
" Kenapa kau tidak mencoba makanan Pangeran, pelayan?" tanya Dimitri yang membuat bingung semua nya.
Tapi tidak dengan seseorang yang duduk sambil berusaha menutupi ekspresi pucat nya dan pelayan tadi badannya sudah gemetar ketakutan.
" Ta... Pi makanan ini untuk Mrs Arandelle. Jadi saya tidak berhak untuk memakan makanan milik calon ratu." jawab pelayan perempuan itu berusaha untuk menolak memakan makanan milik Aresta.
" Sayangnya anda di dalam posisi menolak pelayan sudah tugasnya mencicipi makanan milik anggota kerajaan. Betul bukan ucapan saya." ucapan yang bukan milik Dimitri melainkan Aresta yang menatap pelayan itu dengan datar.
Aresta sudah menduga pasti ada sesuatu dengan pelayan itu. Gerak-gerik nya terlalu mencurigakan apalagi dengan ucapan Dimitri yang semakin meyakinkan nya.
Pelayan tersebut melirik ke arah wanita paruh baya itu seolah meminta bantuan. Sayangnya wanita paruh baya yang merupakan Ibu Ratu Emily hanya memalingkan wajahnya ke samping.
Dimitri yang sudah mengetahui nya langsung menggebrak meja di depannya dengan keras.
Brak...
Prang...
Saking kerasnya meja itu dipukul hingga bergoyang dan menjatuhkan sebuah cangkir milik Dimitri. Jangan tanya lagi ekspresi Dimitri sudah memerah berusaha menahan amarahnya terhadap ibu kandungnya.
Mata Dimitri ke arah Aresta dan Silas yang duduk saling bersebelahan.
" Aresta bawa Silas ke kamar biar aku yang mengurus semuanya sekarang." ucap Dimitri dengan nada memerintah.
Aresta yang merasa suasana semakin memanas langsung menggendong Silas dan meletakkan kepalanya di bahu membiarkan puteranya bersandar.
" Apa semuanya akan baik-baik saja?" tanya Silas berbisik hanya Aresta saja yang bisa mendengar.
" Mother tidak tahu tapi sepertinya Father mu sangat marah. Mother tidak tahu apa yang dilakukan olehnya." jawab Aresta seadanya sebelum kemudian membuka pintu besar keluar meninggalkan ruang makan.
Silas yang masih berada di gendongan Aresta menggangguk kepalanya.
Aresta melirik ke Silas sejenak sebelum pandangannya tertuju ke depan dengan pandangan datar.
" Jika itu benar Mother sudah yakin Father tidak akan main-main lagi." ucap Aresta pelan.
...****************...
Setelah kepergian Aresta dan Silas lagi-lagi suasana ruang makan tampak panas seperti sebelumnya.
Dimitri berdiri dari kursinya berjalan mendekati Pelayan yang masih setia membungkuk di lantai sampai dimana ia menarik dagunya dengan kasar untuk menatap nya.
" Jadi siapa yang menyuruh mu jawab saya?" tanya Dimitri dengan dingin dan mengeluarkan aura gelapnya yang berusaha ia tahan supaya Aresta dan Silas tidak ketakutan kepadanya.
Pelayan itu hanya diam dengan badan gemetar dan air mata berlinang sebelum kemudian menggelengkan kepalanya dirinya tidak mau memberitahukan nya.
Dimitri yang melihatnya hanya diam saja sebelum kemudian pandangannya tertuju ke arah Emily yang masih duduk dengan tenang seolah-olah dia tidak bersalah.
" Sudah cukup sandiwara nya Ibunda." ucap Dimitri membuka mulutnya.
Sedangkan Emily ekspresi nya langsung pucat kembali mendengar ucapan Dimitri yang sangat tajam.
" Apa maksudmu, Ibunda sama sekali tidak mengerti dengan ucapan mu Dimitri. Lagipula pelayan itu yang salah karena telah berani melukai tunangan Raja." ucap Emily menyudutkan pelayan itu.
Dimitri yang mendengarnya hanya tersenyum miring.
" Sepertinya Ibunda sama sekali menghiraukan peringatan ku, dan Ibunda memandang ku remeh. Baiklah sekarang aku tidak bermain-main dengan mu Ibunda akan aku tunjukkan kekuatan siapa yang berkuasa." ucap Dimitri dengan pandangan yang tajam dan seringai bibir nya terbentuk melihat Emily.
Countine...