I Want To See My Son Again

I Want To See My Son Again
Chapter 109



" Silas, apa kau baik-baik saja nak?" tanya Dimitri melihat ekspresi wajah Silas yang pucat


Silas yang mendengarnya tubuhnya sedikit kaku sebelum kemudian tersenyum polos di hadapan Dimitri. Karena sampai kapanpun dirinya tidak akan menceritakan kehidupan pahitnya di masa lalu.


" Tidak ada masalah, Silas cuma khawatir kalau Mother akan dalam keadaan bahaya saja. Silas bersyukur bahwa Mother baik-baik saja." ucap Silas yang menutupi nya dengan berbicara masuk akal.


Dimitri yang mendengarnya menggangguk kepalanya karena dirinya melihat Aresta sudah bangun.


" Dimana aku?" tanya Aresta dengan suara serak.


Melihatnya Dimitri langsung mengambil Aresta segelas air dan menyerahkannya.


" Minumlah pelan-pelan saja." ucap Dimitri sambil membantu Aresta minum.


Aresta langsung meminum air sampai habis jujur saja tenggorokan nya merasa sakit.


" Terima kasih." ucap Aresta sambil tersenyum tipis pada Dimitri.


Dimitri yang mendengarnya hanya memberikan senyumannya dan menaruh gelas itu di atas nakas dekat ranjang.


Silas berusaha menaiki ranjang Dimitri langsung membantu nya mendudukkan nya di samping Aresta.


" Apa kau sudah baik-baik saja sayang?" tanya Dimitri dengan nada khawatir.


" Aku sudah baik-baik saja, Jadi bagaimana dia bisa masuk dan siapa yang ia incar?" tanya Aresta sambil memiringkan kepalanya mengingat penembakan di ruang konferensi pers tadi.


Dimitri memilih duduk di tepi ranjang sambil meletakkan kepala Aresta di bahunya membiarkan menyandar.


" Mereka mengincar nyawa Silas mengingat karena dia sekarang status pangeran mahkota. Mereka ingin membuatku hancur melalui kematian puteraku." ucap Dimitri mengepalkan tangannya mengingat bagaimana penembak itu sebenarnya mengincar Silas.


Sedangkan Aresta mendengar nyawa anaknya kembali terancam langsung memeluknya dengan erat. Tidak untuk kedua kalinya Aresta tidak mau kehilangan atau di pisahkan oleh Silas. Menurutnya hidupnya berjuang untuk Silas membahagiakan nya yang tidak bisa Aresta lakukan di kehidupan sebelumnya.


" Dimitri tolong apa kau berbohong ini tidak lucu." ucap Aresta tidak mau percaya dengan ucapan Dimitri.


Dimitri yang mendengarnya hanya diam sebelum kemudian memilih memeluk Aresta dan Silas.


" Aku bukannya sudah berjanji akan melindungi kalian meskipun nyawaku dalam bahaya. Cukup kebodohan di kehidupan sebelumnya yang menyia-nyiakan kalian dan kalian sepertinya aku mengeluarkan taringku untuk melawan kalian." ucap Dimitri dengan pandangan dingin seperti es.


...****************...


Sedangkan di sisi lain pria paruh baya merasa frustasi karena gagal melenyapkan ahli waris Epitopia.


" Aku gagal lagi untuk melenyapkan nya apa orang ku yang sudah menjadi bodoh atau ayah anak itu yang lebih pintar." ucap pria paruh baya itu.


Tok...Tok...


" Tuan saya membawa sebuah kabar." ucap seseorang di balik pintu.


" Masuklah." ucap pria paruh baya itu mengijinkan orang itu masuk.


Tidak lama setelah pintu kantor nya terbuka dan masuklah seorang wanita berpakaian seksi berjalan dengan menatap pria itu dengan penuh nafsu.


" Jadi kabar apa yang kau bawa hari ini." ucap pria itu sambil mengisap rokok.


" Sepertinya mereka tidak menyadari apa yang terjadi beberapa jam itu, dan orang suruhan kita mati di tangan Raja Dimitri...Jadi apa yang harus kita lakukan Mr....


Countine...