I Want To See My Son Again

I Want To See My Son Again
Andaikan Dia Ayah ku



" Karena kondisi Silas sudah stabil dan tidak menunjukkan gejala yang parah besok sudah boleh pulang." ucap David yang baru saja selesai memeriksa kondisi Silas.


Aresta yang berada di ruang rawat Silas bisa bernafas lega karena tidak terjadi hal buruk kepada anaknya.


" Terima kasih David karena telah menolong Silas. Jika saja kau tidak menolong aku tidak tahu harus mencari dana rumah sakit darimana." ucap Aresta dengan perasaan tidak enak karena sampai sekarang David selalu membantunya jika dalam keadaan susah.


David mendengarnya hanya menepuk bahu Aresta dengan pelan.


" Tentu saja kau adalah sahabat ku sejak lama, dan tidak mungkin bukan membiarkanmu dalam keadaan susah. Apalagi itu berkaitan dengan anak mu." ucap David sambil tersenyum.


Aresta membalas senyuman David meskipun sudah pernah menolak ajakan David untuk menjadi ayah dari anaknya. Tetap saja David selalu menolong nya dalam keadaan susah hal itu membuat Aresta merasa bersyukur dengan kehadiran sahabatnya.


Sedangkan Silas tersenyum tipis mengingat apa yang dilakukan David kepadanya di kehidupannya dulu. Membuatnya menghilangkan perasaan dendamnya kepada Aresta bagi Silas pria yang menjadi sahabat Mother nya sudah dianggap sebagai ayah nya sendiri. Silas bersyukur bisa bertemu dengan David lagi.


" Terima kasih Dokter David." ucap Silas yang mengucapkan terima kasih sambil tersenyum.


" Hahahaha...tidak perlu sungkan dengan Paman mu ini Silas." ucap David sambil mengacak rambut Silas.


" Kalau begitu Aresta aku harus kembali memeriksa pasien yang lain. Sampai jumpa besok Aresta dan Silas." ucap David sebelum pergi.


Meninggalkan suasana canggung di antara Aresta dan Silas. Meskipun hubungan mereka sudah lebih baik tetap saja Aresta merasa malu sekaligus merasa marah terhadap dirinya yang pernah memberikan penderitaan kepada Silas tanpa di sadari nya. Padahal awalnya Aresta menerima tawaran wanita itu adalah memberikan Silas hidup nyaman dan tidak miskin sepertinya.


" Silas, apa kamu ingin Mommy mengupaskan apel untuk mu?" tanya Aresta yang berusaha bersikap biasa.


Selama mengupas apel Aresta terus melirik ke arah Silas. Dalam hati dirinya ingin bertanya sesuatu tapi takut hal itu membuat Silas merasa tidak nyaman kepadanya.


" Mother ingin bertanya apa?" tanya Silas yang menyadari bahwa sejak tadi Mother nya selalu memperhatikannya.


Aresta hanya diam sambil selesai mengupas apel dan memotong nya menaruhnya di atas piring sebelum di berikan kepada Silas. Silas menerimanya dengan santai.


" Sejak kapak kau begitu kenal dengan David, bukannya setiap Silas bertemu dengan David selalu memasang raut wajah tidak suka?" tanya Aresta dengan pelan berusaha menjaga perasaan Silas.


Sejenak tubuh Silas menegang sebelum menampilkan ekspresi tenang dan sedikit senyuman di wajahnya.


" Paman David adalah orang yang memberitahu kisah mu Mother. Dia adalah orang yang memberi aku kenyamanan ketika mengingat dimana aku mengetahui kematian Mother." ucap Silas sambil tersenyum tipis.


Aresta yang mendengarnya tersenyum senang memang David adalah sahabat terbaiknya. Sayangnya Aresta tidak bisa membalas perasaan David.


" Dia adalah pria yang baik." ucap Aresta sambil memejamkan matanya dan memasang wajah senangnya di hadapan Silas.


Silas yang melihat wajah bahagia Mother nya merasa senang andaikan David adalah ayah nya mungkin kehidupannya tidak akan dalam bahaya. Pastinya Mother nya tidak akan mengalami penderitaan hanya melahirkan anak anggota kerajaan.


Countine...