
Keesokan harinya Silas yang terasa terganggu oleh cahaya matahari di jendela membuatnya membuka matanya dan bertapa terkejutnya melihat pertama kali ia lihat adalah wajah ayahnya yang tertidur di sampingnya sambil memeluknya sekaligus Mother nya.
Perasaan ini tiba-tiba kembali hadir ketika dia masih Silas yang dulu. Silas yang kesepian, kurang perhatian, menyedihkan, berharap punya keluarga semuanya keluar. Dia kembali bisa merasa perasaan kasih sayang Mothernya ketika pertama kali membuka matanya di kehidupan keduanya sebagai bayi. Di sana tatapan Mother nya sangat hangat tapi sayangnya setelah ia kehilangan ingatannya di kehidupan pertamanya.
Tapi itu tidak buruk di kehidupan keduanya semuanya berubah Mother nya sangat menyayangi nya merawatnya dengan penuh kasih sayang. Meski kehidupan mereka sangat sederhana tapi Mother selalu memastikan bahwa dirinya tidak kekurangan sedikitpun. Ia ingat ketika usianya dua tahun ibunya harus membawanya bekerja di tengah salju sebagai seorang kasir sementara saat pegawai tetap mengambil cuti libur. Bahkan dia ingat ketika ulang tahunnya yang ketiga Mother berusaha mencari uang untuk memberikan sebuah kue kecil membuatnya merasa begitu di cintai.
Sekarang semuanya berubah Silas terkejut melihat bagaimana Ayahnya memperhatikannya bahkan mau tidur bersamanya dan Mother nya. Silas juga bisa melihat bahwa ayahnya memiliki sifat yang sama yaitu kesepian. Ia memang tidak tahu bagaimana kehidupan masa kecilnya tapi pernah dia dengar hubungannya dengan ibu kandungnya tidak baik sejak kematian ayah Dimitri.
Silas tidak menyadari bahwa sedari tadi Dimitri memperhatikannya dengan bingung.
" Apa yang kau pikirkan hingga bangun sepagi ini?" tanya Dimitri sambil melihat wajah anaknya yang terkejut itu sedikit menghiburnya mengingat selama berada di sini Silas selalu menampilkan ekspresi datar dan dingin.
Menurutnya Silas sangat mirip dengan nya cuma bola matanya saja yang di warisi Aresta untuknya.
" Tidak ada, saya cuma memikirkan masalah sekolah jadi sampai kapan anda mengurung kami di sini. Kau tahu bahwa kami memiliki kehidupan pribadi." ucap Silas sambil melotot Dimitri.
Dimitri yang mendengarkannya langsung tertawa terbahak-bahak. Membuat Silas kesal karena merasa di permainkan.
" Buat apa anda ketawa keras ingat Mom masih tidur jangan mengganggu nya atau tidak saya akan melakukan sesuatu yang membuat anda menyesalinya." ucap Silas mengancam Dimitri.
" Hahahaha baiklah hmm.." ucap Dimitri sambil berdehem berusaha menghentikan tawanya.
Kemudian Dimitri turun dari ranjang nya berjalan menuju ke arah jendela dan membuka gorden nya.
Kriit...
Membuat Aresta terbangun melihat sinar matahari mengganggu pengelihatan nya.
" Kalian cepat bersiap kita akan pergi untuk mengelilingi kota." ucap Dimitri sebelum keluar dari kamarnya.
Aresta yang masih mengumpulkan nyawanya tidak terlalu mendengar ucapan Dimitri. Pandangannya tertuju ke Silas yang sudah selesai dari kamar mandi dengan pakaian rapi dan baru.
" Tadi apa yang pria itu katakan?" tanya Aresta dengan suara serak.
" Dia katakan bahwa menyuruh kita untuk bersiap karena dia akan mengajak kita pergi Mother." ucap Silas yang menjawab nya.
Aresta yang mendengarnya langsung dibuat terkejut dan bangun dari ranjang.
" Benarkah...
Countine...