
Setelah pertengkaran mereka di kamar tadi Dimitri memutuskan untuk berada di bagian ruang tengah. Untungnya saja Dimitri mengambil sebuah suit yang mahal dimana ada tiga kamar dan ruang tengah sekaligus dapur kecil untuk membuat kopi. Jadi dia tidak perlu repot untuk memesan kopi di bawah.
Saat ini Dimitri sedang mengerjakan pekerjaan negaranya yang belum selesai. Meskipun sekarang dia sekarang berada jauh dari kerajaan nya tapi ia tidak bisa melepaskan tanggung jawab nya begitu saja dan dia juga tidak bodoh untuk menyerahkan tanggung jawab sementara kepada ibu kandungnya. Ia menyuruh asisten keduanya untuk mengirimi dokumen file lewat email dan melakukan rapat lewat video call.
Untuk sementara ketika dia tidak ada di istana ibunya penanggung jawab istana dan sementara tinggal di sana.
Ceklek...
Silas yang baru saja keluar dari kamarnya untuk mengambil minum di dapur mini melihat ayah kandungnya sedang duduk sambil memangku laptop di pahanya. Ia bisa melihat wajahnya yang tampak kelelahan membuat hati Silas tergerak untuk membuatkannya kopi. Memutuskan untuk membuatnya tapi ini bukan untuk menunjukkan terima kasih atas di mall tadi. Ketika mesin kopinya sudah panas Silas langsung menuangkan nya di atas cangkir. Ia begitu tidak menyukai bertapa kecilnya dirinya saat ini sampai-sampai ia harus menaiki kursi untuk menyampai pantry.
Silas yang sedikit ceroboh hampir saja menjatuhkan cangkir jika saja Dimitri tidak menangkapnya.
" Apa yang kau Silas, Untung saja Ayah bisa menangkapnya jika tidak kakimu akan terluka. Jika kau ingin membuat minuman ayah bisa membantu jadi tidak perlu melakukannya sendiri." ucap Dimitri yang mengomeli Silas.
Silas menundukkan kepalanya mengakui kesalahannya yang begitu ceroboh. Entah kenapa kemana sifat sempurna nya dulu apa sudah di kalahkan sikap kekanakan nya. Bahkan dia sudah tidak memiliki sifat dingin nya lagi itu membuatnya sedikit kecewa.
" Aku cuma ingin membawakan kopi untukmu. Tapi anda jangan salah paham aku melakukannya hanya ingin mengucapkan terima kasih atas jalan-jalan tadi di mall." ucap Silas sambil memalingkan wajahnya.
Dimitri yang mendengarnya terkejut sebelum kemudian tiba-tiba saja dia tertawa keras membuat Silas melihatnya merasa jengkel.
Melihat sikap jengkel Silas membuat Dimitri tertawanya semakin keras.
Silas langsung memasang wajah cemberut mendengar Dimitri meledeknya.
" Ingat aku tidak akan membuatkan kopi untukmu dasar menyebalkan." ucap Silas yang berjalan memasuki kamarnya sambil menghentakkan kakinya dan membanting pintunya dengan keras.
BRAK...
Dimitri yang melihat Silas marah kepadanya hanya menggelengkan kepalanya. Tapi ia tidak bisa pungkiri dirinya merasa senang dengan sikap kepedulian Silas kepadanya sebentar lagi pasti anak itu akan luluh kepadanya. Pandangannya tertuju ke arah kopi yang panas di meja pantry Dimitri mengambil cangkir itu dan meminumnya seutas senyum terbit di wajahnya ketika merasakan kopi buatan anaknya.
" Terima kasih." ucap Dimitri dengan pelan.
...****************...
" BAGAIMANA BISA PUTERAKU BERSAMA WANITA ITU." ucap seseorang yang berteriak lewat video call.
" Maafkan saya, Yang Mulia. tapi Raja sendiri yang bilang begitu saya tidak bisa berbuat apapun kepada wanita itu daripada nyawa saya terancam sekali lagu maafkan saya." ucap Countess sambil membungkuk kepada seseorang.
" SAYA TIDAK PEDULI BAGAIMANA PUN SINGKIRKAN WANITA ITU BESERTA PUTERANYA ATAU NYAWA MU BESERTA PUTERA TERSAYANG ITU MATI...
Countine...