
Jadi dimana mereka ibu?" tanya David dengan datar melihat ibunya yang terlihat tenang.
David tahu apa yang akan dilakukan Countess jika menginginkan sesuatu atau seseorang yang menghalangi jalannya akan berusaha ia singkirkan.
Countess mengangkat sebelah alisnya melihat David.
" Aku tidak melakukan apapun seharusnya aku yang bertanya apa yang kau lakukan kepada Raja?" tanya Countess yang giliran bertanya.
David yang mendengarnya seketika menegang lidahnya keluh untuk menjawabnya. Mengingat apa kesalahannya kepada sang raja meski sekarang dia tidak tinggal di tanah kelahirannya. Tapi ia di ajarkan oleh keluarga ibunya yang merupakan bangsawan selama ratusan tahun yaitu menghormati dan menaruh semua kesetiaan kepada sang Raja.
" Apa yang dia inginkan dariku ibu?" tanya David yang akhirnya membuka suaranya.
" Saya tidak tahu tapi sang raja akan berkunjung besok ke sini untuk berbicara secara pribadi denganmu. Saya harapkan anda sama sekali tidak membuat sesuatu yang di benci Raja." ucap Countess yang berdiri melangkahkan kakinya keluar dari ruang keluarga.
Meninggalkan David yang mencengkram sofa dengan kuat.
" Sial..." umpat David marah.
...****************...
" Pangeran, Yang Mulia Raja ingin anda sarapan bersama-sama dengan Lady Aresta." ucap Reymond kepada anak laki-laki yang sedang berbaring di ranjang nya.
Terkadang Reymond terheran-heran tidak biasanya anak berusia 6 tahun bangun sepagi ini dan sudah memakai pakaian rapi.
Silas yang sedang termenung langsung mengangkat kepalanya memang ia bangun sepagi ini mengingat sesuatu yang merupakan mimpi buruknya. Dimana dia hidup di dalam sangkar emas. Tapi setelah terbangun ia tidak tidur lagi dan memutuskan untuk membersihkan diri nya.
Melihat bahwa Reymond yang berdiri di depannya.
" Saya akan ke sana." ucap Silas yang bangun dari ranjang nya dan berjalan keluar dari kamarnya tanpa menoleh ke arah Reymond.
Sedangkan di sisi lain Aresta hanya duduk di kursi di salah satu ruang makan mewah yang sudah di sewa oleh Raja Dimitri. Mengingat kejadian semalam Aresta berusaha untuk tetap tidak menangis mengetahui bahwa sama sekali tidak berguna. Dia tidak mau terlihat lemah oleh Raja lagi.
Mata nya melirik ke arah Raja Dimitri yang sedang iPad nya sambil mengetik menggunakan jarinya cepat.
Aresta mengambil teh dan meminum dengan tenang memikirkan pikirannya yang kacau.
" Jadi ada apa..." ucap Aresta yang terputus mendengar suara langkah kaki seseorang.
Senyum langsung terbit melihat Silas berada di sini.
" Silas." ucap Aresta yang langsung berdiri dan memeluk Silas.
Membuat Silas wajahnya merona malu mengingat tidak biasanya Mother nya memeluknya di depan umum maksudnya itu di depan Ayah kandungnya.
Sedangkan Raja Dimitri yang melihat wajah merona Silas bersmirk setidaknya anak itu bisa di jinakan oleh ibu kandungnya, dan membuat hati nya semakin hangat mengingat bertapa kuatnya ikatan mereka.
" Mom sangat merindukanmu." ucap Aresta sambil memperat pelukannya takut kehilangan Silas lagi.
" Tidak Mom." ucap Silas sambil membalas pelukannya.
" Baiklah kita mulai sarapan dan setelah itu kita harus berbicara sesuatu yang penting." ucap Dimitri menghentikan momen antara Aresta dan Silas.
Entah kenapa Dimitri sama sekali tidak menyukai bahwa Aresta lebih mementingkan Silas.
" Tidak mungkin aku cemburu dengan anak ku sendiri.....
Countine...