
Ready Mom semoga saja pria licik itu tidak berada di sini. Jika tidak habis kita karena dia tidak akan pernah melepaskan mangsanya sampai dia puas." ucap Silas yang di lanjutkan dalam hati.
Hidup selama sekitar hampir 14 tahun dengan ayah kandungnya Silas sudah mengetahui karakter nya yang tidak akan pernah melepaskan musuhnya atau orang yang menjadi incarannya. Bisa di katakan gila karena saat Silas berusia 11 tahun ketika pertama kali dia mendatangi rapat bersama Ayahnya dengan teganya beliau menembak kepala salah satu orang yang telah korupsi dari nya.
Jadi Silas tahu bahwa pria itu tidak suka di permainkan bahkan sampai saat dirinya berusia 17 tahun ayahnya masih tidak menyukai mungkin apa karena dia adalah anak haram nya atau masalah Julia yang berpura-pura menjadi ibunya saat itu. Pastinya hubungan mereka hanya sebatas rekan sesama Raja dan Pangeran.
Aresta berjalan pelan-pelan sambil tangannya memegang bahan belanjanya dan Silas sekali-kali dia melirik ke arah belakang yang belum ada satupun mengikutinya. Sebelum bisa bernafas lega Aresta mendengar.
" Bukannya orang itu yang kita cari tangkap mereka dan bawa mereka ke hadapan Baginda Raja." ucap salah satu pasukan bodyguard istana memanggil rekan-rekannya.
Melihat itu semua Aresta langsung menggendong Silas dengan satu tangannya dan meninggalkan bahan belanjanya di tanah biarkan kali ini rugi asalkan dirinya dan Silas bisa lepas dari cengkraman mereka.
" NONA ANDA HARUS BERHENTI JIKA TIDAK KAMI AKAN MELAKUKAN SECARA KASAR." ucap salah satu dari mereka yang berteriak kepada Aresta.
Bukannya berhenti Aresta malah menambahkan kecepatan berlari meskipun hal itu mustahil mengingat para prajurit istana memiliki kaki yang panjang bisa di bilang langkah kaki mereka lebih cepat dari dirinya.
Silas yang mengetahui kalau keadaan semakin sulit langsung mengambil sekantung petasan yang berada di saku celananya dan melemparkannya ke arah pasukan istana itu.
Kretak....
Duarr...
Melihat situasi yang berkabut di belakangnya menjadi keuntungan buat Aresta untuk terus berlari ke arah padat kota. Melihat kerumunan orang yang sedang berjalan langsung saja masuk ke dalam barisan itu dengan menutupi wajahnya bersama Silas menutupi wajahnya dengan topi.
Setelah sudah berada di seberang jalan Aresta bernafas lega karena para pasukan istana itu sudah tidak mengikuti mereka kembali.
" Kita harus kemana sekarang Mother tidak mungkin kita kembali ke rumah. Mengingat pastinya pria itu sudah mengetahui alamat kita?" tanya Silas yang penasaran karena tidak mungkin mereka pulang ke rumah.
Aresta yang mendengarnya juga membenarkan ucapan Silas mengingat pastinya pria itu sudah mengetahui semuanya tentang nya. Termasuk bahwa Silas adalah anaknya dan Aresta tidak ingin berpisah dengan anaknya lagi meskipun di bayar mahal sekalipun.
Satu tempat yang menjadi lintasan Aresta untuk meminta pertolongan.
" Mommy tahu kita harus kemana." ucap Aresta sambil tersenyum.
Silas yang mendengarnya merasa yakin dan menggangguk kepalanya.
...****************...
" SIAL BAGAIMANA DIA BISA LARI DARI KEJARAN KALIAN. MEMANGNYA SELAMA INI KALIAN BELAJAR APA SAJA SAMPAI TIDAK BECUS MEMBAWA SEORANG WANITA DAN ANAK." ucap Dimitri yang berteriak marah mendengar bahwa para pasukannya gagal membawa wanita dan anaknya.
Semua para pasukan yang baru saja sampai mansion merasa ketakutan dengan aura yang dikeluarkan oleh Raja.
" Aku tidak mau tahu segera bawa wanita ku dan anakku kemari. Jika tidak nyawa kalian akan menjadi taruhannya." ucap Dimitri dengan tajam.
" Baik, Yang Mulia."
Countine...