I Want To See My Son Again

I Want To See My Son Again
Penusukan



Tanpa menyadari bahwa seseorang sedang berjalan menuju ke arahnya dengan membawa sebuah belati. Kemudian belati tersebut di tusuk ke perut Aresta yang sedang menulis.


" Arrgh...hmmp..." teriak kesakitan Aresta sebelum tiba-tiba saja ada seseorang menutup mulutnya dengan tangan.


Aresta sama sekali tidak bisa melihat siapa orang itu karena tadi dia mematikan semua lampu kecuali lampu di dekat ranjang.


" Anda mendapatkan salam dari ibu ratu." ucap orang tersebut sebelum melepaskan belati tersebut dari perut Aresta dan membiarkannya terjatuh dengan darah yang terus keluar.


Setelah itu orang misterius tadi langsung meninggalkan ruangan dengan cepat-cepat. Aresta yang sempat masih sadar merasakan sakit di bagian perut sambil meninttikan air mata nya.


" Apa aku akan mati untuk kedua kalinya? Apa aku tidak bisa melihat Silas lagi? Maafkan Mommy Silas tidak bisa melihat mu dewasa." ucap Aresta di dalam batinnya.


Sebelum kehilangan kesadarannya samar-samar Aresta melihat seseorang menghampirinya.


Sampai akhirnya dia kehilangan kesadarannya.


...****************...


Satu jam lalu....


" Terima kasih atas kontribusinya untuk membuat kedua negara ini kembali berdamai. Saya senang anda mau menghadiri perjanjian damai ini Raja." ucap Pangeran Mahkota Frederick menjabat tangan Dimitri.


" Saya juga senang Pangeran semoga kerja sama ini terus berlanjut." ucap Dimitri sambil membalas jabatan tangan Pangeran Frederick.


Setelah melakukan tanda tangan perjanjian damai dan kerja sama segera Dimitri meninggalkan ruangan entah kenapa perasaan nya gelisah memikirkan Aresta.


" Salam, Yang Mulia. Apa ada baik-baik saja?" tanya Pangeran Frederick.


" Saya baik-baik saja, tapi sayangnya hari ini tidak bisa menerima undangan anda untuk bertemu Ratu di istana. Saya mengucapkan permintaan maaf kepada Ratu." ucap Dimitri dengan datar.


" Tentu saja, Yang Mulia. mungkin lain kali anda bisa menemui beliau kalau begitu saya permisi dahulu. Selamat malam Yang Mulia." ucap Pangeran Frederick sebelum pergi bersama Asistennya.


Reymond menghampiri Dimitri yang melihat kepergian Pangeran Frederick dari jauh. Reymond merasa bahwa hari ini Raja Dimitri terlihat aneh. Tapi sebelum dia bertanya Raja Dimitri sudah membalikan badannya terlebih dahulu.


" Kita pergi sekarang Rey, saya harus kembali ke hotel." ucap Dimitri berjalan keluar.


Entah kenapa Dimitri merasakan perasaan takut dengan keadaan Aresta dan Silas. Menurutnya ibu nya tidak akan membiarkan nya hidup. Apalagi ibunya sangat obsesi menjodohkannya dengan Julie. Sampai sekarang Dimitri belum melakukan sesuatu kepada keluarga mereka setelah malam putusnya pertunangan mereka. Tapi jika mereka melakukan sesuatu yang berbahaya jangan harap Dimitri akan mengampuni mereka.


Selama perjalanan menuju hotel Dimitri tidak mau menghilangkan perasaan khawatir nya malah semakin bertambah. Sampai di hotel Dimitri segera masuk berjalan cepat menuju ke kamarnya. Reymond yang melihatnya berjalan secepat mungkin untuk menyusul nya.


Dimitri tidak bisa berpikir jernih selama di dalam lift. Sampai di lorong dekat kamarnya Dimitri melihat bodyguard yang menjaga Aresta dalam kondisi tidak sadarkan diri. Membuat Dimitri langsung khawatir dan membuka pintu dengan keras dan melihat sekitar nya dalam kondisi gelap.


" ARESTA...SILAS DIMANA KALIAN." ucap Dimitri mencari keberadaan dua orang yang sangat berarti dalam kehidupannya.


Pertama Dimitri memeriksa kamar Silas ia bisa sedikit bernafas lega melihat puteranya yang tertidur lelap di atas ranjang. Setelah itu ketika dia membuka kamar Aresta bertapa terkejutnya dia melihat nya dalam kondisi berbaring dengan darah keluar dari perutnya.


" ARESTA....


Countine....