
Tunggu aku Aresta." batin David tidak sabaran bertemu dengan Aresta.
Ketika lift berhenti di lantai tiga David segera keluar untuk mencari ruangan Aresta di rawat dengan senyum lebar di wajahnya. Tanpa sengaja pandangannya langsung tertuju ke arah Raja Dimitri yang sedang berbicara dengan asistennya. Membuat senyum David perlahan-lahan meluntur melihat seringai dari Raja Dimitri.
Sedangkan Dimitri yang melihat kedatangan David sudah menduganya mengingat pria itu bekerja di rumah sakit ini. Rasanya David ingin tertawa melihat pria itu senyum nya mulai meluntur ketika menyadari keberadaannya.
" Oh ada dokter David berada di sini, buat apa anda datang kemari bukannya anda hanya dokter anak?" tanya Dimitri bingung atau lebih tepatnya berpura-pura.
David yang melihat ekspresi penuh kemenangan Dimitri berusaha untuk tidak berpengaruh.
" Selamat pagi, Yang Mulia Raja. saya datang kemari untuk bertemu isteri dan putera saya." ucap David yang memberitahu tujuannya datang kemari.
Mendengar kata isteri dan putera membuat Dimitri hampir tersulut emosi. Dia tidak menyukai dimana David dengan seenaknya mengklaim Aresta adalah miliknya begitu juga Silas. Menurutnya mereka adalah miliknya dan Dimitri tidak suka dengan berbagi yang merupakan milik nya.
" Benarkah, apa anda sama sekali tidak menyadari bahwa Aresta dan Silas adalah milik saya. Bukannya anda sudah membuat kesepakatan nya." ucap Dimitri sambil melirik sinis David.
David yang mengingat kesepakatan itu langsung tersulut emosi dan memukul wajah Dimitri dengan kuat.
Bugh...
Reymond yang melihatnya langsung mengeluarkan senjata apinya dan menodongkan nya ke David. Menurutnya ini sudah keterlaluan memukul seorang Raja merupakan kejahatan yang ada Epitopia. Untungnya saja tidak ada orang di lorong membuat Reymond tidak segan-segan mengeluarkan senjata nya.
Dimitri yang mendapatkan pukulan dari David hanya tertawa geli sambil menyeka darah di bibirnya.
Reymond menggangguk kepalanya sambil menurunkan senjatanya dan menyimpannya kembali di balik jas nya.
David yang mendengarnya tubuhnya menegang sebelum menatap sengit Dimitri dirinya sama sekali tidak merasa bersalah telah memukul wajah pemimpin negara nya walaupun hal itu dilarang keras karena bisa mendapatkan hukuman mati. Tapi ia tidak peduli selama dia bisa melihat Aresta ia akan melakukan apapun. Bahkan dia rela meninggalkan putrinya.
" Apa mau mu sebenarnya, Yang Mulia?" tanya David dengan datar.
Dimitri yang mendengarnya tertawa lagi sebelum melangkahkan kakinya mendekati David.
" Saya hanya ingin Aresta menjadi milik saya dan anda tahu kecelakaan ini adalah kesalahan ibumu. Jika kau tidak menuruti perintah ku saya akan tidak segan-segan menghancurkan semua reputasi keluarga Vicon. Ingat itu." ucap Dimitri berbisik dengan nada penuh ancaman.
Sebelum kembali memundurkan langkahnya dan memandang datar David yang terlihat syok mendengar ucapannya.
" Sekarang kau bisa pergi, jika kau mau menemui Aresta nanti akan saya hubungi ketika kalian mendatangi surat cerai." ucap Dimitri dengan langkah tegap.
David yang melihatnya tidak bisa berbuat apapun dan membalikan badannya pergi dengan kecewa mungkin nanti saat tidak ada pengawasan seseorang ia bisa menemui Aresta.
Percakapan Dimitri dan David tadi tidak menyadari bahwa seseorang mendengarnya dengan ekspresi terkejut di wajahnya.
Countine...