
" Tapi, Yang Mulia ibu Ratu. Raja tidak sendiri dia membawa wanita itu bersama puteranya." ucap nya memberitahu nya.
Raut wajah ibu ratu Emily yang awalnya senang tiba-tiba saja menjadi murung. dia mengepal kertas yang ada di tangannya untuk mengatasi kekesalan nya. Dirinya tidak mengerti mengapa puteranya yang merupakan seorang Raja lebih memilih dengan wanita tidak tahu asal usulnya.
" Baiklah kita akan menyambut mereka dan aku penasaran siapa wanita yang membuat puteraku mengambil hak gelar Countess Vicon. Ini akan menarik." ucap Ibu Ratu Emily sambil menyeringai licik.
...****************...
Sedangkan di sisi lain Silas yang masih membaca bukunya sepanjang perjalanan. Dirinya tidak bisa menyembunyikan perasaan resahnya karena di negara itu tempat kematiannya. Meskipun Silas sudah berusaha melupakannya tapi ia masih segar di ingatan nya dimana hari dia mati mengenaskan.
Silas terus melamun buku yang berada di pangkuannya sudah tidak menarik untuk di baca. Dia sampai tidak menyadari bahwa Dimitri yang keluar dari kamar melihat Silas puteranya yang terlihat berpikir.
Sebenarnya Dimitri penasaran dengan apa yang di pikiran Silas. Terkadang Silas merupakan sebuah buku yang tertutup seolah ia menutup hati dan perasaannya. Dimitri juga tahu pertemuan pertamanya dengan Silas anak itu sama sekali tidak menunjukkan ekspresi terkejut apapun. Seakan anak itu sudah mengenalnya selama bertahun-tahun. Bahkan mimpi buruk itu terkadang masih ada di dalam tidur Dimitri.
Dimana di mimpi itu dirinya yang lebih tua melihat Silas yang sudah dewasa terbaring lemas di ranjangnya dan badannya penuh darah. Ketika Dimitri ingin menyentuhnya tiba-tiba saja dia terbangun. Tapi kata-kata itu tidak dia lupakan karena setiap mimpinya Silas dewasa mengatakan hal yang sama.
" Kau akan menyesali apa yang telah kau perbuat. Memelihara binatang keji itu."
Kata itu Silas dewasa ucap kan dengan nada menjijikan.
" Apa yang kau baca?" tanya Dimitri memecahkan suasana yang sedikit canggung. Terkadang dirinya membutuhkan Aresta untuk berbicara dengan puteranya sendiri.
Silas yang mendengar Father nya canggung kepadanya tersenyum tipis. Sepertinya lama kelamaan nya dirinya terbiasa dengan sikap baru nya. Mungkin karena saat di kehidupan sebelumnya Silas mengakui kurang mengenal ayah kandungnya.
Sampai sekarang Silas masih merasa bersalah anak perempuan cantik itu yang telah merebut kasih sayang dari ayah kandungnya David.
Dimitri yang mendengarnya hanya diam sepertinya ragu untuk membuka mulutnya. Karena menurutnya Silas masih kecil untuk tahu.
" Nanti kau akan mengetahuinya sendiri ketika dewasa. Terpenting adalah sekarang masalah pendidikan mu. Jadi bagaimana apa kau mau masuk akademi bangsawan yang Epitopia?" tanya Dimitri menanyankan pendapat Silas.
Silas yang mendengar tentang sekolah langsung berpikir.
" Jika aku pergi ke akademi itu masalahnya aku harus tinggal di asrama mengingat jarak akademi dengan istana lumayan jauh dan sekarang aku apa masalah yang menanti di istana itu. Sudah ku putuskan." batin Silas berpikir.
" Tidak Father aku tidak akan masuk akademi sampai sekolah menengah dan aku memilih sekolah untuk rakyat biasa dekat dengan istana supaya Father dan Mother bisa mengantar sekolah." jawab Silas sambil tersenyum polos.
Dimitri menghela nafas nya sepertinya dia tidak akan memaksa puteranya untuk sekolah yang sama dengan nya. Lagipula dia juga belum mau kehilangan masa kecil Silas. Sudah banyak dia tinggalkan di masa pertumbuhan Silas.
" Baiklah Father akan menghubungi Reymond dan mendaftarkan sekolah yang kau inginkan." ucap Dimitri menjawab.
" Baiklah." ucap Silas sambil tersenyum senang.
" Baguslah rencana pertamaku berhasil." batin Silas sambil menyeringai.
Countine...