I Want To See My Son Again

I Want To See My Son Again
Pin



Sore harinya Aresta mengajak Silas untuk berbelanja bahan makanan di supermarket. Sebenarnya Silas malas menemani Aresta untuk ke sana mengingat seumur hidupnya kecuali kehidupan sekarang tidak sekalipun menginjakkan kakinya ke tempat supermarket karena bahan makanan nya selalu tersedia bahkan sangat mewah.


Tentu saja mendapatkan ingatan masa kecilnya yang ketika berusia 2 tahun menemani Aresta berbelanja dengan dia yang masuk ke dalam troli memikirkan itu serasa harga diri Silas yang sudah dewasa terluka.


Awalnya Silas menolaknya sayangnya apa dirinya terlalu sayang sama Mother nya atau Aresta yang terlalu pintar menggunakan senjata nya untuk membujuk Silas untuk ikut.


" Jika Silas tidak mau ikut Mommy tidak akan membelikan sekantung marshmellow dan susu kesukaan mu Silas." ucap Aresta sambil tersenyum.


Mendengar makanan manis kesukaannya di sebut membuat Silas tidak berdaya menolaknya.


Dengan tampang wajah malas nya Silas berjalan di samping Aresta yang sedang mendorong troli berisi bahan makanan.


" Kita masih membutuhkan ayam, anggur, dan brokoli." ucap Aresta yang membaca daftar belanjanya hari ini.


Mendengar nama brokoli membuat Silas merasa jijik karena dia tidak suka sayuran itu dan pihak istana tidak menyediakan menu makanan dari berbahan brokoli.


" Mother, bagaimana kalau brokoli nya tidak usah beli lebih baik kita beli wortel saja." ucap Silas yang berusaha melarang Aresta membeli brokoli.


Apalagi Silas baru sadar di tangan Aresta sedang memegang seikat brokoli hijau segar.


" Mengapa tidak brokoli sehat untuk pertumbuhan mu Silas, dan bukannya kita sudah membeli wortel itu ada di sana." ucap Aresta sambil menunjuk beberapa wortel berada di dalam troli.


" Sial." umpat Silas yang gagal mencegah Mother nya membeli brokoli.


Entah mengapa Aresta merasa ada seseorang memperhatikan mereka dari jauh membuat nya membalikan badannya dan segera bernafas lega ketika tidak seorangpun yang mencurigakan berada di belakangnya.


Melihat tingkah aneh dari Aresta membuat Silas membalikan badannya emang tidak ada yang mencurigakan dari orang-orang di belakangnya. Tetapi jika di perhatikan dengan jeli Silas bisa melihat dua orang berpakaian setelan jas rapi dengan sebuah alat komunikasi di telinganya dan Silas terkejut melihat sebuah pin berlambang kuda bermahkota berada di dada dua orang itu.


" Mother kita harus segera pergi ada pasukan istana yang sedang mengintai dari arah jam dua." ucap Silas dengan pelan kepada Aresta.


Aresta yang mendengarnya sedikit melihat ke arah jam dua dan benar saja ada dua orang yang memperhatikannya dengan pin istana Epitopia.


" Benar lebih baik kita selesaikan belanja sampai di sini saja dan berusaha bersikap biasa saja Silas." ucap Aresta dengan gugup berusaha bersikap tenang sambil bertanya dalam hati buat apa pasukan istana mengintai mereka.


Silas mendengarnya menggangguk sambil mengambil sebungkus petasan yang berada tidak jauh dari tempatnya berdiri. Aresta dan Silas berjalan dengan tenang sampai di tempat pembayaran mereka masih melihat beberapa orang yang berpakaian sama turun dari sebuah mobil hitam.


Selesai membayar Aresta mengambil sebuah kain panjang yang bisa menutupi wajahnya dan memberikan topi yang berada di dalam tasnya untuk di pakai Silas.


Memang Aresta sering membawa benda seperti ini supaya tidak terlihat oleh orang-orang masa lalunya sendiri.


" Ready." ucap Aresta sambil melirik ke arah Silas.


" Ready Mom semoga saja pria licik itu tidak berada di sini. Jika tidak habis kita karena ....


Countine...