
" Apa kau lakukan dengan membawa buku sebanyak ini. Bukannya kau bisa meminta bantuan Reymond dan sejak kapan kau keluar bukannya awalnya kau berada di dalam kamar mu?" tanya Dimitri bingung.
Sebab dirinya maupun Aresta sama sekali tidak menyadari bahwa Silas sudah keluar dari kamarnya.
Silas yang mendengarnya menyerngitkan dahinya sebelum mulai bercerita.
Flashback On...
Setelah selesai membuat kopi yang berujung membuatnya malu Silas memutuskan untuk keluar dari kamarnya sebab perutnya sudah lapar dan sekarang sudah menunjukkan waktu makan malam. Ketika ia membuka pintu nya bertapa terkejutnya melihat Dimitri dan Mother nya saling berbicara dengan suasana tegang.
Silas tahu sampai sekarang Mother nya belum mau menerima Dimitri dalam kehidupannya. Mengingat trauma yang di hadapinya di kehidupan sebelumnya. Begitu juga Silas awalnya dia terkejut tidak mempercayai dengan sikap Dimitri yang lembut kepadanya.
Karena selama kehidupan pertamanya yang menyedihkan pria itu selalu tidak pernah mau menatapnya lama, dan ketika makan malam ia sering tidak makan bersama lebih memilih makan di ruang kerjanya.
Silas juga sekarang tidak terkejut tapi ia merasa bahwa penglihatannya salah bagaimana Dimitri menggunakan pisau dengan lincah seolah ia sudah mahir menggunakannya.
Tapi Silas mengangkat bahunya acuh saja dan memilih berjalan keluar dari kamarnya untuk meminta David membelikannya makanan. Karena dia tidak yakin bahwa masakan Dimitri akan berhasil.
Flashback off...
Selesai bercerita Silas melihat Dimitri dan Aresta yang terdiam sebelum memalingkan wajahnya masing-masing.
" Sepertinya anak ku tidak mempercayai rasa masakan mu. Apa kau tahu bahkan ibumu sangat menyukainya." ucap Dimitri sambil menunjuk Aresta.
Tapi sayangnya pemikiran Silas sama sekali tidak terjadi bukannya merasa asin atau manis melainkan rasa saus tomat yang sangat lezat bercampur di pasta beserta toping daging cincang yang di goreng halus. Membuat citra rasanya enak bahkan ia yakin masakan Mother nya kalah dengan buatan Dimitri.
Sedangkan di sisi lain Dimitri memasang raut wajah kemenangan melihat Silas menyukai masakannya. Membuat Aresta yang melihatnya memutar bola matanya malas dengan sikap Dimitri yang sombong.
...****************...
Keesokan harinya Dimitri harus meninggalkan Aresta dan Silas di hotel sebab ada pertemuan dengan salah satu pangeran Denmark untuk mencapai kesepakatan bisnis antara kedua negara sekaligus membuat perjanjian damai di antara kedua negara tersebut.
" Kalian awasi nona dan pangeran jika terjadi sesuatu kepada mereka siap-siap saja nyawa kalian yang akan hilang." ucap Dimitri kepada para bodyguard yang di tugaskan menjaga Aresta dan Silas. Sebab tidak mungkin juga musuh atau seseorang ingin menghabisi nyawa kelemahannya.
" Baik, Yang Mulia." ucap Bodyguard serentak sambil membungkuk kepalanya merasa segan dengan aura Raja nya.
Dimitri yang mendengarnya menggangguk kepalanya puas sebelum pergi bersama Reymond menuju istana Denmark.
Sedangkan di sisi lain Aresta yang baru saja terbangun dibuat heran melihat suasana kamar terlihat sepi. Sebab biasanya Dimitri akan berada di sampingnya menunggu nya untuk bangun. Pandangan Aresta tertuju ke arah sarapan yang ada di nampan dan secarik kertas di sampingnya dia pun mengambil kertas tersebut.
Aku tidak bisa sarapan bareng bersama kalian. Karena ada urusan yang harus aku selesaikan tapi aku sudah membuatkan sarapan untukmu. Jangan lupa dimakan seperti terakhir kalinya...
Melihat surat itu Aresta tanpa sadar tersenyum. Tanpa menyadari bahwa seseorang sedang berjalan menuju ke arahnya dengan membawa....
Countine...