
Apa berita itu jangan bilang?" tanya Emily dengan ekspresi pucat tercetak di wajahnya.
" Benar, Ibu Ratu, Yang Mulia Raja baru sama melamar nona Aresta di taman tadi." ucap nya sambil terus menunduk.
Prang....
Mendengar berita itu Emily yang tidak bisa mengontrol emosi nya langsung melempar gelas kaca ke arah dinding. Suara pecahan nya yang terdengar jelas membuat orang yang bersamanya ketakutan.
Emily mengertakan giginya dirinya tidak menyukai jika putera, kebanggaan, menikahi seorang gadis biasa yang tidak tahu asal usulnya.
Nama negaranya akan tercoreng jika itu terjadi termasuk reputasinya Emily tidak bisa membiarkan itu terjadi. Dia harus melakukan sebuah rencana supaya Aresta dan Dimitri berpisah untuk selamanya.
Meskipun itu membutuhkan pengorbanan seseorang.
...****************...
Sedangkan acara makan malam itu Aresta bersama Dimitri dan Silas memutuskan untuk tidur bersama dalam satu ranjang. Dengan Silas berada di tengah-tengah mereka berdua.
Dimitri tidak bisa menahan takjubnya melihat Silas yang tertidur pulas di sampingnya. Bahkan terkadang dirinya tidak mempercayai bahwa sekarang sudah mempunyai keluarga sesungguhnya.
Bukan setingan seperti yang Dimitri lakukan bersama ibunya. Sedangkan Aresta sedang sibuk memikirkan apa yang akan terjadi setelah ini. Melihat dari sikap ibu ratu beliau tidak menyetujui pernikahan mereka. Apalagi dirinya pernah mendengar apa yang dilakukan nya untuk menyingkirkan dirinya.
Aresta harus membuat benteng yang kuat untuk melindungi Silas. Aresta tidak akan pernah membiarkan Silas menderita lagi.
Aresta yang terus berpikir tanpa sengaja kelelahan dan akhirnya tertidur sambil memeluk Silas. Dimitri yang belum tidur memperhatikan mereka sambil tersenyum tipis.
" Aku tidak akan pernah membiarkan kalian menderita lagi atas kebodohan ku dulu." gumam Dimitri dengan pandangan yang sendu sebelum kemudian memeluk Silas dan tertidur.
...****************...
" Silas, apa kau siap untuk melihat sekolah mu hari ini?" tanya Dimitri yang sedang berdiri dengan Aresta yang membantunya memakaikan nya dasi.
Silas yang sedang membaca buku mendongak kepalanya menatap ayahnya.
" Sudah siap lagipula aku juga pernah ke sekolah. Jadi aku sama sekali tidak gugup." ucap Silas dengan cuek sebelum kembali memfokuskan membaca buku nya kembali.
Aresta yang melihatnya hanya menggelengkan kepalanya. Memang ketika Silas sedang membaca buku dia pasti tidak akan mempedulikan keadaan sekitarnya.
" Aku tidak tahu dimana sikap Silas yang suka membaca, Padahal aku dulu tidak terlalu suka membaca buku kecuali dalam keadaan genting seperti ujian." ucap Aresta sambil tertawa mengingat masa lalunya.
Aresta meskipun dikatakan sebagai siswa yang pintar. Tetapi sebenarnya dirinya sama sekali tidak terlalu suka membaca buku kecuali ada ujian. Syukur nya karena Aresta memiliki IQ yang tinggi membuatnya gampang mengingat meski cuma membaca buku itu sekali saja.
" Mungkin Silas mendapatkan nya dariku. Mengingat aku suka sekali membaca buku sampai aku memiliki tiga perpustakaan pribadi." ucap Dimitri menjawabnya.
Silas yang mendengarnya langsung mengalihkan perhatian nya kepada buku dan menatap Dimitri dengan mata berbinar cerah.
" Benarkah." ucap Silas sambil berjalan menghampiri Dimitri dan Aresta.
Dimitri berjongkok di hadapan Silas sambil memegang kedua bahunya.
" Iya, apa Silas mau ke sana?" tanya Dimitri senang melihat Silas mempunyai hobi yang sama dengan nya.
" Tentu saja." jawab Silas dengan semangat.
Karena Silas sama sekali tidak pernah pergi ke perpustakaan ayahnya. Mengingat beliau sangat menjaga nya dengan baik tidak ada satupun yang di perbolehkan masuk kecuali mendapatkan izin nya.
Juga melihat tatapan hangat Dimitri kepadanya membuat Silas merasa bahagia.
" Sepertinya tidak sia-sia aku mengubah masa lalu." batin Silas sambil tersenyum.
Countine...