
Bagaimana apa kau sudah mendapatkan informasinya?" tanya Dimitri kepada Reymond yang sudah berdiri di hadapannya.
" Sudah, Yang Mulia. Anda bisa membacanya." ucap Reymond sambil menyerahkan sebuah dokumen kepada Dimitri.
Menurut Reymond mendapatkan dokumen wanita itu sangatlah mudah mengingat pekerjaan nya yang merupakan seorang perawat di rumah sakit ini.
Sedangkan Dimitri langsung mengambilnya dan membukanya.
Nama: Aresta Key Arendelle.
Berusia: 22 Tahun
Pekerjaan : Perawat
Status: Single ( Sendiri)
Mempunyai anak bernama Silas Nathalio Maximiliano yang baru berusia 4 Tahun. Tidak di ketahui siapa ayah dari anaknya. meninggalkan Epitopia 4 tahun lalu setelah tidak lama menyelesaikan studinya di sekolah menengah atas.
Senyum miring tersungging di wajah Dimitri akhirnya ia mengetahui mengapa Aresta pergi darinya dan tidak mau menemuinya untuk bertanggung jawab. Ternyata ia menyembunyikan sebuah rahasia yang besar.
" Rey, aku menginginkan kau melakukan tes DNA kepadaku dengan anak itu." ucap Dimitri yang memerintahkan Reymond untuk melakukan tes DNA dan mengambil stempel dari anak yang bernama Silas.
Reymond langsung membungkuk di hadapan Dimitri.
" Baiklah akan saya laksanakan." ucap Reymond dengan tegas.
Dimitri bangkit dari duduknya berjalan menuju ke arah jendela yang berada di ruang kerjanya untuk memandang kota Chicago.
" Jika itu terbukti benar bahwa itu adalah anak ku. aku tidak akan pernah melepaskan mu Aresta key arendelle." ucap Dimitri dengan tatapan datar.
" Selamat siang Silas." ucap Perawat Maria menyapa Silas yang saat ini sedang duduk di kursi roda.
" Selamat siang juga suster Maria, saya berterimakasih karena telah mengundang kami untuk makan siang bersama." ucap Silas sambil menundukkan kepalanya sedikit menunjukkan sikap kebangsawanan nya.
Membuat semua orang yang memperhatikan nya kagum melihat sikap anak laki-laki yang sangat tahu etika sopan santun di usianya yang masih dini. Termasuk Perawat Maria yang kagum dengan Silas.
" Astaga, Aresta kau memiliki anak yang luar biasa bagaimana dia belajar aku bahkan pernah melihat bahwa keponakan tidak seperti ini." ucap Perawat Maria dengan kagum.
Aresta yang tidak bisa menjawabnya hanya memberikannya senyumannya. Bahkan dirinya sama sekali tidak tahu dimana Silas belajar tata krama bangsawan. Apa karena dia pernah menjadi seorang pangeran di kehidupan sebelumnya pikir Aresta yang lupa bahwa anak ini memiliki ingatan masa lalunya sebagai pewaris tahta tunggal.
Silas yang melihat Mother nya tampak bingung membuatnya merasa lucu. Karena baru pertama kali nya Mother bersikap mati kutu kepadanya.
" Baiklah Silas, kau ingin makan apa biar nanti Aunt Maria pesankan?" tanya Maria dengan semangat.
" Silas cuma ingin pasta dan jus Alpukat." ucap Silas yang menjawabnya dengan sopan sambil memberikan senyum tipis nya.
" Untung saja aku pernah mempelajari tata krama ketika masih menjadi pangeran dulu. Ternyata berguna juga." batin Silas sambil tersenyum miring.
Setelah itu mereka duduk di dekat jendela yang memperlihatkan langsung taman yang berada di rumah sakit. Silas makan dengan tenang dan elegan seolah sama sekali tidak mengalami kesulitan dalam menggunakan garpu. Aresta yang melihatnya berdecak kagum bahkan dirinya belum bisa makan dengan elegan seperti Silas.
Aresta juga mengingat sebelum Silas mengingat masa lalunya cara makan nya juga begini tenang dan elegan. Apa ini sikap alaminya.
" Aresta, anakmu hebat juga ya bisa makan seperti itu bahkan keponakan saja makan saja masih butuh di bantu." ucap Maria yang kagum sekali dengan Silas.
Aresta yang mendengarnya hanya memberikan senyum kaku nya sampai pandangannya tertuju ke seseorang yang seketika membuat nya terkejut.
Countine...