
Jadi apa yang melakukan nya adalah ibu ratu atau bisa disebut ibu anda, Yang Mulia?" tanya Aresta dengan datar.
Dimitri yang mendengarnya seketika menegang tapi ia tetap mempertahankan ekspresi datarnya.
" Dimana kau mengetahuinya?" tanya Dimitri menatap Aresta.
" Aku mendengarnya dari orang yang menusuk ku. Jadi apa benar ibu ratu sudah mengetahui semuanya tentang kita dan beliau berencana untuk melenyapkan kami?" tanya Aresta lagi.
Dimitri menghela nafasnya merasakan perasaan khawatir Aresta sebelum melangkahkan kakinya mendekatinya sambil mengelus rambutnya.
" Iya beliau mengetahuinya dari Countess Vicon yang merupakan ibu David suamimu." ucap Dimitri dengan pahit mengatakan kenyataan bahwa David adalah suami Aresta.
Aresta menunduk kepalanya memikirkan bagaimana ibu mertuanya sangat membencinya hanya karena statusnya orang miskin dan single mom. Bagaimana dia sangat kejam mengorbankan menantunya dan Silas anak kecil.
" Mengapa dia sangat membenciku, Dimitri." ucap Aresta dengan air mata yang mulai menetes dari kelopaknya.
Dimitri terkejut mendengar Aresta memanggil namanya untuk pertama kalinya. Tapi ia tahu dia melakukannya karena perasaan terluka oleh keluarga Countess Vicon. Dengan sepasang tangannya Dimitri menarik tubuh Aresta ke dalam pelukannya membiarkan wanita itu menangis.
" Kau tahu bukan bawa bangsawan sangat memuja orang kerajaan. Mereka akan melakukan apapun supaya mendapatkan kehormatan dan kedudukan yang lebih tinggi. Salah satunya Countess Vicon." ucap Dimitri memberitahu alasan Countess Vicon melakukan nya.
Aresta melepaskan pelukan nya sambil memandangi Dimitri yang terlihat serius.
" Apa kau terlibat dengannya?" tanya Aresta yang mencurigai Dimitri. Berharap bawa pria itu akan pergi meninggalkannya sendirian setelah membuatnya marah.
Tapi Dimitri hanya menampilkan seringainya sebelum menarik dagu Aresta dan memberikannya ciuman singkat.
" Aku tidak akan melakukan kerjasama dengan Countess licik itu. Wanita itu hanya setia dengan ibu ratu dan lagipula hubungan ku dengan nya sudah buruk sejak aku membatalkan pertunangan dengan Julia." ucap Dimitri menjawab dengan jujur.
Mata Aresta langsung terbelalak mendengar fakta yang baru dia ketahui nya.
" Apa."
...****************...
Silas yang merasa bosan menunggu di koridor memutuskan untuk berjalan-jalan di taman rumah sakit sendirian. Memikirkan tindakannya yang merubah banyak masa lalu kelam. Memang kejadian tersebut membuat ibunya bertahan tapi tidak tahu apa yang dilakukan oleh mereka untuk melenyapkan nyawanya.
Dan selama berada di kehidupan kali ini Silas sama sekali tidak bertemu dengan Julia. Sesuatu yang ia syukuri sebenarnya.
Apa sekarang ibu ratu akan tetap menyayangi saat mengetahui bawa dia bukan dari wanita kesayangannya. Sepertinya tidak.
Karena wanita itu tidak segan-segan untuk menghabisi nyawa ibunya.
Silas terus berjalan sambil berpikir sampai dirinya tidak sadar bawa dia menabrak sesuatu.
Bruk...
" Aduh..."
Mendengar suara anak kecil sedang meringis membuat Silas membalikan badannya dan melihat seorang anak perempuan yang sedang terduduk di tanah dengan luka di lututnya.
Silas yang melihatnya langsung menghampirinya dan membantu anak perempuan itu berdiri.
" Apa kau baik-baik saja?" tanya Silas sedikit khawatir.
" Tidak Rose baik-baik saja cuma luka kecil kok." jawab Rose sambil tersenyum.
Silas yang mendengarnya menghela nafas lega.
" Syukurlah kalau begitu sini lukanya aku bersihkan terlebih dahulu." ucap Silas menawarkan untuk membersihkan luka Rose.
Rose yang mendengarnya langsung menerima tawaran Silas. Akhirnya Silas membawa Rose duduk di salah satu kursi taman dengan telaten ia membersihkan lukanya dengan kapas.
" Wah...kau hebat seperti ayah ku." ucap Rose dengan senang.
Silas yang mendengarnya menyerngitkan dahinya sebelum menatap Rose.
" Memangnya Ayah mu siapa?" tanya Silas bingung.
Rose tidak menjawab melainkan menunjuk sesuatu di balik badan Silas.
" Itu dia ayahku....
Countine...