
" Hei bocah apa kau yakin jika kita tidak akan ketahuan?" tanya David melirik ke arah Silas yang sedang memegang sebuah iPad di tangannya.
Jari-jari kecilnya dengan lincah mengetik setiap keyboard yang ada di depan layar.
" Tenang saja Paman aku sudah membuat sistem yang berada di apartemen ini kacau. Lagipula ini sebuah apartemen biasa jadi sistem keamanannya tidak terlalu ketat." ucap Silas dengan tenang.
Setelah berdiskusi panjang akhirnya Silas dan David memutuskan untuk kembali ke dalam apartemen Aresta untuk mengambil semua barang-barang penting. Awalnya Aresta ingin ikut karena tidak ingin sesuatu yang berbahaya contohnya Silas di ambil darinya. Itu adalah mimpi buruk baginya. Tetapi Silas berusaha menyakinkan kepadanya bahwa semuanya akan baik-baik saja lagipula paman nya David akan ikut.
Saat ini Silas berada di dekat tangga darurat yang berada di gedung apartemen tempat tinggalnya. Karena hanya di sini tidak ada penjaga yang saat ini memenuhi gedung Apartemen.
" Ini benar-benar menjengkelkan padahal awalnya aku sudah bahagia jika pria tua itu tidak akan mengetahui keberadaan kami. Ternyata rencana tidak sesuai harapan." batin Silas kesal.
" Paman aku sudah berhasil meretas sistem keamanan apartemen ini." ucap Silas dengan datar.
David yang mendengarnya cukup terkejut mengetahui seberapa cepatnya Silas meretas sistem keamanan yang sama sekali dirinya tidak ketahui. David cukup terpukau dengan kecerdasan Silas mungkin saat dewasa dia akan menjadi orang yang hebat.
" Dia benar-benar anak yang berbakat. Bakat itu darimana ya apa dari ayahnya merupakan seorang Raja." batin David yang sibuk dengan pikirannya.
" Paman kita hanya punya waktu selama 10 menit. Setelah itu sistem akan kembali seperti semula sepertinya Raja Epitopia itu melakukan sesuatu mengenai sistemnya." ucap Silas kepada David.
" Itu sudah lebih dari cukup dan semoga saja kita tidak tertangkap." ucap David sambil tersenyum.
Membuat Silas yang mendengarnya merasa lega dan percaya diri untuk membantu Mother nya melarikan diri dari Raja itu.
Suara alarm kebakaran berbunyi di seluruh gedung semua orang yang berpenghuni berkeluar dengan panik. Para bodyguard istana membantu para penghuni untuk evakuasi mengingat dirinya harus bersikap tidak mencurigakan.
Cepat....lewat sini....
Tuan dan nyonya harap tenang kami akan membantu....
Di antara kerumunan Silas dan David berjalan menuju apartemen milik Aresta. Mereka berusaha bersikap tenang supaya tidak ada orang yang curiga.
" Berhenti apa yang kalian lakukan di sini?" tanya seseorang yang berdiri di belakang Silas dan David.
Tubuh Silas dan David seketika menegang melirik ke arah belakang melihat seorang bodyguard yang berdiri di belakang mereka.
" Maaf, aku harus kembali ke apartemen sebentar kami harus memastikan bahwa...." ucap David yang terlihat kebingungan mencari alasan.
" Mencari Mommy, kita harus menyelamatkan nya karena sekarang dia sedang mengandung adik bayi." ucap Silas dengan polos di balik topi yang menutupi sebagian kepalanya.
" Oh baiklah tapi cepatlah mengingat kami khawatir bahwa kebakaran akan semakin besar." ucap bodyguard langsung pergi meninggalkan Silas dan David yang menghela nafas lega.
Silas dan David menghabiskan waktu 6 menit lamanya untuk mengambil paspor beserta pakaian, dan dokumen penting yang berada di kamar Aresta. Untungnya saja Silas tahu dimana Mother meletakkan jika tidak mereka akan menghabiskan banyak waktu.
Silas dan David keluar dari Apartemen dengan perasaan senang sambil melirik satu sama lain.
" Misi berhasil....
Countine...