
Setelah itu Dimitri beserta Aresta dan Silas segera bersiap untuk menyambut kedatangan peti mati Emily. Untuk hari ini Aresta menggenakan dress hitam dengan panjang nya sampai di bawah lutut beserta topi cocktails di kepalanya. Sekarang Aresta terlihat seperti para wanita bangsawan yang berkelas.
Aresta menghela nafasnya sambil berdiri di atas balkon melihat bendara Epitopia di turunkan setengah tiang dan suasana duka terasa dimana banyak karangan bunga di samping gerbang pintu istana.
Aresta juga tidak percaya Emily mati secepat itu mengingat seharusnya beliau mati ketika usia Silas 17 tahun. Dimana seharusnya yang tidak ada adalah dirinya.
Tiba-tiba saja Dimitri yang sudah datang dengan setelah hitam lengkap beserta dasi dan jas yang sama menghampiri Aresta.
" Apa ini semuanya mimpi?" tanya Dimitri yang membuka pembicaraan dengan berdiri tepat di samping Aresta.
" Aku tidak tahu." jawab Aresta yang sama sekali tidak tahu harus merespon Dimitri.
Dimitri melihat ke depan pandangannya memperhatikan dimana banyak rakyat yang menaruh bunga penghormatan untuk mendiang ibunya.
" Kita harus pergi sekarang karena Ibu Ratu akan dimakamkan segera. Mengingat keadaannya sudah sangat parah jadi kami tidak diperkenankan untuk melihat nya." ucap Dimitri dengan pandangan datar.
Aresta melirik ke arah Dimitri dengan pandangan bersalah meskipun tatapan pria itu tapi ada sebekas luka di sana. Dirinya merasa bersalah andaikan dirinya bisa mencegah hukumannya mungkin Ibu Ratu Emily tidak akan diasingkan oleh puteranya sendiri.
" Maafkan aku." ucap Aresta sambil menunduk kepalanya merasa sangat bersalah.
Dimitri yang mendengarnya menyerngitkan dahinya bingung tapi ia membiarkan Aresta berbicara.
" Andaikan aku tidak datang ke sini mungkin kau dan ibumu tidak akan memiliki hubungan yang buruk. Mungkin juga kau sudah bahagia bersama Julie yang merupakan isteri pilihan ibumu." ucap Aresta terus berbicara air mata berlinang di matanya menyesali dengan tindakan nya mengubah masa depannya yang berakhir buruk.
Dimitri yang mendengarnya langsung menarik tangan Aresta dan memeluknya dengan erat.
Aresta yang mendengarnya matanya berkaca-kaca merasa terharu dengan perasaan bahagia karena sangat dicintai oleh pria di depannya.
Tanpa basa-basi Aresta langsung mencium bibir Dimitri dengan lembut.
Dimitri menyambut baik ciuman Aresta meskipun perasaan sedih mengingat kematian ibunya. Tapi tidak bisa ia pungkiri kedatangan Aresta membuat hatinya merasa membaik.
Semenit kemudian mereka berdua melepaskan ciumannya sambil memandang satu sama lain.
" Aku mencintaimu." ucap Aresta dan Dimitri secara bersamaan.
...****************...
Sedangkan di sisi lain Silas yang sudah rapi menggenakan setelah jas hitam dengan dasi biru tua berjalan-jalan di sekitar lorong. Mengingat kenangan-kenangan di masa lalu.
Bahkan Silas terkejut mengetahui Emily neneknya pergi terlebih dahulu. Ternyata dampak mengubah masa depan sangat beresiko. Meski dirinya berhasil membiarkan ibunya hidup tapi ada nyawa yang harus di gantikan.
Ketika Silas sedang berjalan di sekitar tempat yang gelap tiba-tiba saja ada dua orang berpakaian setelah hitam sedang berbincang.
Karena penasaran Silas bersembunyi di balik tiang mendengar percakapan mereka.
" Akhirnya musuh pertama kita mati terlebih dahulu. Kemudian yang harus di bunuh adalah....
Countine...