INDIGO & 7

INDIGO & 7
Ki Ageng Ngliman.



Sekitar 30 menit pertarungan tapi belum ada salah satu yang terluka padahal wulan hanya menggunakan tangan kosong tapi ratu ular belum mampu menemukan titik lemah wulan.


"Kau mencari titik lemahku bukan. Tidak akan kau temukan Bughh..." wulan dalam sekejap sudah memukul wajah ratu ular.


Ratu ular yang terengah engah belum siap dengan serangan wulan barusan sehingga ratu ular terpental dan muntah darah. Pasukan ratu ular murka ketika ratu mereka di buat muntah darah. Pasukan ratu ular menyerang wulan di komandoi oleh ular cobra yang mengancam bayu tadi. Tapi sayang sang komando malah terkena ajian wulan yaitu gelap ngamar. Ya mereka semua terjebak di dimensi kegelapan ciptaan wulan.


"Teruntukmu siluman cobra ayo tunjukan ilmu yang kau punya! Katanya bisa mengalahkanku dengan mudah. Jangan cuma bisa membual." suara wulan menggema di ruangan itu.


"Tunjukan wujudmu jangan sembunyi aeperti pengecut." ucap silar cobra itu.


"Jika kau sakti pastinya kau bisa keluar dari ajianku ini bukan.


Ratu ular yang sudah bisa berdiri merasa menyesal telah melawan wulan lalu dia berkata.


"Baik aku menyerah aku telah kalah. Kau boleh di sini semaumun. Aku akui kau kuat wulan cepat kembalikan pasukanku."


"Bilangnya kalah tapi masih perintah perintah."


Wulan mengembalikan pasukan ratu siluman itu tapi tidak dengan siluman cobra.


"Sudah aku kembalikan bawa mereka kembali ke istana. Untuk siluman cobra aku akan mengembalikannya sewaktu waktu aku mau." ucap wulan dan matanya sudah kembali normal.


"Tapi..Baiklah terserah padamu kau apakan dia."


Ratu ular bersama pasukan ular yang jumlahnya sekitar 100 hilang tinggal wulan sendirian di sana.


"Hah.. 1 lawan segitu banyak kok bisa menang." Desis wulan yang sebenarnya merasa tak mampu melawan jika semua menyersng bersama. Tapi dari kecil wulan selalu di ajari oleh ibunya kalau sedang di medan perang simpan rasa takut dan keraguanmu rapat rapat dan tunjukan rasa keyakinan akan memenangkan pertarungan.


Skip pagi hari karena ratu ular tidak akan berani berbuat macam macam lagi. Bayu bangun pukul 5.00 karena ingin melihat sunrise di gunung bersama nafia.


Bayu mencari kameranya karena kamera hp di rasa kurang bagus hasilnya. Setelah dapat bayu keluar dan ternyata nafia baru keluar tenda juga.


"Yank udah bangun?" tanya nafia.


"Iya say kamu mau ngapain?" tanya bayu.


"Mau buang air sekalian cuci muka yank anterin ya." ucap nafia senang tidak seperti kemarin.


"Iya sayang tapi habis itu sekalian nunggu sunrise keluar ya say. Tuh kayaknya duduk di atas sana bsgus viewnya." ucap bayu sambil menunjuk dataran yang agak tinggi.


"Iya yank."


Selesai nafia buang air mereka cuci muka dan naik ke dataran yang agak tinggi itu lalu mereka duduk berdempetan tak lupa nafia menempelkan kepalanya ke pundak sebelah kanan bayu. Pagi itu terasa dunia milik berdua. Tak ada sepatah kata yang terucap seolah posisi saat ini adalah yang ternyaman.


Pukul 6.45 semburat sinar mulai nampak di sebelah timur.


"Yank ayuk kita foto dulu." ajak nafia dan bersiap selfi.


Setelah beberapa foto terjepret dengan kamera dan hp nafia. Memang hp nafia tergolong hp elit yang hasil fotonya tak kalah dengan foto kamera.


"Yank makasih ya udah bawa aku naik gunung. Viewnya indah banget aku suka." ucap nafia sambil melihat hasil jepretan foto tadi.


"Iya say apa sih yang enggak buat kamu. Kamu suka nggak?"


"Suka banget sayang. Nanti sampai rumah langsung aku cetak foto foto ini." ucap nafia girang.


"Udah ayuk turun sunrisenya udah selesai." ajak bayu.


"Gendong ya yank🥺." ucap nafia dengan wajah melasnya.


"Gapapa asal berdua sama kamu." Hap nafis sudah melompat ke punggung bayu.


"Udah pinter gombal ya sekarang." ucap bayu lalu membawa nafia turun.


Di bawah juga sepi sepertinya yang lain juga sedang mencari tempat terbaik untuk memotret Sunrise. Setelah beberapa menit rombongan pak juan datang tapi dengan wajah pucat semua seolah habis melihat setan. Cara jalan mereka saja kelihatan tergesa gesa. Sampai di tenda mereka langsung membongkarnya dan merapikan alat alat yang mereka bawa.


"Loh pak buru buru amat?" tanya bagas yang baru kembali.


"Iya mas keburu siang entar panas. Duluan mas." ucap pak juan berlalu bersama rombongannya.


"Gas kayaknya ada yang nggak beres deh. Lu lihat kan wajah mereka? Wajahnya pucet kayak ketakutan gitu.


"Bener sih kayaknya kita harus ngikutin mereka deh." ucap bagas.


"Itu tenda rombongan pak juan mana kok nggak ada?" tanya joy yang baru tiba.


"Bantu berkemas jo. Di jo rapihin tenda yang sedang yu rapihin tenda yang kecil. Cewek cewek rapihin peralatan masak dan lainnya jangan sampai ketinggalan.


Dalam waktu setengah jam semua barang sudah masuk ransel lalu mereka bergegas mengikuti rombongan pak juan semoga tidak terjadi apa apa. Karena terburu buru rahma terpeleset dan hampir jatuh ke jurang untung bagas sigap menangkap tangannya.


"Gas jangan buru buru lah kita bisa membahayakan diri kita sendiri demi orang lain. Lagian mereka juga udah jauh kayaknya." ucap joy ada benarnya juga.


"Iya juga ya." ucap bagas seperti tersadar.


"Yu." ucap wulan di samping telinga bayu.


Bayu yang kaget reflek menutup sebelah telinganya.


"Apa sih kebiasaan muncul tiba tiba." ucap bayu kesal.


"Raja baruklinting sepertinya tidak berpihak kepada kita lagi." ucap wulan.


"Kenapa bisa begitu?"


"Ini semua ulah ratu ular yang mengadu ke raja baruklinting. Sebaiknya kita cepat cepat supaya tidak bertemu raja baruklinting."


Skip sampai di pos pospan sekitar jam 10 dan di pos pospan rombongan pak juan dan rombongan yang tadi malam berangkat mendaki itu tergeletak pingsan di sekitar pos pospan.


"Eh kenapa ini kok pada tergeletak?" joy segera mengecek salah satu dari mereka di ikuti bagas joko,edi dan bayu.


"Kayaknya mereka cuma pingsan deh." ucap edi.


"Jon,di,yu diriin tenda yang besar kita bawa yang cewek dulu.


Tapi tiba2 wulan berkata.


" Yu ikut aku kita harus mencegah raja baruklinting tiba di sini."


"Kemana? Terus temen temenku gimana?" tanya bayu.


"Udah itu urusanku ayo kita pergi." ucap wulan menarik tangan bayu wusss bayu tidak bisa melihat kondisi sekeliling dan rasa mual di perutnya menjadi jadi. Setelah wulan berhenti bayu langsung muntah.


"Gila itu tadi apaan?" tanya bayu setelah muntah.


"Lihat ke depan!" perintah wulan tak menanggapi pertanyaan bayu.


"Hahhh siapa mereka?" ucap bayu heran dengan semua yang ada di depan mata seolah tidak percaya.