
Silas yang sudah terbangun ingin ke kamar mandi langsung berlari. Setelah selesai Silas ingin kembali tidur sebelum mendengar suara Father nya yang sedang berbicara dengan nada mengancam seperti biasanya dia dengar di kehidupannya dulu. Tapi siapa yang membuat Father nya merasa terancam sampai mengatakan hal itu Silas memiliki rasa penasaran tinggi. Membuka pintu kamar rawat sedikit berusaha untuk tidak menimbulkan suara Silas terkejut melihat Father nya Dimitri sedang berbicara dengan Daddy David sepertinya percakapan mereka sampai tegang. Melihat Reymond asisten Father nya mengacungkan senjatanya dan Silas melihat sudut bibir Father nya berdarah.
" Apa yang dilakukan oleh Daddy bukannya itu pelanggaran tingkat tinggi. Berani sekali dia memukul wajah Raja." ucap Silas pelan.
Bisa di simpulkan bawa Daddy David memukul wajah Father Dimitri. Pasti percakapan mereka membuat masing-masing tidak bisa menyembunyikan perasaan marahnya.
Silas terus melihat diam-diam percakapan mereka sampai dimana Father nya tertawa sambil mengatakan sesuatu kepada Daddy David. Tiba-tiba saja sekujur tubuhnya menegang mendengar apa yang dia ucapkan.
" Hahahaha...kau takut rahasia mu terbongkar David dan bagaimana reaksi Aresta mengetahui bahwa kau menyembunyikan seorang wanita beserta Puteri kalian darinya. Apa kau tidak mau melihat nya." ucap Father nya sambil tertawa.
Silas tanpa sadar memundurkan langkahnya ia lupa tentang suatu hal mengenai kehidupan masa lalunya.
" Bodoh bagaimana aku bisa lupa waktu pertama kali bertemu Daddy David ketika berusia 17 tahun. Beliau menceritakan bawa dia mempunyai seorang anak perempuan dengan isterinya. Tunggu apa dia sudah memilikinya?" batin Silas berpikir.
Silas terlalu sibuk berpikir sampai tidak menyadari bawa percakapan nya sudah berakhir dengan David yang pergi. Mengetahui percakapan itu sudah selesai Silas buru-buru menutup pintu nya dan berjalan mendekati brankar. Silas memegang tangan Aresta yang masih ada tertancap infus. Jujur saja Silas masih khawatir dengan kondisi Mother bayang-bayang nya yang sekarat mulai muncul di otaknya sampai membuatnya sakit.
Dimitri yang baru saja masuk ke dalam kamar rawat setelah membeli sarapan dibuat terkejut melihat Silas yang berada di samping Aresta sambil memegang kepalanya. Melihat itu Dimitri langsung khawatir dan menghampiri Silas.
" Silas apa kau baik-baik saja, jawab pertanyaan father?" tanya Dimitri dengan khawatir terlihat di wajahnya.
" Aku baik-baik saja, Father." jawab Silas sambil tersenyum tipis.
Dimitri yang melihat nya curiga dengan keadaan Silas wajahnya pucat.
" Kau yakin Father bisa panggilkan dokter sekarang?" tanya Dimitri lagi merasa tidak yakin dengan jawaban Silas.
Tapi sayangnya Silas hanya menggelengkan kepalanya saja menolak tawaran Dimitri. Dimitri yang mengetahuinya menghela nafasnya sebelum kemudian mengambil satu piring berisi sarapan khas Denmark.
Smorrebrod merupakan sandwich yang diisi dengan irisan roti gandum coklat gelap dengan tambahan saus tipis, sepotong ikan, telur rebus, udang atau irisan daging. Beserta segelas susu.
" Makanlah Silas harus mengisi tenaga mu." ucap Dimitri sambil menyerahkan sepiring Smorrebord.
Silas menerimanya sebelum kemudian memakannya dengan tenang. Dimitri yang melihat nya menghela napas lega dengan keadaan Silas meski sedikit khawatir.
Tidak lama Dimitri dan Silas mendengar suara erangan yang membuat mereka terdiam. Sebelum kemudian di susul oleh....
Countine....