
Sedangkan Ibu Ratu Emily mengepalkan tangannya kesal setelah melihatnya dengan mata kepalanya sendiri puteranya tersenyum miring kepadanya.
Memikirkannya membuat Ibu Ratu Emily langsung masuk ke dalam kamarnya kembali.
" Sial, berkat wanita dan anak itu telah membuat puteraku menjadi seorang pembangkang." ucap Ibu Ratu Emily yang telah menyalahkan Aresta dan Silas penyebab Dimitri memberontak kepadanya.
Tapi Ibu Ratu Emily tidak bisa melakukan apapun mengingat bahwa sekarang dirinya bukan seorang Ratu penyebab dirinya tidak bisa mengatur Dimitri sesuai keinginan. Padahal jika Dimitri bukan seorang Raja sekarang mungkin Ibu Ratu Emily memaksanya untuk menikahi Julie.
" Ibu anda harus tenang." ucap Julie sambil duduk di sofa sambil memegang secangkir teh di tangannya.
" Apa maksudnya?" tanya Ibu Ratu Emily yang mengambil tempat duduk di seberang Julie. Supaya mereka bisa saling bertatapan.
Julie tersenyum sambil meminum secangkir teh di tangannya dengan gerakan anggun.
" Kita hanya bisa menunggu sampai dimana Dimitri merasa bahwa wanita bukan orang yang baik dan setelah melihat bahwa nanti Dimitri kehilangan kepercayaan nya kepada wanita itu. Itu memudahkan kita untuk menyingkirkan nya. Jadi bagaimana menurut mu." ucap Julie yang mengutarakan idenya untuk menyingkirkan Aresta.
Ibu Ratu Emily yang mendengarnya langsung menggangguk setuju karena sepertinya ini merupakan ide yang bagus untuk memisahkan Aresta dan Dimitri. Untuk masalah Silas yang merupakan cucunya sama sekali tidak mempedulikannya meskipun dia sangat mirip dengan Dimitri. Tapi tetap saja anak itu lahir dari rahim wanita yang asal usulnya tidak jelas. Jadi Ibu Ratu Emily tidak mau mengakuinya menurutnya hanya Julie saja yang pantas untuk menjadi Ratu sekaligus ibu dari cucu-cucunya.
Sedangkan Aresta yang sedang bersiap-siap untuk acara makan malam. Di kamarnya sedangkan Silas ada bersama Dimitri. Mungkin jika Silas bersama dengan Dimitri membuat hubungan antara ayah dan anak semakin dekat.
Aresta yang melihat penampilan nya menggangguk puas. Malam ini Aresta mengenakan gaun biru malam dengan belahan punggung yang terbuka dan rambutnya yang di gerai. Aresta juga mengenakan anting putih di kedua telinganya.
Ceklek....
" Aresta apa kau sudah.." ucap Dimitri yang menghentikan ucapannya ketika baru menyadari penampilan Aresta yang cantik.
Dimitri yang melihatnya hanya terpaku terpesona dengan kecantikan alami dari calon isterinya. Apalagi dengan mengenakan gaun yang memiliki punggung yang terbuka ingin rasanya Dimitri memberikan kecupan indah di sana.
Tapi sayangnya dirinya tidak bisa melakukannya sampai pernikahannya dengan Aresta dilaksanakan. Meskipun mereka berdua sudah melakukan nya lebih dari dua kali Dimitri ingin Aresta melakukan nya tampak paksaan.
" Kau sudah datang Dimitri." ucap Aresta yang berjalan menghampiri Dimitri sambil tersenyum tipis.
Malam ini Dimitri mengenakan kemeja berwarna biru tua seperti warna gaunnya dan mengenakan jas berwarna biru tua serta dasi berwarna hitam membuat kesan tampannya bertambah.
Aresta yang langsung menyadari bahwa dirinya barusan memuji Dimitri menggelengkan kepalanya.
" Ingat Aresta tujuan mu datang ke sini adalah mencari keadilan bukan masalah percintaan. Lagipula belum tentu Dimitri menyukai ku yang hanya seorang wanita biasa. Baginya aku cuma ibu bagi anaknya." batin Aresta sambil cemberut.
Dimitri yang melihat ekspresi Aresta berusaha menahan rasa gemasnya untuk tidak mencium pipinya. Karena ekspresi Aresta sangat menggemaskan baginya.
" Dia sungguh lucu seperti anak remaja saja." batin Dimitri.
Countine...