
" Apa kau sudah siap?"tanya Dimitri sambil mengulurkan tangannya kepada Aresta.
Aresta menerimanya dengan baik dan lebih memilih memeluk lengan Dimitri. Kemudian mereka berdua dari kamar bersama-sama saat di perjalanan hanya ada suasana canggung.
Dimitri yang terus memperhatikan kecantikan Aresta dan wajah Aresta yang merona.
Saat sampai di depan pintu ruang makan Dimitri dan Aresta melihat Silas yang sudah menunggu.
" Silas." ucap Aresta memanggil putera nya yang tampak sibuk melamun.
Sebenarnya Aresta sedikit khawatir dengan psikologi anaknya. Setelah mereka sampai di istana entah kenapa Silas seakan menutupi dirinya lagi dan tidak mau menceritakannya kepadanya. Seakan Aresta merupakan seorang ibu yang gagal.
Sedangkan Silas yang tampaknya tersadar dari lamunannya melihat Father dan Mother nya langsung tersenyum tipis sambil berjalan menuju ke arahnya.
" Father dan Mother akhirnya kalian sampai juga, kalian aku sudah bosan menunggu." ucap Silas dengan memperlihatkan ekspresi bosannya.
Membuat Dimitri yang melihat nya tertawa dan menggendongnya.
" Maafkan Father, jadi apa kalian sudah siap masuk ke dalam?" tanya Dimitri sambil melirik Aresta dan Silas secara bergantian.
" Ya/ Tentu saja." ucap Aresta dan Silas menjawab secara bersamaan dan berbeda.
Dimitri yang mendengarnya menggangguk kepalanya sebelum kemudian kembali memeluk pinggang Aresta sempat terlepas ketika menggendong Silas.
Pandangan Dimitri yang awalnya lembut dan hangat berubah menjadi dingin ketika berhadapan dengan seorang penjaga pintu.
Penjaga pintu yang mengerti arti tatapan Raja langsung membuka pintunya dengan perlahan.
Ekspresi Aresta seketika pucat mengingat dirinya sama sekali tidak mau bertemu dengan orang yang membunuh nya di kehidupan sebelumnya.
Aresta yang melihatnya merasa hatinya sedikit hangat. Apa dirinya sudah mulai menaruh perasaan kepada sang Raja, ayah dari puteranya, pria yang selama 7 tahun di hindari nya.
Dimitri yang melihat bahwa ibunya sudah sampai terlebih dahulu hanya berekspresi datar saja. Sebab ibunya membawa wanita yang merupakan orang dibencinya sekarang. Mantan tunangannya yang masih bersikeras untuk menikah dengannya.
Beda dengan Julie yang melihat kedatangan Dimitri ekspresi nya langsung sumringah dan berjalan dengan cepat menghampirinya.
" Dimi, akhirnya kau sampai ayo aku akan membantumu." ucap Julie berniat menyentuh tangan Dimitri yang sedang menggendong Silas.
Tentu saja Dimitri langsung memundurkan langkahnya dan menatap jijik Julie.
" Buat apa kau berada di sini bukannya sudah saya bilang anda tidak akan di perkenankan datang ke istana." ucap Dimitri dengan dingin.
Setelah mengatakan itu tiba-tiba suhu di ruang makan menjadi dingin membuat Aresta yang melihatnya sedikit ketakutan dengan aura di keluarkan Dimitri.
Silas yang berada di gendongan Dimitri menaruh kepalanya di bahu nya seolah-olah tidak berani melihat kemarahan ayahnya. Tapi sebenarnya Silas sedang menahan tawanya melihat ketakutan Julie kepada ayahnya.
" Kau rasakan itu aku akan membuatmu semakin menjauh." batin Silas.
Tapi sepertinya Dimitri salah paham ketika dirinya merasakan tubuh Silas gemetaran. Hal itu membuat kemarahannya sedikit mereda dan Aresta yang memegang bahunya membuat kemarahannya hilang. Sayangnya tatapan terus dilayangkan Dimitri untuk Julie.
" Maafkan saya Dimi, Tapi aku ingin menghabiskan waktu bersamamu. Aku sangat merindukanmu ibu ratu juga mendukung kita. Jadi kita bisa berkencan di luar." ucap Julie sambil mengedipkan matanya.
Membuat Aresta, Dimitri, dan Silas menatapnya bingung sekaligus geli.
" Sepertinya dia sakit mata." batin mereka bertiga entah mengapa bisa bersamaan.
Countine...