidak membawa anaknya.
"Pagi yu udah lama? Loh ibu😨ibunya mas waluyo ya?"
"Iya nak ibu ikut." ucap ibu waluyo tersenyum.
"Andi mana mas?" tanya bayu.
"Ohh andi di titipin ke ibunya anggi sekalian kangen katanya." ucap dino.
"Yu punya nomornya anggar? kalo punya telpon gih suruh cepet." perintah anggi.
"Punya mbak bentar." ucap bayu dan mengambil Hpnya di saku.
Beberapa kali telpon tidak di angkat dan muncul mobil honda civic putih. Mobil itu berhenti di dekat motornya anggi dan dino. Pintu mobil mewah itu terbuka dan muncul kepala tengil anggar dan di samping kemudi keluar bu sudarti dan miko di jog belakang.
"Hallo pagi semua." ucap anggar riang bukan anggar yang kemarin.
"Wah lebih dari itu. Gw dapet ketentraman hidup din wkwk." ucap anggar.
"Mik apa kabar?" tanya bayu.
"Baik mas. Mas bayu juga sehat kan." tanya balik miko sambil berjabat tangan.
"Sehat kok. Lu ikut di ajak anggar 😄" ucap bayu.
"Enggak bu sudarti yang ngajak. Katanya gw sebagai pengganti om anton yang sekarang udah di tahan." ucap miko.
"Harusnya hari ini gw belajar mas di rumah sampai sore. Besok kan ujian tapi karena bu sudarti janji in bakal naik kelas ya udah ngikut aja hehe.."
"Wah enak dong. Bu bayu pasti naik juga kan? Bantuin ya bayu kan beberapa hari ini sibuk ngurus masalah ini jadi bayu nggak belajar. aya bu ya.🥺" rayu bayu.
"Iya deh bisa di atur. Yuk masuk ngapain ngobrol di depan gapura makam gini. Bu aminah juga ikut ternyata." ucap bu sudarti.
"Iya bu kemarin di ajak anggar." ucap ibunya waluyo.
Mereka bertuju masuk menuju makamnya nadia.
"Assalamu'alaikum ya ahlil kubur teruntuk mu nadia amelia putri aku mewakili mas alan beserta bu sudarti, ibunya mas waluyo, Miko menggantikan pak anton, mas anggar, mbak anggi mewakili mas riski dan mas dino mewakili mas budi kami semua ingin meminta maaf atas kelakuan kami kepadamu sewaktu masih hidup.
"Iya nadia ibu mohon maaf ini semua kesalahan ibu yang sudah memberi tugas tambahan kepadamu. Jika tidak mungkin tidak seperti ini jadinya." ucap bu sudarti sampai meneteskan air mata.
"Saya sebagai ibu waluto juga ingin meminta maaf atas kesalahan anak saya kepada nak nadia. Mohon di maafkan agar anak saya bisa tenang. Semoga kamu juga tenang dan di beri tempat di sana." ucap ibu waluyo sekuat tenaga menahan air mata.
"Aku juga minta maaf ya nad atas kesalahan riski sewaktu hidup. Aku gagal menjaga riski." ucap anggi dengan nada sedih dan menahan tangis juga.
"Mbak nadia aku adiknya mas budi. Maaf mas budi tidak bisa secara langsung meminta maaf karena dia sudah meninggal satu tahun lalu. Tolong maafin mas budi ya mbak." Ucap dino dengan berusaha tegar tapi gagal karena ada setitik air mata yang jatuh.
"Aku miko keponakan pak anton ingin mbak nadia tenang di alam sana tidak lupa mohon maaf atas kelakuan omku ya mbak." ucap miko santai karena dia hanya mewakilkan.
"Aku tahu kok kamu sudah tenang dan bahagia di alam sana. Terima kasih atas senyummu yang indah malam tadi." ucap anggar menangis sejadi jadinya.
Bayu jadi panik kenapa dengan anggar lalu bayu segera berucap.
"Aku mewakilkan mas alan yang keluarganya udah pulang ke tempat asalnya. Mohon maaf ya mbak nadia atas kesalahan mas alan sebagai otak rencana jahanam itu. semoga mbak nadia tenang dan tidak menggangu orang di alam dunia lagi." ucap bayu lalu membawa anggar menjauh dari sana dan mendudukannya di kursi.
"Ada apa nggar kok nangis kejer gitu?" tanya bayu.
"Gue semalem mimpi yu. Mimpi nadia datengin gw tapi bukan nadia yang mengerikan. Nadia dateng dengan wajah cantiknya. Aku berdiri mematung lalu nadia datang mengelus pipiku dengan lembut dan berkata. 'Aku tahu kamu sangat menyangiku aku tahu kamu sering kasih uang adikku buat beli barang yang mereka suka. Aku juga tahu yang buatin rumah aku itu kamu bukan uang ibuku sendiri kan. Iya aku tahu rasa sayangmu begitu besar tapi sayang pergaulanmu yang membuatku menolakmu. Andai kamu menuruti kemauanku hidupmu tak akan seperti ini. Tapi karena rasa sayangku kepadamu aku tidak membunuhmu duluan. Aku meminta sisi jahatku membunuhmu di urutan terakhir dan berharap ada seseorang yang bisa membantu menyelesaikan masalah ini sampai tenang. Orang itu adalah bayu, dia yang mampu dan ternyata benar nyawamu terselamatkan. Semoga kamu tidak mengulangi kesalahan yang sama. Jangan lupa berterima kasih kepada bayu karena tanpanya mungkin kamu sudah bersamaku sekarang. Baiklah anggar aku pergi dulu. 👋👋😘' ucap nadia dan menghilang lantas anggar dan tersadar ternyata nadia juga punya perasaan yang sama dengannya.
...Lanjut chapter selanjutnya>>>...