
ARESTA." ucap Dimitri yang langsung belari menghampiri Aresta.
" Aresta...bangun...Aresta...." ucap Dimitri yang berusaha membangunkan Aresta dengan menepuk pipinya.
Sayangnya hal itu tidak membuah hasil langsung saja setelah itu Dimitri menggendong Aresta ala bridal style dan membawanya ke rumah sakit.
" Rey...siapkan mobil dan pastikan jalanan tidak macet." ucap Dimitri kepada Reymond yang berada di depannya.
Reymond yang mendengarnya langsung menggangguk kepalanya dan memanggil petugas hotel untuk menyiapkan mobil. Sedangkan Silas yang merasa terganggu bangun dari tidurnya bertapa terkejutnya ia melihat kondisi Mother nya yang berada di gendongan Father nya dengan berdarah.
" Mom... bagaimana ini terjadi Mom...mom..." ucap Silas yang berteriak berusaha membangunkan Aresta.
Dimitri yang melihat nya merasa sedih tapi terpenting sekarang menyelamatkan nyawa Aresta.
" Silas lebih baik kau berada di sini saja, Father akan membawa Mommy ke rumah sakit." ucap Dimitri yang menyuruh Silas tetap tinggal sebab takut membuatnya trauma.
" Tidak...Father ku mohon izinkan aku ikut. Aku tidak mau kehilangan Mother." ucap Silas dengan ekspresi serius.
Silas tidak mau kehilangan Mother nya untuk kedua kalinya. Ketakutan nya terbesarnya kehilangan Mother nya.
Dimitri yang melihat nya langsung menggangguk kepalanya dan membawa Aresta segera ke mobil. Dengan kecepatan tinggi sopir mengendarai mobilnya dengan Dimitri, Silas dan Aresta di belakangnya. Berusaha Dimitri menekan luka di perut Aresta untuk mencegah darah banyak keluar.
Setelah lima belas menit berlalu akhirnya mobil berhenti di rumah sakit langsung saja Dimitri menggendong Aresta dengan Silas ikut di belakangnya
" DOKTER." ucap Dimitri memanggil Dokter yang sudah siap di ruang UGD.
Dokter yang mendengarnya langsung menyiapkan tempat Aresta untuk di baringkan dan dibawa masuk ke dalam.
" Maaf, Tuan anda tidak boleh masuk. Kami akan semampu mungkin untuk menyelamatkan pasien." ucap Suster tersebut sebelum menutup pintunya.
Dimitri yang menunggu di luar merasa frustasi dan melampiaskan nya dengan memukul tembok sambil berteriak.
" ARRGH...AKU GAGAL." ucap Dimitri sambil duduk di atas lantai dan menjambak rambut nya.
Silas yang baru pertama kali melihat Dimitri sefrustasi itu mencoba menghampirinya dan menggenggam tangan nya.
Dimitri yang merasa ada genggaman seseorang mengangkat kepalanya dan melihat Silas yang tersenyum tulus untuk pertama kalinya.
" Father, aku yakin Mom adalah orang yang kuat pasti dia bisa bertahan." ucap Silas yang menenangkan Dimitri walaupun dalam hatinya dia juga ragu bahwa Mother nya akan baik-baik saja. Kilasan di masa lalunya tidak hilang dimana ia menangisi makam Mother nya yang sudah pergi lebih 13 tahun.
Dimitri yang mendengarnya juga tersenyum dengan air mata yang menetas di matanya. Baru pertama kalinya dia menunjukan kelemahannya sebelum kemudian memeluk tubuh Silas dengan tangannya yang masih ada darah Aresta.
" Terima kasih karena telah memberikan harapan itu Silas. Puteraku." ucap Dimitri dengan sendu.
Sedangkan Reymond yang melihatnya dari kejauhan berusaha menyembunyikan perasaan haru nya melihat sepasang ayah dan anak menguatkan satu sama lain. Ia yakin bahwa Aresta dan Silas adalah sumber kebahagiaan Dimitri.
Tapi tiba-tiba saja ia mendapatkan sebuah panggilan telepon. Reymond mengambil beberapa jarak menjauh dari Dimitri sebelum mengangkatnya. Saat ia sudah mengangkat panggilan tersebut bertapa terkejutnya mengetahui sebuah rahasia.
" Baiklah, kerja bagus saya akan mengirim bayarannya." ucap Reymond sambil mematikan panggilan telepon nya dan memandang sendu Raja dan Pangeran nya yang masih kondisi berpelukan.
" Saya tidak menyangka ada seorang ibu yang mengorbankan kebahagiaan anaknya demi reputasi." batin Reymond.
Countine...