
Sejak tiga hari yang lalu Silas sudah di perbolehkan untuk pulang. Mother nya memutuskan untuk mengambil cuti tahunannya lebih awal supaya bisa merawatnya.
Terkadang Silas tidak tega melihat Mother nya berusaha kerja keras untuk menghidupi kehidupan mereka. Tidak seperti dulu Mother nya yang selalu menghabiskan waktunya untuk berkuliah malah sekarang dia harus menjadi perawat dan melupakan impian nya sebagai Dokter.
" Silas, saatnya makan siang." ucap Aresta yang memanggil Silas untuk makan siang.
Silas yang sedang berada di kamarnya dengan buku di atas pangkuannya langsung meletakkan bukunya di meja belajar dan memutuskan untuk menghampiri Mother nya.
Ketika berjalan ke dapur Silas melihat Mother nya sedang meletakkan masakannya di atas piring sesuatu yang sangat di impikan merasakan makanan Mother nya di kehidupannya dulu.
Aresta yang melihat Silas sedang berdiam diri merasa bingung.
" Silas, apa kau baik-baik saja?" tanya Aresta dengan khawatir takutnya kepala Silas merasa sakit kembali.
Silas yang tersadar langsung menggelengkan kepalanya singkat sambil berjalan dan duduk di kursi makan.
" Tidak, Silas hanya berpikir apa langsung memilih sekolah dasar daripada sekolah taman kanak-kanak?" tanya Silas yang berbohong.
Aresta yang mendengarnya langsung tertawa sebelum mengambil kursi di seberang Silas. Aresta menggenggam tangan Silas dan mengelusnya.
" Itu terserah padamu Silas karena kau yang menjalani nya. Asalkan hal itu membuat Silas bahagia Mommy juga akan bahagia." ucap Aresta sambil tersenyum manis.
Silas menunduk kepalanya tanpa diketahui oleh Aresta bahwa anak itu meninttikan air mata bahagia nya.
...****************...
Sedangkan di sisi lain setelah pertemuannya dengan wanita yang bernama Aresta key arendelle sukses membuat hidup Dimitri kacau.
Dimitri menjadi terbayang-bayang malam di mana dia mengambil mahkota seorang gadis muda. Di usianya yang hampir kepala 3 Dimitri sama sekali tidak mempedulikan namanya cinta dan wanita. Gabung itu bisa menjadi kelemahannya bahkan dia tidak peduli tentang Ibundanya melaksanakan perjodohan sepihak. Asalkan dia mendapatkan pewaris tahta yang bisa mengamankan posisinya sebagai Raja.
Dimitri tidak tahu apa perasaan tersebut tetap saja yang menjadi pertanyaan mengapa sorot mata Aresta dan anaknya terlihat berbeda seolah menyimpan sejuta rahasia di dalamnya. Membuat Dimitri penasaran ingin membukanya.
Tok...Tok...
Ceklek...
" Yang Mulia." ucap Reymond sambil menundukkan kepalanya.
Dimitri membalikan badannya memandang angkuh Reymond.
" Jadi, apa kau sudah mendapatkan yang aku inginkan?" tanya Dimitri dengan datar.
Reymond menggangguk kepalanya sambil mengeluarkan sebuah amplop kecil berwarna putih memperlihatkan sebuah logo rumah sakit milik nya dan menyerahkan kepada Dimitri.
" Sesuai prediksi, Yang Mulia. bahwa beliau adalah anak anda bersama wanita itu." ucap Reymond yang menunduk.
Dimitri membuka amplop tersebut senyum miring terbit di wajahnya melihat 99,9 % bahwa anak yang bernama Silas adalah keturunannya.
" Jadi kau tahu bukan harus melakukan apa?" tanya Dimitri sambil bertopang dagu.
" Tentu saja saya akan membawa mereka menuju kemari." ucap Reymond memundurkan langkahnya meninggalkan ruang kerja Dimitri.
Dimitri hanya terdiam sebelum dia tertawa terbahak-bahak.
" Aku tidak menyangka bahwa kesalahan itu membuatku tidak bisa melepaskan mu Aresta. Kau akan menjadi milikku dan tidak mungkin untuk di lepaskan meskipun itu harus menghadapi ibuku." ucap Dimitri sambil tersenyum licik.
Countine...