I Want To See My Son Again

I Want To See My Son Again
Keinginan Terbesar Melebihi Mimpi ku



Aresta membuka matanya terbangun dan melihat sekitar bahwa sekarang berada di ranjang. Mata nya melirik ke arah jam digital yang sudah menunjukkan pukul 17.00 sepertinya dia sudah menghabiskan waktu hampir tiga jam tidur. Aresta turun dari ranjangnya menuju ke arah cermin memperhatikan penampilannya yang sedikit berantakan langsung merapikannya.


Setalah merasa siap Aresta langsung keluar dari kamar. Tiba-tiba saja Aresta melihat pemandangan yang membuatnya terharu di sana Dimitri sedang duduk sambil memangku Silas yang tampak tertidur. Sedangkan Dimitri dengan jari nya mengelus rambut Silas lembut.


Aresta memutuskan untuk menghampirinya dan duduk di samping Dimitri dengan pandangan mata tertuju ke arah Silas yang tampaknya tidur pulas. Sudah lama Aresta tidak melihatnya tidur pulas karena setiap malam setelah mendapatkan ingatan kehidupan sebelumnya Silas selalu terbangun dari tidurnya dengan berteriak ataupun menangis.


Hal itu membuat Aresta sedih dan mengutuk dirinya karena telah memberikan penderitaan kepada Silas.


Dimitri yang memperhatikan Aresta yang matanya berkaca-kaca langsung menepuk pundak nya dengan pelan.


Aresta yang merasakannya langsung tersadar dan sedikit mengangkat kepalanya melihat wajah Dimitri memandangi nya dengan khawatir.


" Apa kau baik-baik saja?" tanya Dimitri sambil melihat Aresta.


Sesuatu yang membuat Aresta sedikit aneh dengan perasaan nya. Padahal dalam logikanya dia menyakini bahwa dia mencintai David. Tapi di sisi lain Aresta merasakan perasaan asing kepada ayah kandung dari putera tunggalnya.


" Tidak, cuma aku sama sekali tidak percaya memiliki anak di usiaku yang masih muda." ucap Aresta menjawab pertanyaan Dimitri.


Dimitri yang mendengarnya menggangguk kepalanya mengingat usia Aresta beda tiga tahun. Memang di zaman sekarang di usia Aresta seharusnya masih sibuk dengan karir nya. Sedangkan dirinya berbeda ketika berusia 17 tahun sejak di nobatkan Raja setelah kematian ayahandanya saat masih dirinya masih kecil. Ibunda nya yang merupakan rakyat biasa tanpa status bangsawan apapun. Tidak bisa mendapatkan tahta sepenuhnya dan hanya bisa di jadikan wali sampai dimana Dimitri berusia 17 tahun.


Sejak menjadi Raja Dimitri selalu di tuntut untuk memiliki ahli waris membuat sedikit frustasi dan menghabiskan waktu di klub berakhirnya malam itu. Tapi yang membuatnya sedikit curiga ada seseorang yang menjebaknya. Sepertinya ia harus menangkap nya pikir Dimitri sambil menyeringai.


Tangan Dimitri menggenggam tangan Aresta sambil mengelus nya.


Aresta menyerngitkan dahinya bingung bukannya menjadi Raja adalah keinginan semua orang.


" Apa maksudmu melebihi keinginan menjadi Raja? Apa kau tidak berniat menjadi Raja?" tanya Aresta sambil memiringkan kepalanya ke samping.


Dimitri yang mendengarnya tertawa melihat ekspresi Aresta menggemaskan membuatnya mencubit pipi nya.


" Kau akan mengetahuinya nanti, dan siap-siap nanti akan ada sebuah kejutan bagus. Saran ku hanya harus bersabar." ucap Dimitri sambil tersenyum misterius.


Kali ini Aresta tidak bisa mengatakan apapun hanya diam. Sambil dalam hati penasaran dengan hadiah Dimitri.


...****************...


Sungguh-sungguh Aresta merasa jengkel padahal ia akan mendapatkan kejutan yang bagus. Tapi yang ternyata adalah banyaknya wartawan yang sudah berkumpul di depan pintu Bandara. Jujur saja Aresta merasa risih dengan kumpulan orang mencari berita itu.


Pandangannya tertuju ke arah Dimitri dan Silas yang hanya memasang ekspresi dingin.


" Memang definisi anak nya mirip dengan ayahnya memang ada." batin Aresta menghela nafasnya.


Countine...