
Aresta menolehkan kepalanya menatap Dimitri dan bertapa terkejutnya ia ketika melihat Dimitri membungkuk di hadapannya sambil tangannya memegang sekota cincin bertahtakan berlian.
" Aresta, aku tahu kedatangan ku telah membuat hidupmu sulit. Bahkan aku yang telah menghancurkan masa depan mu menjadi seorang Dokter. Tapi apa yang kau tahu aku sama sekali tidak menyesali kejadian itu. Mengingat sekarang aku sudah memiliki keluarga darimu seorang putera yang kau besarkan dengan cinta dan kau rela meninggalkan semua mimpi-mimpi mu untuk mempertahankan. Aku sangat bersyukur karena anakku diberikan seorang ibu yang luar biasa. Aku juga ingin mengucapkan terima kasih sekaligus permintaan maaf ku yang telah mengganggu kehidupan mu sekarang." ucap Dimitri menghela nafasnya sebelum kemudian melanjutkan perkataannya.
" Tapi setelah kejadian malam itu aku menyadari bahwa diriku sudah terikat dengan mu. Jujur saja aku sudah mencintaimu ketika pertama kali kita bertemu di supermarket itu atau lebih jauhnya malam kejadian itu. Jadi apa kau mau menikah denganku, menjadi isteriku, ibu anak-anak ku, menjadi ratu pendamping ku untuk melindungi negara ini." ucap Dimitri yang akhirnya melamar Aresta.
Mata Aresta seketika membulat dirinya tidak percaya apa yang di dengarnya. Pria yang membuatnya penasaran selama 8 tahun berada di depannya melamarnya dengan romantis. Meskipun dirinya pernah dalam posisinya sama David. Tapi perbedaannya kali ini yang melamarnya merupakan seorang Raja dan ayah kandung dari puteranya.
" Apa kau yakin ingin menikah dengan ku, ingat aku hanya seorang gadis biasa saja, gadis yatim piatu bahkan pernah gagal dalam pernikahannya. Ingat Dimitri peraturan kerajaan bahwa tidak satupun anggota kerajaan menikahi seorang janda." ucap Aresta merendahkan dirinya.
Dimitri yang melihat tatapan ragu Aresta kepadanya memegang tangannya dan menyelipkan cincin itu ke jari manisnya tanpa mempedulikan Aresta yang belum menjawabnya.
Aresta yang melihatnya menyerngitkan dahinya. Apalagi melihat tatapan sombong dari Dimitri.
" Mengapa kau memasangkan cincin ini padahal aku belum tentu menerima lamaran dari mu?" tanya Aresta sambil menunjuk ke arah cincin di jari manisnya.
Dimitri hanya menyeringai licik sebelum kemudian menjawabnya.
" Aku tidak perlu tahu jawaban mu Aresta. Karena bagaimanapun kau harus menerima lamaran ku. Sebab karena kau menerima berada di istana ini. Jangan harap kau bisa keluar dari sini dengan mudah. Sekarang kau sudah menjadi tunangan ku dan masalah tentang itu aku akan mendiskusikannya dengan para anggota dewan istana. Pasti nya dia tidak akan bisa menolaknya mengingat aku adalah pewaris satu-satunya dalam kerajaan." ucap Dimitri dengan seringai angkuhnya.
Silas yang sejak tadi melihat lamaran ayahnya hanya menggelengkan kepalanya karena walaupun bagaimanapun seberapa ayahnya mencintai ibunya. Dia tidak akan bisa menunjukkan nya secara langsung atau bisa dibilang Tsundere.
Sedangkan seseorang yang mengintip kejadian tadi langsung pergi dan memberitahu berita tersebut kepada majikannya.
Ibu Ratu Emily setelah kejadian di ruang makan tadi. Dirinya tidak bisa menyembunyikan perasaan marah nya anaknya yang telah dilahirkan, dibesarkannya sendiri. Telah memberontak nya hanya demi seorang gadis biasa dan anak itu.
Tidak lama kemudian seorang pelayan masuk ke dalam dan membungkuk hormat.
" Maaf ibu ratu saya mendapatkan sebuah berita yang membuat anda akan tercengang." ucap pelayan itu sambil menundukkan kepalanya.
Ibu Ratu Emily membalikan badannya dan menatap angkuh pelayan itu.
" Apa berita itu jangan bilang....
Countine...