
Aresta menutup mulutnya tidak percaya mendengar David melamarnya. Kemudian pandangannya melirik ke arah Silas seolah bertanya.
Silas yang mengerti langsung menggangguk kepalanya sambil tersenyum. Mungkin ini saatnya Mother nya untuk bahagia meskipun bukan bersama Ayah kandungnya. Tapi itu cukup membuat bahwa sekarang dia akan memiliki seorang ayah baru.
" Yes." ucap Aresta dengan satu kata sambil meninttikan air mata.
David yang mendengarnya langsung berteriak senang dan mencium bibir Aresta sekilas.
" Thank you, Love. memberi aku kesempatan untuk membuatmu dan Silas bahagia." ucap David sambil memeluk Aresta dengan pandangan mata berkaca-kaca karena perasaannya terbalas.
Semua orang yang berada di restoran bertepuk tangan dengan perasaan terharu. Begitu juga Silas yang tersenyum sambil diam-diam meninttikan air mata nya melihat senyum bahagia Aresta untuk kali ini.
" Aku harap kalian bahagia." batin Silas sambil memandang kedua pasangan itu.
...****************...
Sedangkan di sisi lain Dimitri sedang mengamuk setelah mendengar berita bahwa Aresta pergi bersama putera mereka keluar negeri.
" SIALAN BAGAIMANA BISA DIA SAMPAI LOLOS SEBENARNYA AKU MEMBAYAR KALIAN BUAT MAIN-MAIN." ucap Dimitri berteriak di hadapan para bodyguard yang menyuruh untuk mengawasi Aresta.
" Maaf, Yang Mulia. atas kelalaian kami sebenarnya dua hari yang lalu saat alarm kebakaran menyala secara otomatis dan kami dengan refleks lebih menyelamatkan para penghuni di apartemen terlebih dahulu. Maaf sekali lagi Raja." ucap pemimpin bodyguard sambil menundukkan kepalanya menyesal.
Dimitri yang mendengarnya menghela nafasnya secara kasar sambil memijit pelipisnya merasakan pusing dengan pikirannya akhir-akhir ini.
" Sekarang kalian cari keberadaan Aresta dan anakku. Kalian harus mendapatkan jika tidak ingin nyawa kalian menjadi ancaman. Ingat ini misi rahasia jangan sampai ada yang tahu termasuk kepada ibuku." ucap Dimitri yang memerintahkan misi baru.
Dimitri melihat bahwa suasana ruang kerjanya sudah sepi langsung menyandarkan kepalanya di kursinya. Sambil membayangkan wajah wanita yang selama ini terus menghantuinya.
" Mengapa dia tidak pernah menemui ku untuk bertanggung jawab. Jika saja dia melakukannya mungkin sekarang kita sudah bersama. Tapi itu tidak mungkin selama ibunda masih hidup, dan sekarang wanita gila itu menyuruh ku untuk menikahi wanita ****** itu." ucap Dimitri sambil membayangkan memori nya 4 tahun terakhir.
Kemudian ingatan nya tertuju ke arah seorang anak laki-laki yang memiliki paras serupa dengannya. Tatapan kebencian yang mendalam tersembunyi di balik manik mata gelap nya. Apa mungkin sekarang anaknya sudah mengetahui siapa ayah kandungnya.
Dimitri harus mencari tahu semuanya termasuk pria yang dekat dengan Aresta.
" Sekali lagi aku akan menemukan mu dan tidak akan membiarkan kau untuk pergi dariku." ucap Dimitri dengan mata gelapnya yang tajam memandang ke jendela.
...****************...
Aresta tersenyum sambil memandangi sebuah cincin yang terpasang manis di jarinya. Setelah makan di restoran mereka langsung pergi ke penginapan sebelum besok mencari tempat baru untuk di tinggali.
Aresta merasa bahagia karena akhirnya perasaannya yang sebelumnya sudah mati akibat peristiwa masa lalunya sudah mulai menghilang dengan kehadiran Silas dan David.
Pandangan Aresta tertuju ke arah Silas yang sudah tertidur di sampingnya meskipun jiwanya sudah dewasa. Bagi Aresta putera nya masih anak-anak.
Aresta tidur di samping Puteranya dan memeluknya dengan erat.
" Selamat malam Silas terima kasih karena memberikan kesempatan untuk Mother memperbaiki semuanya." ucap Aresta dengan pelan sebelum kemudian menyusul untuk tidur.
Countine...