
Hahahaha.... sepertinya anda tidak belajar mrs Carabelle." ucap Dimitri sambil memegang perutnya yang sakit akibat kebanyakan tertawa.
Sedangkan Aresta terasa lemas dan hanya menyandarkan kepalanya di dada bidang Dimitri.
" Lihatlah apa yang aku lakukan mantan tunangan mu ini Julie." batin Aresta berpikir licik.
Sedangkan Julie yang masih dalam posisi terjatuh di lantai melihat kemesraan orang yang dicintainya dengan wanita lain.
Sesuai dugaan Aresta ekspresi Julie menunjukkan kemarahan dan kecemburuan terhadapnya.
Julie berdiri berjalan untuk memisahkan Aresta dari pelukan pria nya.
" LEPASKAN TUBUH KOTOR MU TERHADAP TUNANGAN KU. ******." ucap Julie berteriak keras.
Membuat beberapa pelayan yang sedang berlalu lalang terhenti dan melihatnya.
Aresta mengangkat kepalanya sambil memandang polos Julie.
" Maaf, maksudnya apa bukannya dia adalah calon suamiku dan kau hanya mantan tunangannya saja." ucap Aresta sambil tersenyum miring.
Dimitri dan Silas yang mendengar ucapan Aresta juga menyeringai kecil dengan sikap wanita/ibu nya membela dirinya.
Wajah Julie tidak bisa di deskripsikan lagi sudah merah padam seakan bisa meledak kapan saja.
" SIALAN KAU BUKAN CALON ISTERI. ITU ADALAH AKU YANG MERUPAKAN CALON ISTERI NYA SEKALIGUS CALON RATU MENDAMPINGI RAJA DIMITRI, betulkah." ucap Julie berakhir manis ketika meminta pendapat Dimitri.
Dimitri tersenyum tipis berjalan menuju di tengah antara mereka. Dimitri melirik Aresta dan Julie secara bergantian seolah dia sedang memilih.
Ekspresi Julie menunjukkan sikap angkuh seakan dia sudah mengetahui pilihan Dimitri. Sedangkan Aresta hanya menunjukkan ekspresi biasa saja sama sekali tidak terpengaruh oleh sikap angkuh Julie.
Para pelayan yang melihatnya sama sekali belum beranjak pergi mereka semua lebih memilih untuk menonton siapa yang akan dipilih oleh Raja Dimitri.
Kemudian setelah suasana hening yang cukup lama sampai dimana Dimitri perlahan menggerakkan kaki melangkah.
Begitu juga para pelayan yang sampai mengigit bibirnya gugup semakin penasaran.
Sedangkan Silas memutar bola matanya malas dan langsung membalikkan badannya dia tidak mau melihat apa yang terjadi selanjutnya.
Benar saja tidak lama Dimitri menarik pinggang Aresta masuk ke dalam pelukannya sambil jari nya memegang dagunya dan memberikannya ciuman.
Pelayan bertepuk tangan senang dengan pilihan Raja sebab dia sudah yakin bahwa wanita ini adalah orang baik.
Silas merasa jengkel dengan sikap dramatis sekaligus romantis ditunjukkan oleh Father nya.
" Aku baru tahu dia bisa bersikap dramatis dalam memilih wanita yang sudah pasti dan suka melihat wanita yang dibencinya hancur melihat kemesraan nya." batin Silas menyimpulkan.
Mata Aresta membulat sempurna tidak percaya bahwa Dimitri akan menciumnya di depan orang-orang dan terlebih di depan puteranya yang untung saja sudah membalikan badannya.
Tapi yang membuatnya senang adalah wajah kebencian Julie melihatnya sebelum kemudian membalikan badannya pergi tanpa melakukan penghormatan kepada Raja.
Setelah Julie pergi Dimitri perlahan melepaskan ciumannya sambil memperhatikan wanita yang menjadi mantan tunangannya masuk ke dalam istana.
" Dimitri memangnya orang asing boleh datang ke istana sesuka hatinya?" tanya Aresta yang penasaran sebab Julie dari tindakannya sudah mengganggap istana sebagai rumah nya.
Seakan Julie adalah penguasaan nya dan Aresta tidak suka melihatnya apalagi setiap hari bertemu sudah pasti dia sudah gila.
" Pasti ibu ratu yang mengijinkannya masuk. Tapi itu tidak akan terjadi lagi aku pastikan dia tidak akan pernah menginjakkan kakinya ke istana lagi." ucap Dimitri dengan serius.
Sedangkan Aresta hanya mendengarkan wajahnya merona tipis.
Silas yang mendengarnya tidak menyetujui Julie sering berasa di istana dan bersyukur bahwa Father akan mengusirnya dari sini.
" Tapi aku tidak boleh lengah dia merupakan wanita licik yang akan melakukan apapun untuk mendapatkan keinginannya." batin Silas sambil memperhatikan kedua orang tuanya saling tertawa bersama.
Countine...