
Sedangkan di sisi lain David berusaha menghubungi Aresta karena semalam mereka berdua tidak kembali ke rumah. Membuat perasaan khawatir nya semakin besar.
" Dimana kau Aresta?" tanya David kepada dirinya sendiri.
Karena tidak mendapat balasan dari Aresta akhirnya David segera mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.
" Cepat temukan isteri dan anak ku. saya tunggu kabarnya jangan buat saya kecewa atau anda mendapatkan akibat nya." ucap David sebelum mematikan ponselnya.
David mengepalkan tangannya memikirkan bahwa seseorang ingin mengambil Aresta darinya.
" Tidak seorangpun yang bisa Aresta dariku termasuk Raja." ucap David dengan seringai di wajahnya.
...****************...
Sedangkan di sisi lain Aresta sedang duduk diatas ranjang sambil melihat kota dari balik kaca. Dia merindukan Silas dan David ia tahu seberapa cemas nya suaminya saat dia tidak pulang semalam.
Ketika Aresta sedang melamun pintu kamar terbuka dan Dimitri masuk dengan mengenakan setelan jas mewah. Membuat Aresta yang sempat melirik terpana melihat ketampanan Dimitri.
" Apa ketika Silas dewasa dia akan setampan pria itu." pikir Aresta konyol.
Langsung saja Aresta menggelengkan kepalanya memikirkan pertanyaan omong kosong ini. Karena bagaimanapun Silas tidak akan seperti Dimitri.
" Selamat pagi." ucap Dimitri menyapa Aresta sambil duduk di sampingnya.
Aresta yang mendengarnya hanya memalingkan wajahnya membuat Dimitri sedikit marah dan menarik dagu Aresta supaya melihat ke arahnya.
Dimitri tersenyum tipis melihat wajah Aresta yang menantangnya. Setidaknya wanita di depannya bukan seorang wanita yang lemah melihat karakter nya.
" Aku tidak suka bila seseorang memalingkan wajahnya dariku." ucap Dimitri dengan datar.
" Tentu saja, Yang Mulia. maafkan rakyat mu yang tidak sopan kepada pemimpinnya." ucap Aresta sambil memutar bola matanya seperti ketika dia sedang kesal.
" Kau bukan rakyat biasa kau adalah Ratuku, pendamping ku, dan ibu dari anak-anak kita kelak." ucap Dimitri sambil memberikan kecupan kepada Aresta.
Aresta yang mendapatkan kecupan tersebut langsung menampar wajah Dimitri dan berdiri dari ranjang dengan wajah memerah.
" INGAT RAJA KITA TIDAK BISA BERSAMA SELAIN HUBUNGAN ANTARA SESAMA ORANG TUA BAGI SILAS. KITA SUDAH MEMILIKI KEHIDUPAN SENDIRI TERMASUK SAYA YANG SUDAH MEMILIKI SUAMI, DAN MUNGKIN KITA akan memiliki anak nantinya." ucap Aresta yang sambil mengelus perut rata nya mengingat malam romantis nya dengan David.
Tentu saja Dimitri tersulut emosi mendengar Aresta secara tidak langsung mengatakan bahwa dia sudah berhubungan dengan pria lain.
" Jangan bilang kau sudah berhubungan dengan pria lain?" tanya Dimitri memastikan.
Aresta mendekati Dimitri yang sudah berdiri dan saling menatap satu sama lain.
" Tentu saja sudah tidak mungkin seorang suami isteri tidak memiliki hubungan yang intim." ucap Aresta sambil mengelus kemeja Dimitri sebelum kemudian mendorongnya dengan pelan.
Dimitri yang mendengarnya langsung menarik tangan Aresta dan menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang. Tentu saja Aresta terkejut tapi sebelum dia bisa bangun Dimitri langsung mengurung tubuhnya membuatnya terjebak.
" A..pa yang ingin kamu lakukan?" tanya Aresta yang sudah mulai panik jika terjadi sesuatu yang buruk.
Dimitri hanya memajukan bibirnya ke telinga Aresta dan membisikan sesuatu.
" Ingat kau adalah milikku dan aku pastikan hal itu. Jika kau terus bersikeras untuk mempertahankan jangan harap dia bisa hidup lagi. Tapi sebelum itu kita harus melakukan sesuatu yang sudah pasti untuk menjadikan kau milikku lagi bukan." ucap Dimitri panjang lebar.
Membuat sekujur tubuh Aresta menegang mendengar ucapan Dimitri.
" Ini bahaya...
Countine...