
Keesokan harinya Dimitri terbangun akibat ada seseorang yang mengetok pintu nya dengan keras. Kemudian pandangannya tertuju ke arah Aresta yang terlihat sedang menggosok matanya.
" Siapa yang datang?" tanya Aresta dengan suara serak.
" Aku akan melihatnya." jawab Dimitri yang bangun dari ranjangnya dengan masih menggenakan piyama berwarna hitam.
Ceklek...
Ketika Dimitri membuka pintu ia melihat Reymond yang berdiri di depannya dengan memasang ekspresi panik di wajahnya.
" Ada apa?" tanya Dimitri yang merasakan sesuatu yang buruk terjadi.
Reymond mengatur nafasnya yang tersengal-sengal akibat berlari tadi sebelum menjawabnya.
" Yang Mulia. ada sesuatu buruk terjadi Ibu Ratu di temukan tewas dengan kondisi mobil di kendarai terbakar dan beliau di temukan dengan keadaan tubuh terbakar." jawab Reymond yang memberitahukan berita tentang Emily.
Deg...
Jantung Dimitri terasa berhenti berdetak sekarang mendengar ibu kandungnya mati. Seketika tubuhnya merasa lemas jika saja tidak Aresta menahannya.
Aresta yang awalnya berniat menghampiri Dimitri untuk mengetahui siapa berkunjung di kamarnya di pagi hari sekali. Awalnya ia beranggapan bahwa yang datang adalah Silas yang bermimpi buruk ternyata Reymond yang menemui mereka dengan berita buruk.
Aresta tidak menyangka bahwa Emily mati dengan keadaan tragis. Melihat tubuh Dimitri yang terpaku dan lemas sepertinya dia sedang syok. Jadi Aresta yang mengajukan pertanyaan.
" Bagaimana ini bisa terjadi bukan nya kita sudah mengecek keadaan mobil dan kita juga sudah menyuruh beberapa bodyguard untuk mengawasi beliau sampai ke tujuan?" tanya Aresta.
" Memang sudah kami laksanakan perintah Raja semalam. Kami mengirim lima mobil dengan sepuluh bodyguard untuk mengawal Ibu Ratu sampai ke sana. Tapi tiba-tiba saja mereka mati dengan mobil keadaan kebakaran dan di antaranya mereka tertembak. Begitu juga dengan ibu Ratu sebelum mobilnya terbakar ada seseorang yang menembak kepala nya menggunakan pistol." ucap Reymond menerangkan.
" Baiklah kita umumkan kematian ibu ratu dan adakan upacara pemakaman nya. Tapi kita harus menutupi alasan kematian sebenarnya sampai kita menemukan pelaku nya. Kau boleh pergi." ucap Dimitri memerintahkan Reymond untuk mempersiapkan pemakaman Emily.
" Baiklah, Yang Mulia. saya turut berduka atas kejadian ini." ucap Reymond sambil membungkuk hormat kepada Dimitri.
" Terima kasih Rey." ucap Dimitri sambil tersenyum tipis.
Setelah perginya Reymond dari kamar mereka Dimitri dan Aresta saling duduk tanpa mengeluarkan satu kata pun.
" Apa kau baik-baik saja?" tanya Aresta yang akhirnya membuka suaranya.
Dimitri hanya diam sambil menundukkan kepalanya jika ditanya apa dia baik-baik saja. Tentu saja jawabannya tidak mengingat bahwa hari ini di kehilangan satu-satunya wanita yang telah melahirkan dan membesarkannya mati dengan tragis yang di duga dibunuh membuat hatinya merasa tercabik-cabik.
Dimitri terus saja menundukkan kepalanya menyembunyikan air matanya yang sudah berjatuhan di pipinya. Dirinya tidak mau kelihatan lemah di hadapan Aresta.
Tapi tiba-tiba saja Aresta menarik tubuh Dimitri dan memeluknya sambil mengelus punggung nya dengan lembut.
Merasakan dekapan hangat Aresta membuat Dimitri tidak kuasa menahannya lagi dan akhirnya menangis keras di pelukan Aresta wanita di cintai nya satu-satunya orang yang mempedulikannya selain puteranya.
Silas yang kebetulan baru masuk ke kamar orang tuanya melihat Dimitri sedang menangis di pelukan Aresta membuatnya hanya diam tanpa mengganggu mereka.
" Aku tahu ini hari berat, Tapi setelah akan ada masalah yang lebih besar semoga saja kita tidak kehilangan sesuatu lagi. Meskipun aku tidak terlalu dekat dengan Ibu Ratu di kehidupan sekarang. Tetapi di kehidupan sebelumnya satu-satunya orang menyayangi ku." batin Silas dengan pandangan sendu.
Countine...