
Dimitri memasuki pintu belakang dengan perlahan-lahan melihat sekitarnya terasa sepi membuatnya sedikit merasa curiga. Karena seharusnya banyak penjaga yang menjaga pintu belakang mengingat kemungkinan besar orang akan menyusup ke sini. Apa penjaga di bawanya telah mengalahkannya pikir Dimitri.
Dimitri yang sibuk berpikir tidak menyadari ada seseorang yang berdiri di belakang nya dan mengangkat sebuah tongkat besi berniat melukai nya.
Dimitri yang sedikit melirik dibuat terkejut kemudian...
Trang....
" Hah..."
Aresta membuka matanya dengan nafas tersengal-sengal melihat sekitarnya yang terlihat kosong hanya ada beberapa pipa besi, kayu,dan barang-barang lain yang tidak digunakan berada di situ.
" Kau sudah sadar anak ku." ucap seseorang yang membuat Aresta melihat ke arah samping.
" Mengapa kau mengikat ku di sini?" tanya Aresta dengan datar.
Kondisi Aresta saat ini tidak begitu baik pakaiannya yang kotor, rambut nya acak-acakan, dan sekarang tidak menggenakan sepatu. Apalagi dengan kaki dan tangannya diikat di kursi berhasil membuat Aresta tidak bisa bergerak.
Julius yang melihat tatapan Aresta yang dingin kepadanya langsung memegang dagunya mencengkram nya dengan kuat.
" Father tidak suka memiliki anak pembangkang seperti mu. Jadilah seperti gadis ku 20 puluh tahun lalu." ucap Julius menuntut Aresta seperti masa-masa masih kecil.
Suka tersenyum dan memeluk Julius dengan penuh kasih sayang. Itu adalah keinginan Julius ketika suatu hari nanti bisa menemukan Puteri kecilnya yang dipisahkan selama lebih dua puluh tahun.
Aresta yang mendengarnya langsung tertawa terbahak-bahak menurutnya permintaan Julius sungguh lucu di telinganya.
" Hahahaha....itu lucu." ucap Aresta tertawa sambil menatap geli Julius.
Merasa lelah tertawa Aresta langsung berhenti dan menatap sinis Julius.
" Kau kira aku akan seperti dulu. Bukannya sudah aku bilang Aresta yang dulu sudah mati dan tidak akan pernah kembali. Orang tua ku sudah meninggal dua puluh tahun lalu. Jadi kau bukan ayah ku lagi sejak kau meninggalkan kami demi harta mu itu." ucap Aresta sambil tersenyum miring melihat ekspresi marah Julius.
Plak...
Brak...
Suara tamparan dan suara pintu terdengar secara bersamaan.
Di sana Dimitri melihat pipi Aresta yang merah dan sedikit noda darah di bibirnya.
Tangan Dimitri terkepal kuat melihat kondisi Aresta yang buruk.
" APA YANG KAU LAKUKAN KEPADA ISTRIKU BODOH?" tanya Dimitri dengan teriakan yang cukup keras. Tanpa menyadari bahwa dirinya memanggil Aresta dengan sebutan isteri. Padahal mereka belum menikah.
Julius yang mendengarnya hanya tertawa pelan menatap geli Dimitri. Tapi meski begitu ada tatapan kuat untuk membunuh Dimitri.
" Akhirnya raja kita sudah sampai. Jadi anda berani untuk datang kemari. Setelah kau mencampakkan Julie." ucap Julius dengan tenang.
Aresta yang mendengar bahwa Julius menyebut nama Julie. Membuat perasaan sedikit sedih meski dirinya membenci ayah nya tapi ada setitik perasaan sayang dan rindu terhadapnya. Tapi sayangnya itu tidak terjadi karena Julius sepertinya sangat menyayangi Julie.
Dimitri melirik ke arah Aresta dan dirinya bisa melihat tatapan sedih. Ia tahu bagaimana perasaan Aresta.
" Bukannya seharusnya aku tanyakan berani sekali kau menculik calon isteri Raja. Apalagi orang itu adalah Puteri kandung mu sendiri sungguh menyedihkan bukan. Betulkan Julie." ucap Dimitri menyeringai.
Julius langsung dibuat terkejut mendengar Dimitri menyebut nama Julie dan lagi Julie memang berada di sini dengan mata berlinang air mata.
" Julie....
Countine...