
Setelah menyelesaikan pekerjaannya Aresta memutuskan untuk pulang sendiri menenangkan dirinya melihat suaminya tadi mencium wanita lain.
Meskipun Aresta ingin menyangkalnya tapi ia tahu bahwa itu adalah hal sia-sia. Selesai membereskan pelengkapnya Aresta langsung berjalan keluar dari rumah sakit tanpa menunggu David.
Tapi sayangnya Aresta tanpa sengaja melihat David berdiri di seberangnya sedang berbicara dengan rekannya. Karena tidak ingin ketahuan ia menyembunyikan wajahnya sampai melewati nya.
Merasa David tidak menyadari kehadiran nya Aresta langsung bernafas lega dan langsung berlari untung nya saja ada taksi yang ada di depan pintu keluar rumah sakit.
" Aresta.."
Aresta yang mendengar seseorang memanggil namanya langsung membalikkan badannya ternyata David memanggilnya. Karena hati nya masih terluka langsung masuk ke dalam taksi tanpa mempedulikan David berlari ke arahnya.
" Cepat saya ingin pergi ke taman yang dekat pusat ibu kota." ucap Aresta kepada sang sopir.
" Baiklah." ucap Sopir yang langsung menjalankan taksinya.
Aresta sekali lagi melihat ke arah belakang di sana David menampilkan ekspresi khawatir nya. Aresta menundukkan kepalanya sambil menyembunyikan air mata nya yang sudah akan tumpah.
" Apa anda baik-baik saja nona?" tanya Sopir ketika melihat Aresta berusaha menahan tangisannya.
Aresta yang di tanyai seperti itu langsung mengusap air matanya di pipi nya.
" Tidak saya baik-baik saja cuma ada sedikit masalah." ucap Aresta berusaha tersenyum meskipun itu sedikit susah.
" Ingat Nona setiap masalah maupun kecil dan besar. Jika tidak di selesaikan secara baik-baik akan menjadi akhir yang buruk." ucap sopir memberikan nasihat nya kepada Aresta.
Setelah beberapa lama akhirnya Aresta sampai di taman dimana semuanya di mulai. Tempat pertama kali Aresta memiliki sebuah keluarga yaitu Silas dan David. Awal pernikahan mereka menjadi kebahagiaan dimana David selalu memanjakan nya meskipun dirinya belum siap untuk melakukan sebuah hubungan lebih intim. David mengerti dan berusaha memberikan semuanya cinta nya.
Hal itu sekarang membuka mata Aresta dia tidak bisa terpaku dalam masa lalu. Dimana hubungan satu malam dan dimana kehidupannya mulai sulit dimulai.
Yaitu pertemuannya dengan ayah kandung Silas. Seorang pemimpin dari sebuah negara tempat kelahirannya. Andaikan dirinya tidak di jebak hari itu kemungkinan dia tidak akan berurusan dengan istana.
Tapi Aresta tidak sedikitpun menyesali nya karena dirinya sudah bahagia begitu juga dengan Raja Dimitri ayah anaknya.
" Sekarang lebih baik aku mulai memperbaiki hubungan ku dengan David. Aku mungkin orang bodoh tapi aku tidak ingin kehilangannya." ucap Aresta yang berdiri dari tempat duduknya dan berjalan meninggalkan taman.
...****************...
David yang baru saja kembali dari rumah sakit berjalan dengan lesu masuk ke dalam. Di ruang tamu dia melihat Silas yang sepertinya sedang menonton televisi.
Silas yang menyadari kedatangan David langsung mengangkat kepalanya dan memberikan senyuman.
" Dad kau sudah pulang." ucap Silas yang menyadari keberadaan David.
" Iya. kalau begitu Dad ingin ke kamar untuk membersihkan diri." ucap David sambil menaiki tangga menuju ke kamarnya.
Sebenarnya David sedikit ragu jika Aresta akan memaafkannya. Dirinya tahu pastinya berita itu akan terdengar di telinganya mengingat mungkin saja seorang pun melihatnya berciuman di taman. Walaupun itu tidak di sengaja tapi David merasa sudah mengkhianati isterinya.
Countine...