
Di saat makhluk hitam itu ingin menyerang erlin keluar harimau yang menyerang makhluk hitam itu. Harimau itu berasal dari tubuh bayu, Tapi setelah harimau itu keluar pak ustad dan bayu dalam sekejap pingsan tak sadarkan diri seolah munculnya tak ingin di lihat orang lain. Harimau berwarna putih itu menyerang terus menerus tak memberi celah sedikitpun kepada musuh. Makhluk hitam itu pun akhirnya kalah dan hancur jadi abu. Setelah itu harimau kembali ke tubuh bayu.
Di sisi lain ratu galuh berhasil memukul sosok berselimut api dengan ekornya yang besar. Sosok itu lalu di lilit sampai hancur. Sunan dan anaknya juga berhasil memotong jin berkepala kambing itu dengan bantuan pedang yang entah di beri nama apa oleh sunan. Di sisi lain patih kuwalahan menghadapi jin hitam besar itu. Sampai akhirnya sunan dan anaknya membantu. Sunan membaca do'a yang membuat jin itu kepanasan dan saat jin itu lengah anak sunan yaitu raden rahmat langsung menusuk dada sosok itu dan setelah di tusuk jin itu hangus menjadi abu. Di tempat lain 9 panglima masih terus menyerang musuh mereka tapi sia sia sosok itu seperti kebal senjata maupun cakar harimau. Wulan yang sudah sembuh ingin membantu tapi firasatnya berkata istana sedang dalam bahaya. Firasat itu di jawab oleh bundanya dengan sebuah perintah.
"Kembalilah ke istana biar bunda yang membantu para,panglima."
"Baik bunda."
Dengan ajian saipih angin wulan bergegas menuju istana teryata benar banyak prajurit tergeletak di halaman istana sampai di dalam istana. Wulan mendengar suara pertarungan lalu wulan segera menuju sumber suara itu ternyata asal suara itu berasal dari nawang yang sedang melawan sultan di dekat ruangan erlin berada. Wulan melesat dan memisahkan keduanya.
"Stop ada apa ini mengapa kalian bertarung?"
"Dia menyerang istana dia juga membunub para prajurit. Dia bersekutu dengan jin jahat." teriak nawang marah.
"Bohong aku tadi melihatnya mengendap endap kesini entah apa tujuannya. Saat aku tanya dia menyerangku." ucap sultan bersilat lidah.
"Dasar manusia berhati iblis mati saja kau." ucap nawang dan kembali menyerang sultan.
Wulan heran mengapa kakaknya begitu murka seperti itu padahal biasanya dia bodo amat. Wulan jadi bingung siapa yang berbohong. Tapi wulan teringat ucapan eyang kawi bahwa di antara orang baik yang membantu ada musuh. Ya sekarang wulan tahu harus membela siapa.
Tangan wulan mengeluarkan api lalu api itu seperti melapisi tangan wulan. Dengan gerakan cepat wulan meluncur dan Bughh...Pukulan bersarang di dada sultan yang membuatnya terpental menghantam 3 dinding di belakangnya.
Sultan yang terkena pukulan wulan dadanya perlahan berlubang dan anehnya dengan kondisi seperti itu dia masih bisa berdiri tegak.
"Wah wah jadi anak kecil sepertimu sudah menguwasai ilmu tapak geni ya. Hebat hebat๐๐"
Luka di dadanya perlahan sembuh sendiri hanya meninggalkan kulit berwarna hitam saja.
Di saat wulan dan nawang terdiam sekelebat bayangan menyerang sultan. Sultan yang tidak siap langsung terjatuh ke belakang.
Ternyata sosok hitam itu adalah raja genderuwo yang keluar dari tahanannya.
"Malah diem bantu bunuh orang Ba**ngan ini!" ucap raja genderuwo.
"Dengan apa dia bisa di bunuh? Dada berlubang saja dia masih hidup."
"Potong setengah tubuhnya dan gantung di seberang sungai cepat!" teriak raja genderuwo yang masih terlibat pertarungan sengit.
Dari luar muncul sunan bersama anaknya. Tahu sultan di serang sunan coba membantu tapi wulan berkata. "Sunan jangan bantu dia. Dia berhianat pada kita dan bersekutu dengan jin jahat."
"Tidak mungkin sultan seperti itu."
"Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri kalau sultan membunuh banyak prajurit dan menyerang ke kamar itu." ucap nawang tegas.
Saat mereka berdebat raja genderuwo di lempar oleh sultan.
"Huahaha... memang kali ini aku gagal tapi lain kali akan kubunuh anak itu setelah lahir." ucap sosok sultan lalu menghilang hanya tinggal asap hitam saja.
Mendengar ucapan itu wulan berlari ke dalam kamar dan membawa bayu beserta pak ustad keluar istana sedangkan nawang bersama sunan membawa erlin.
Tepat saat mereka berlima keluar rombongan ratu dan yang lain datang.
"Ada apa ini kok mereka di bawa keluar..." ucapan ratu di potong wulan.
"Ada yang berhianat bun." ucap nawang.
"Sekarang istana di sebar asap beracun oleh sultan." ucap wulan.
"Hah sultan?" ratu kaget dan lainnya.
"Apa? Ayah berhianat? Tidak mungkin ayah berhianat. Ayah orang yang bertanggung jawab dan punya jiwa pemimpin." ucap raden burhan sambil meneteskan air mata.
"Ohh iya raja genderuwo masih di dalam loh." Ucap nawang mengingat sesuatu.
"Benar kenapa dia tidak ikut keluar?" tanya sunan setelah dari tadi diam.
"Raja genderuwo? Diakan di tahanan mana bisa keluar." Ucap ratu lalu masuk ke dalam istana karena takut istana di buat kacau oleh jin sialan itu.
"Tunggu bunda!" ucap wulan dan nawang mengejar ratu galuh masuk di ikuti yang lainnya.
Di dalam istana asap beracun sudah tidak ada begitu juga raja genderuwo yang tidak nampak keberadaanya. Di tembok terdapat kertas yang di ambil oleh ratu galuh.
"Mohon maaf sempat membuat kekacauan tempo hari. Teruntuk ratu galuh kutitipkan anakku jagalah dia di istanamu jadikan dia panglimat tempurmu yang terkuat. Berilah nama untuk anakku Dewata karena dia laki laki. Saat surat ini di baca aku entah sudah hancur bersama racun mematikan ini atau aku selamat entah di mana. Yang jelas racun ini kubawa sangat jauh. Jaga anakku baik baik Ratu Galuh Pandhita. Aku pergi."
Itulah isi surat dari raja genderuwo.
Ternyata asap beracun itu di bawa oleh raja genderuwo ke tempat yang sangat jauh dengan resiko dirinya yang akan mati bersama asap itu.
"Setyo aji sudah kuduga kau tak sejahat yang aku kira. Aku yang seharusnya meminta maaf kepada telah membuatmu salah jalan." Ucap ratu galuh sambil jatuh tertunduk menangis di atas secarik kertas itu.
Wulan yang melihat ibunya menangis jadi bingung
sekaligus heran begitu juga nawang yang belum pernah melihat ibunya sesedih itu.
"Bunda kenapa menangis tiba tiba?" tanya wulan.
"Iya bun ada apa ceritakan kepada kami!" pinta nawang.
"Tidak apa bunda hanya terharu kita sudah memenangkan perang. Raja genderuwo tidak perlu di cari dia sudah pergi entah kemana. Ayo semua kita makan bersama. Wulan tolong antar bayu ke rumahnya dan orang itu juga sepertinya raga keduanya sudah tak kuat terlalu lama kosong." ucap bunda ratu dan menggenggam kertas di tangannya dengan erat.
Wulan memperhatikan itu semua dan merasa ibunya sedang menyembunyikan sesuatu tapi itu akan di urusnya nanti yang terpenting sukma bayu dan pak ustad pulang dulu.