
Aresta terkejut melihat pria yang telah menghabiskan satu malam dengannya 4 tahun lalu berdiri tidak jauh dari hadapannya. Terus pandangan pria itu tertuju ke arah Silas yang sedang makan tanpa menyadari bahwa seseorang memperhatikannya.
" Silas, apa sudah selesai makan nya kita harus kembali ke ruang rawat mu segera untuk tidur siang." ucap Aresta yang bertanya dengan perasaan cemas.
Silas yang merasa ada yang aneh dengan nada suara Mother nya langsung melihat sekeliling. Dirinya dibuat terkejut melihat seseorang yang sudah 4 tahun ia tidak melihatnya. Seseorang yang menjadi salah satu alasannya menderita meskipun pria itu tidak berperan secara langsung tapi melihat tindakannya yang mengacuhkannya menjadikan poin bahwa selama ini dirinya hanya di jadikan sebuah alat politik saja.
Terus pandangan Silas kembali ke arah Mother yang tampaknya sedang berbincang dengan suster Maria. Dari nada suaranya Silas tahu bahwa Mother nya berusaha menyembunyikan perasaan takutnya dan Silas sama sekali tidak takut berhadapan dengan pria itu. Tetapi sayangnya sekarang dirinya tidak memiliki kekuatan untuk melindunginya dan Mother nya.
" Mother benar Silas sudah mengantuk ini waktunya tidur siang, Suster Maria sekali lagi terima kasih karena mengundang silas dan mother untuk makan siang bersama." ucap Silas mengatakan terima kasih dengan pandangan tulusnya.
" Sama-sama Silas, kau memang anak yang sopan." ucap Suster Maria sambil mengacak rambut Silas dan memberikannya sebuah cokelat.
Aresta yang melihatnya ingin mencegahnya tetapi sayangnya Silas sudah mengambil cokelatnya dari tangan Maria.
" Terima kasih Maria, kalau begitu kita pergi dulu ya bye..." ucap Aresta sambil melambaikan tangannya sebelum mendorong kursi roda Silas.
Aresta yang melihat bahwa pria itu berdiri di depannya langsung memasang wajah datar dan melewati nya seolah-olah tidak kenal. Tapi sayangnya hal itu tidak terlaksana karena pria itu sudah memegang tangan nya.
" Kita butuh bicara." ucap pria itu dengan datar.
Membuat sekujur tubuh Aresta di penuhi keringat dingin begitu juga Silas yang melirik Ayah kandungnya yang sayang nya tidak ingin ia lihat lagi di kehidupan sekarang.
Bukannya merasa tersinggung malah pria yang ternyata Dimitri merasa tertarik dengan Aresta yang sama sekali tidak menyukainya. Padahal selama ini tidak seorang wanita pun yang menolak pesonanya apalagi dengan posisinya sebagai salah satu Raja muda membuat semua orang mengantri ingin menjadi Ratu nya.
" Sayangnya saya bukan orang asing untuk mu Nona. Malah mungkin kita memiliki sebuah penghubung di antara kita. Jika anda menolak berbincang dengan saya lebih baik saya pergi dulu. Aresta key arendelle." ucap Dimitri yang mengelus rambut Silas sebelum pergi dengan langkah pelan nya.
Melihat kepergian Dimitri membuat Aresta dan Silas bernafas lega.
" Aku tidak percaya bisa menghabiskan satu malam bersama pria yang menyeramkan itu." ucap Aresta yang takut dengan aura dikeluarkan Dimitri.
" Bahkan Silas juga tidak percaya pernah hidup bersama Ayah yang seperti itu." ucap Silas sambil memijit pelipisnya melihat Ayahnya untuk pertama kalinya di kehidupan kedua kalinya.
Aresta yang melihat sikap Silas menghela nafasnya.
" Dan Mommy tidak ingin Silas bersikap dewasa sebelum umurnya." ucap Aresta yang menyindir Silas.
" Emang Silas sudah dewasa tapi terjebak di tubuh kecil." gumam Silas dengan pelan.
Countine...