
Aresta berjalan sambil menghentakkan kakinya menuju ke dalam mobil. David yang mengikutinya dari belakang hanya bisa menghela nafasnya memikirkan bagaimana cara membujuk isterinya supaya tidak marah kepadanya lagi.
Ketika David masuk ke dalam mobil dirinya melihat bahwa Aresta sedang duduk di sampingnya sambil melipat tangannya di dadanya.
" Love." ucap David sambil memegang tangan Aresta yang berada di dadanya.
Aresta hanya memasang wajah cemberut tetapi dirinya tetap membiarkan David untuk memegang tangannya. Ia membuang wajahnya ke jendela tanpa mau melirik ke arah David.
" Love maafkan aku karena telah membuatmu marah. Tetapi jujur saja aku hanya mengatakan itu supaya Silas tidak merasa di tersingkirkan dengan kehadiran ayah tirinya. Aku yakin bahwa Silas bukan anak yang mudah terpengaruh." ucap David berusaha membujuk Aresta.
Aresta yang mendengarnya langsung membalikkan badannya melihat ke arah David yang menatapnya dengan cinta. Membuat perasaan nya tenang seketika.
" Aku telah memaafkan ku dan aku meminta maaf karena telah marah kepadamu hanya sebab ucapan mu kepada Silas yang tidak baik." ucap Aresta sambil memeluk tubuh David.
David yang mendengarnya merasa senang karena akhirnya Aresta tidak marah lagi kepadanya dan pastinya dia tidak akan tidur di luar.
" Aku akan berusaha melindungi mu dan Silas dari Raja itu. Aku berjanji tidak akan pernah melepaskan kalian." ucap David sambil membalas pelukan Aresta.
...****************...
Sedangkan Silas yang baru saja duduk di kursi kelasnya menghela nafasnya melihat begitu banyak kebisingan dari anak-anak yang berlari seperti anak kecil dan ada juga yang menangis di pelukan orang tuanya.
" Dasar anak kecil." ucap Silas sambil memejamkan mata nya.
Tiba-tiba saja ada seorang anak perempuan berjalan menghampiri Silas.
" Selamat pagi." ucap nya menyapa Silas.
Silas yang merasa ada seseorang di depannya membuka matanya melihat seorang anak perempuan memiliki rambut cokelat bergelombang dan bola matanya yang berwarna hijau.
" Apa yang kau pikirkan Silas, tidak mungkin kau sedang jatuh cinta aku masih kecil meskipun jiwaku sudah dewasa." batin Silas sambil menggelengkan kepalanya.
" Kau tidak apa-apa?" tanya gadis kecil itu yang terlihat sedikit bingung melihat anak laki-laki di depannya menggelengkan kepalanya.
Silas langsung menghentikan gelengan nya setelah mendengar ucapan anak perempuan itu.
" Aku tidak baik sedang apa kau di sini?" tanya Silas sambil mengangkat sebelah alisnya.
Anak perempuan tersebut tersenyum sambil mengeluarkan sebuah cokelat koin di tas nya.
" Apa kau mau menjadi teman ku, jika kau mau menjadi teman ku aku akan memberikan mu cokelat setiap hari." ucap anak perempuan itu sambil menundukkan kepalanya.
" Memang nya kau tidak memiliki teman?" tanya Silas yang kebingungan melihat sepertinya anak perempuan terlihat kesepian.
Anak perempuan itu menggangguk kepalanya pelan.
" Iya, semua anak-anak tidak mau berteman dengan ku karena aku tidak punya ibu dan kata nya juga ayah ku tidak mempedulikan ku hanya karena dia sibuk. Sampai kami tidak pernah menghabiskan waktu berdua." ucap nya menjawab pertanyaan Silas.
Silas yang mendengarnya sedikit terpaku mengingat bahwa kehidupan sebelumnya dirinya bernasib sama. Dengan tangan kecilnya Silas mengambil cokelat koin dari tangan anak perempuan itu.
" Aku akan menjadi teman mu namaku Silas." ucap Silas sambil mengulurkan tangannya.
Anak perempuan itu tersenyum senang sambil membalas jabatan tangan Silas.
" Terima kasih namaku Eveline....
Countine....