INDIGO & 7

INDIGO & 7
Welcome puncak.



Pagi itu rombongan bayu berangkat dengan bayu yang menyetir mobil. Saat nyetir bayu merasa di tarik bukan di tarik secara fisik tapi perasaannya yang di tarik seolah tak sabar ingin cepat sampai di tujuan. Sebab itu juga bayu melupakan nafia yang tidak ada kabar. Selain tarikan hati erlin juga menemani bayu dengan ngobrol kesana kemari sehingga bayu merasa enjoy. Sampai di cirebon bayu merasa ngantuk dan meminta bagas menggantikan. Singkat cerita mereka sudah melewati jakarta dan bagas menawarkan untuk mampir ke monas apa tidak sekedar foto foto. Tapi yang lain bilang pulangnya aja mampir. Akhirnya tiba juga mereka di cisarua dan bagas mencari villa milik keluarga sinta.


"Sin yakin lewat sini? Ini jalan nya ngepres lo muat 1 mobil aja kalau buat simpangan motor aja nggak muat." tanya bagas.


"Lu ngantuk apa gimana? Tuh lihat rambutnya." sinta menunjuk rambu yang menunjukan panah ke atas.


"Oh iya juga ya. Terus ini masih jauh nggak?" tanya bagas lagi.


"Kurang 1 Km lagi gas. Nanti ada villa namanya villa kencana kanan jalan langsung masuk aja." jelas sinta.


"Oke oke. Yang lain bangunin biar gk kaget nanti pas turun.


Di saat masuk cisarua tadi bayu tertidur dan mimpi di datangi seseorang.


"Siapa kamu membawa peliharaan ke wilayah ku tanpa seijin ku." ucap seorang pria brewok dengan wajah galak.


Bayu yang di tunjuk clingukan mencari apa yang di maksud orang itu.


"Maaf pak apa yang bapak maksud dan saya berada di mana?" tanya balik bayu.


"Alah jangan belaga bodoh aku tahu kamu membawa seekor harimau dan siluman ular kan. Dari jauh sudah kupantau cepat keluarkan peliharaan atau penjagamu dan mintalah ijin kepadaku."


Bayu masih bingung dengan ucapan orang brewok ini siapa harimau dan siapa ular siluman yang dia bawa.


"Baiklah akan aku paksa keluar." Orang itu berubah jadi seperti gorila berbulu hitam bertaring tinggi tapi tingginya tidak sampai 2 meter. Saat dia membaca mantra nawang muncul dan berkata ke bayu.


"Sebaiknya kita pergi!" Nawang menarik tangan bayu lalu bayu terbangun ketika erlin membangunkan nya.


"Bentar lagi sampai." ucap erlin.


"Hmm iya lin."


Tak berselang lama setelah bayu bangun mobil sudah berhenti di sebuah halaman villa yang megah dengan tembok bercat putih.


"Akhirnya sampai juga." ucap teman teman bayu.


"Ka temenin gw nyari penjaga villa yuk." sinta dan sekar berjalan ke rumah kecil di depan villa ini.


"Wah sejuk ya udaranya di sini."


"Iya walau malang juga masih sejuk tapi ini lebih dingin padahal belum ada jam 3 loh.".


"Guys kenalin ini pak kosim penjaga villa ini. Pak ini teman teman sinta."


"Nah ini lantai 1 ada ruang TV,ruang tamu,dapur di belakang jadi satu dengan ruang makan. Di pojok kamar mandi terus kamarnya ada 4 kalau di lantai 2 ini cuma ada 2 kamar dan 2 ruang kosong tidak terpakai biasa di jadikan tempat ibadah atau tempat ritual semacam ilmu spiritual gitu. Nah jika kalian butuh ruangan itu bilang ke saya karena ruang itu di kunci. Nah kalau di belakang villa ada kolam renang ini dengan kedalaman cuma 1,5 meter saja. Ada yang di tanyakan mas mbaknya?" Semua menggeleng dan mereka kembali ke halaman depan yang cowok saja untuk menurunkan barang barang. Saat bayu mengambil barang barang dan bersiap masuk ada seseorang mengintip di kamar atau ruang kosong yang di bilang pak kosim tadi. Bayu yang sempat terdiam sejenak lanjut berjalan dan saat masuk ke dalam tiba2 joni yang membawa 2 koper tersandung sesuatu dan bayu dengan jelas melihat anak kecil menjegal joni. Joni yang jatuh mengaduh kesakitan dan kakinya sakit karena keseleo. Untung saja setelah menjegal joni anak kecil itu tidak berbuat lebih mungkin takut melihat bayu sampai dia lari terbirit birit naik ke lantai atas.


"Anjing kesandung apaan gw aduh kaki gw sakit."


"Heh jaga ucapan lu jon." ucap sekar.


"Iya iya tapi aneh nggak sih lu liat nggak apa yang ngebuat gw jatuh? nggak ada kan tapi noh liat kaki gw sampai membiru gini. Bagas baru turun dari lantai atas dan melihat joni terduduk kesakitan di lantai.


"Kenapa lu jon?" tanya bagas.


"Pake nanya emang lu nggak tahu gw jatuh."


"Udah tenang rilex jangan kaku gitu gw coba pijit." Dan kletuk.. suara tulang bergeser.


"Nah udah beres. Tapi jangan di pakai jalan dulu. Yu bantuin gw mapah joni ke kamar lantai atas.


Sampai di kamar kaki joni di perban di suruh diam jangan kemana mana supaya rasa sakitnya cepat hilang. Barang semua sudah masuk dan sekarang mereka kumpul di ruang tengah depan tv. Sedang asik ngobrol tiba tiba erlin berbisik ke bayu.


"Yu kok aku nggak nyaman ya di sini kayak di awasi gitu." ucap erlin.


"Hmm iya lin kamu nggak lagi halangan kan?" tanya bayu.


"Enggak sih tapi kemungkinan minggu depan kenapa?"


"Kalau halangan bilang y biar aku jaga lebih ketat. Yang lain juga kalau halangan lapor ke aku."


"Alhamdulillah kalau gitu. Iya nanti tak kasih info."


Singkat cerita malam itu joni di pindah ke kamar bawah saja karena kakinya bengkak. Akhirnya di lantai atas hanya bayu dan bagas yang menempati. Sekar bersama sinta,arum bersama rahma dan yeni bersama erlin. Gembul awalnya satu kamar sama joni tapi menjelang tidur gembul malah naik ke lantai 2 dan mengetuk pintu kamar bayu dan bagas.


"Ada apa mbul bukannya tidur malah ke sini." tanya bagas membuka pintu.


"Anu gas di bawah serem gw ikut di sini ya. Tidur di lantai gpp." ucap gembul dengan wajah pucat. Bagas mengetahui gembul nggak bohong jadi dia menggelar kasur lantai buat gembul. Karena bagas nggak mau jadi parno gembul tidak di tanya tentang apa yang membuatnya takut. Di saat gembul ketakutan bayu malah sibuk memikirkan nafia yang tak kunjung on. Puluhan chat dari bayu hanya terkirim tapi tidak terbaca satupun. Bayu bingung ingin menghubungi siapa karena dia nggak punya nomor teman teman nafia. Sedang pusing pusingnya malah nawang muncul.


"Aku merasa ada yang tidak beres di kota malang aku akan ke sana tapi aku tidak janji kembali soalnya di sini tenagaku terkuras walau tidak bertarung."


Bayu hanya mengangguk lalu menyuruh nawang mencari tahu keberadaan nafia sekalian. Setelah nawang mengerti dia segera menghilang.


"Sayang sebenarnya apa yang terjadi."