
Aresta memejamkan matanya sambil terus berharap David akan datang untuk menyelamatkannya. Sedangkan Dimitri yang tahu bahwa Aresta takut kepadanya menghela nafasnya sambil memundurkan langkahnya.
" Istirahatlah dan jangan harap kau bisa keluar dari sini, jika tidak kau kehilangan Silas untuk selamanya." ucap Dimitri sambil berjalan keluar.
Melihat Dimitri sudah pergi sekujur tubuh Aresta melemas hingga jatuh. Air matanya terus mengalir sambil melingkupi tubuhnya menangisi semua nasibnya yang buruk.
Sedangkan Dimitri berjalan menuju kamar yang berada di samping Aresta.
Ceklek...
Ketika membukanya Dimitri bisa melihat Silas yang sedang berdiri di depan kaca melihat pemandangan kota Kopenhagen dari lantai 25.
" Dimana Mother ku?" tanya Silas tanpa mengalihkan pandangannya.
Silas sudah menyadari kedatangan Dimitri tapi ia tetap mengacuhkannya. Dimitri menyerngitkan dahinya melihat sikap Silas yang kurang sopan kepadanya seperti melihat dirinya ketika kecil.
" Mother mu ada di kamar sebelah. Jadi jawab pertanyaan ku bagaimana kau bisa bersikap biasa saja. Apa kau sudah tahu siapa aku sebenarnya?" tanya Dimitri sambil duduk di salah satu sofa.
Silas membalikan badannya memandang Dimitri dengan datar.
" Sepertinya begitu." ucap Silas sambil memiringkan kepalanya polos.
" Yah...kau sepertinya bukan anak yang bodoh, jadi bagaimana hubungan kita sebenarnya apa kau sudah mengakui aku sebagai ayah mu." ucap Dimitri dengan datar.
Tetapi jika di dengar lebih detail Dimitri berharap kepada Silas kau dia menerimanya sebagai ayah kandungnya.
Silas yang mendengarnya tersenyum miring mengingat bagaimana masa lalunya ayahnya sama sekali tidak mempedulikannya. Apa karena dia mengaku sebagai anak Julia makanya ayahnya sangat membencinya. Itu sebuah teka-teki yang harus di pecahkan.
" Saya tidak tahu mengingat kau sama sekali tidak mempedulikan kami selama ini. Lagipula saya sudah bahagia dengan Father dan Mother. Jadi saya tidak yakin bisa memiliki cukup ruang untuk memanggil anda ayah." ucap Silas menjawab pertanyaan Dimitri.
Dimitri mencengkram pinggiran sofa dengan kuat sampai membuat jari nya memutih mendengar jawaban Silas. Karena tidak bisa menahan emosinya Dimitri memutuskan untuk keluar dari kamar Silas.
Silas yang melihatnya hanya menggelengkan kepalanya sambil membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Dia sedang khawatir dengan kondisi Mother nya yang sepertinya memiliki trauma terhadap Dimitri. Sejujurnya Silas sama sekali tidak mengharapkan pria itu datang untuk mencari mereka. Mengingat di waktu sebelumnya seharusnya Dimitri sudah menikah dengan Julia dan dirinya sudah berada di istana untuk menjalankan pembelajaran nya sebagai pewaris tahta.
...****************...
Sedangkan di sisi lain David yang baru saja sampai di rumahnya merasa heran melihat keadaan rumahnya yang sepi. Karena biasanya jam segini selalu ada suara televisi yang berada di ruang keluarga.
David berpikir mungkin saja Aresta dan Silas sedang berada di kamarnya dan sayangnya ketika ia mengeceknya sama sekali tidak ada orang.
Membuat jantung David tiba-tiba saja berdetak cepat langsung saja mengambil ponselnya untuk menghubungi Aresta.
Maaf saat ini nomor tidak bisa di hubungi silahkan tinggalkan pesan....
David khawatir mendengar bahwa ponsel Aresta tidak aktif. Karena tidak biasanya Aresta mematikan ponselnya.
" Aresta kau dimana saja aku sudah berada di rumah. Jika terjadi sesuatu tolong katakan kepadaku supaya aku bisa mencari kalian. Aresta aku mencintaimu." ucap David meninggalkan pesan suara di ponsel Aresta.
Tanpa mengetahui bahwa seseorang sudah mengambil ponsel Aresta dan mendengar semua pesan suara di kirimnya.
Countine...