
Seminggu sudah pemakaman Ibu Ratu Emily semuanya mulai normal kembali. Terutama sekolah dan kantor dibuka kembali tepat dua hari mengenang penghormatan ibu ratu Emily dan Silas harus mulai masuk sekolah di hari pertamanya yang sudah lama tertunda.
Jika saja Silas bukan pangeran sekaligus pangeran mahkota pastinya anak itu tidak akan mendapatkan keringanan dengan mudah. Tapi dengan koneksi Dimitri, kepala sekolah langsung mengijinkan Silas kapanpun dia mau.
Silas dengan seragam baru nya melihat penampilan nya di cermin. Kemeja putih, dasi merah, celana hitam pendek di atas lutut, serta rompi berwarna merah. Membuat Silas tersenyum puas.
" Seragam ini lebih baik ketika aku sekolah di Denmark." ucap Silas memperhatikan penampilannya.
Ceklek...
Aresta yang masuk ke kamar Silas tersenyum melihat puteranya sedang berkacak di cermin.
" Selamat pagi Silas." ucap Aresta menyapa Silas sambil menghampirinya dan membawa nampan berisi sarapan.
Mendengar suara Aresta membuat Silas membalikan badannya melihat ibunya membawakannya sarapannya.
" Selamat pagi Mom, dimana Father bukannya kita seharusnya sarapan bersama?" tanya Silas bingung dengan tidak kehadiran Dimitri.
Aresta meletakkan nampan berisi sarapan Silas di atas meja sebelum kemudian membenarkan dasi nya yang sedikit miring.
" Father mu sedang berada di luar kota ada urusan yang harus di selesaikan. Dia meminta kita untuk sarapan berdua saja dan Mother akan mengantar mu ke sekolah." jawab Aresta sambil tersenyum.
" Kau sudah besar puteraku, Mommy tidak percaya bisa bertahan hingga saat ini. Apalagi Mommy mendapatkan kesempatan untuk melihat puteranya sekolah." ucap Aresta dengan tatapan teduh.
Silas yang mendengarnya terdiam memandang Aresta.
" Mom." gumam Silas dengan tatapan sedih.
Aresta berdiri sambil menggenggam tangan Silas.
" Baiklah Silas sekarang kau harus sarapan sekarang. Kau tidak mau terlambat di hari pertama bukan." ucap Aresta mencairkan suasana yang sempat sedih.
Silas hanya menggangguk kepalanya entah kenapa hari ini dirinya mempunyai firasat buruk.
...****************...
Selesai sarapan Aresta langsung mengantar Silas ke sekolah dengan mobil di kendarai oleh sopir. Dimana Aresta dan Silas duduk di belakang.
Aresta menggenggam tangan Silas dan membawanya ke hadapan seorang guru yang menunggu mereka.
" Selamat pagi, Yang Mulia. saya Irma walikelas pangeran mahkota senang berjumpa dengan anda." ucap Irma mengulurkan tangannya.
Silas dengan enggan membalas uluran tangan tersebut.
" Silas." ucap Silas singkat dan datar tampak tidak tertarik dengan guru di sekolah baru nya.
Melihat jawaban Silas membuat Aresta merasa tidak nyaman.
" Maafkan puteraku terkadang di bersikap seperti itu karena dirinya baru saja beradaptasi tinggal di sini." ucap Aresta meminta maaf pada Irma.
Irma tersenyum sambil menggangguk kepalanya.
" Tidak masalah, Yang Mulia. Kalau begitu pangeran mari kita masuk pelajaran akan dimulai dalam 10 menit lagi." ucap Irma.
Silas membalikan badannya menatap Aresta sebelum kemudian mencium tangannya.
" Aku pergi dulu Mom." ucap Silas dengan lembut.
Aresta berjongkok dan mencium kening Silas dengan penuh kasih sayang.
" Berhati-hatilah dan jangan berani membantah gurumu." ucap Aresta memberikan nasihat nya.
Setelah memastikan Silas masuk ke dalam Aresta langsung masuk ke dalam mobil.
Aresta melihat ponselnya sebelum kemudian dia merasakan perasaan tidak nyaman berasa seseorang ada mengikuti mereka
" Apa kita di ikuti?" tanya Aresta kepada Sopir yang sejak tadi terdiam hanya menyetir di depan.
Tapi tiba-tiba saja....
Countine...