
Father aku ingin memberitahu sesuatu yang penting." ucap Silas serius.
Dimitri yang melihat tatapan serius Silas menggangguk kepalanya mungkin sesuatu yang penting belum diketahuinya selama ini.
" Tentang Julius dan Mother, mereka adalah ayah dan anak." ungkap Silas yang baru mengingat nya beberapa hari terakhir.
Meskipun Silas sudah hampir mendapatkan ingatannya di masa lalu. Tapi ada beberapa ingatan itu tidak kembali dan salah satunya di kehidupan sebelumnya setelah mengetahui dimana mother nya dimakankan. Silas mencari asal usul tentang mother nya dari keluarga sampai pendidikannya. Di sana Silas terkejut mengetahui ayah dari mother nya yang ternyata adalah Julius merupakan ayah dari Julie wanita pembunuh.
Apalagi di akhir hayatnya dia bisa melihat senyuman menjijikan Julie beserta Julius merasa menang telah membunuhnya beserta keluarganya.
Dimitri yang mendengarnya matanya langsung terbelalak terkejut.
" TUNGGU ITU TIDAK MUNGKIN." ucap Dimitri sambil menatap Silas seolah menanyankan kebenaran informasi itu.
Tapi Silas hanya mengangkat bahu dengan acuh. Seolah tidak peduli ucapannya dianggap atau tidak oleh Dimitri.
" Sekarang tidak penting Father. kita harus menyelamatkan Mother sebelum terlambat. Kau tahu bukan kekejaman dari Julius Carabelle." ucap Silas sambil menatap Dimitri.
...****************...
Aresta memejamkan mata nya mengira Julius akan memukulnya. Tapi setelah tidak sakit apapun ia kembali membuka matanya dan melihat dimana dinding sebelahnya retak akibat pukulan Julius dan di sana ada bercak darah juga.
" Apa kau tidak bisa melukai ku Father?" tanya Aresta sambil menyeringai menatap Julius dengan datar.
Sedangkan Julius nafasnya tersengal-sengal karena hampir saja memukul puterinya akibat kemarahannya sebelumnya. Sekarang Julius masih tidak percaya telah dipertemukan kembali oleh anak dari wanita dicintai. Wanita telah mengajarkan nya apa arti keluarga dan kesederhanaan. Dirinya merasa bodoh karena melupakan mereka akibat masalah keluarganya.
" Lebih baik kau beristirahat maafkan Daddy harus mengurung mu di sini. Karena Daddy tidak melukai mu keinginan ku sekarang menghancurkan pria yang telah melukai mu." ucap Julius sebelum kemudian keluar dari ruangan.
Aresta yang sebelumnya diam langsung tersadar dan berlari ke arah pintu besi itu dia menggenggam knop pintu tapi itu berhasil. Karena pintu itu sudah di kunci dari luar.
Aresta yang merasa kesal langsung memukul pintu besi itu.
Dor..
Dor..
Dor...
Dor...
" KAU TIDAK BISA MENGURUNG KU DI SINI, JULIUS." teriak Aresta frustasi.
Merasa bahwa usahanya untuk membuka pintu sia-sia tubuh Aresta lemas hingga terjatuh.
Tangisannya yang sempat di lawan nya sejak tadi akhirnya keluar juga. Aresta membenamkan wajahnya di kedua lututnya menangis di belakang pintu. Merasa hidupnya tidak adil karena perlahan-lahan kembali mendapatkan apa yang diinginkan selama ini. Harus hancur di tangan ayah kandungnya yang sial nya lagi ayah dari orang yang membunuhnya.
...****************...
Sedangkan Julius menemui anak buahnya dengan ekspresi datar dan dingin.
" Kalian harus menjaganya dan tidak satupun kalian yang boleh melukai nya atau hidup mu akan berakhir." perintah Julius sekaligus dengan ancaman.
" Baik tuan." ucap anak buahnya bersamaan.
Kemudian Julius berjalan keluar memasuki mobilnya dan mengendarainya menuju kembali ke kota. Dengan perasaan campur aduk memikirkan rencana sebelumnya dirinya sekarang tidak bisa melukai Aresta yang merupakan Puterinya dan Silas cucunya sendiri.
Tapi dendamnya terhadap Raja Dimitri tidak akan mudah hilang. Dia tetap akan melanjutkan rencananya untuk menyingkirkan nya.
Countine...