I Want To See My Son Again

I Want To See My Son Again
Kucing



" Akhirnya musuh pertama kita mati terlebih dahulu. Kemudian yang harus di bunuh adalah Pangeran Silas. Supaya nanti Raja tidak memiliki keturunan lagi setelah itu kita melenyapkan semuanya hahahaha...." ucap seseorang yang tertawa keras tanpa khawatir jika ada orang mendengarnya.


Mengingat lorong ini jarang di lewati orang karena mengarah tempat taman tidak digunakan lagi serta sebuah gudang besar.


Silas yang mendengarnya terkejut hingga memundurkan langkahnya dan tanpa sengaja menginjak sesuatu menimbulkan suara pelan.


Kedua orang yang misterius itu mendengar suara sesuatu langsung menghentikan perbincangan mereka.


" Suara apa itu?" tanya nya.


" Mungkin ada seseorang di sana kita harus menyingkirkan nya sebelum orang mengetahuinya dan bos akan menghukum kita." ucap Salah satunya dengan ekspresi panik.


Silas yang mendengarnya langsung terkejut dirinya sedikit panik. Mengingat sekarang usianya masih 7 tahun tidak mungkin melawan dua orang itu. Ketika Silas berusaha berpikir mengenai bagaimana dirinya melarikan diri tiba-tiba saja ada seekor kucing berada di depannya.


Meong...


Satu rencana muncul di kepalanya Silas langsung saja mengangkat kucing itu dan sedikit melemparnya ke depan mereka.


Sedangkan dua orang itu yang sudah dekat langsung langkahnya terhenti ketika melihat seekor kucing berbulu hitam. Seketika mereka berdua bernafas lega.


" Oh ternyata kucing kalau begitu kita harus pergi jangan sampai ada seseorang yang menyadari keberadaan kita. Juga kita akan merayakan kematian ibu Ratu hahaha..." ucap nya sambil tertawa-tawa terbahak-bahak kepada rekannya.


" Benar seperti nya segelas bir tidak buruk hahaha..."


Melihat kedua orang itu pergi Silas keluar dari persembunyian nya dengan ekspresi datar nya.


" Sudah aku duga ini pembunuhan ternyata mereka maju lebih cepat daripada sebelumnya yang membutuhkan 18 tahun untuk melakukan nya." ucap Silas dengan dingin.


Kucing yang masih berada di situ mendekati Silas dan menjilat kakinya yang dilapisi celana hitam panjang.


Meong...


Silas yang menyadari ada sesuatu langsung menatap bawah tatapan seketika melembut ketika kucing menduselkan kepalanya di kakinya.


" Terima kasih karena telah menyelamatkan nyawaku. Sepertinya aku akan merawat mu tidak salahnya memiliki peliharaan." ucap Silas sambil tersenyum.


" Silas."


Mendengar suara seseorang memanggilnya Silas mengangkat kepalanya dan melihat Mother nya berlari menghampirinya.


" Mom." ucap Silas dengan lembut sekaligus lega setidaknya Mother tidak berpapasan dengan orang itu. Mengingat Mother nya baik-baik saja.


Sedangkan Aresta merasa lega karena Silas sudah di temukan.


" Syukurlah akhirnya Mommy ketemu kau sekarang kita harus. Tunggu itu kucing siapa lucu sekali." ucap Aresta dengan mata berbinar-binar melihat kucing hitam itu apalagi dengan bola matanya berwarna hitam bulat.


Meong...


Kucing itu mengeluarkan suaranya dengan pandangan mata polosnya. Silas segera menyembunyikan kucing nya melihat Aresta terus memandangi nya.


" Mother kita harus ke acara pemakaman sekarang. Father pastinya sudah menunggu kita." ucap Silas membuka suaranya.


" Kau betul maaf Mommy lupa." ucap Aresta sambil tersenyum malu mengingat sifat lupa nya.


...****************...


Selama pemakaman Dimitri hanya memandang lurus ke arah peti mati ibunya yang tertutup rapat dengan tatapan yang kosong. Bahkan ketika peti tersebut dimasukan ke tempat peristirahatan terakhirnya.


Selesai pemakaman Dimitri hanya diam sambil menggenggam tangan Aresta yang seakan-akan memberikannya kekuatan nya.


Suasana duka yang terasa tiba-tiba hilang ketika melihat kedatangan seseorang yang membuat Dimitri marah.


" Hallo, Yang Mulia....


Countine...