
Setelah itu Dimitri mengajak Aresta dan Silas berkeliling istana. Aresta yang belum pernah masuk ke dalam istana dibuat terkejut melihat keindahan arsitektur serta benda-benda yang memiliki nilai sejarah.
Beda dengan Silas yang hanya menatapnya dengan datar sebab dia sudah pernah berkunjung sekaligus tinggal di sini selama lebih bertahun-tahun di kehidupan pertamanya.
Sampai mereka bertiga berhenti sejenak di taman mata Aresta berbinar cerah melihat keindahan taman.
" Indah sekali, aku tidak tahu bahwa istana ini memiliki tempat seindah ini." ucap Aresta yang melihatnya pemandangan taman.
Taman ini memiliki 70 jenis bunga di sekitarnya mulai dari mawar, tulip, dandelion,dan jenis-jenis yang lain. Juga taman ini juga ada sebuah air mancur yang memiliki patung bunga besar yang mengalir air.
Aresta kemudian berjalan menuju ke air mancur tersebut dan melihat air yang bersih membuat Aresta mengambilnya untuk dibasuh ke wajahnya.
" Wah...ini sangat segar, aku tidak tahu bahwa air mancur seperti air pengunungan." ucap Aresta sambil tersenyum.
" Iya memang air langsung mengalir dari pegunungan mengingat istana dekat dengan gunung. Setiap tahun terkadang kami membuat perlombaan berkuda di hutan dan berburu." ucap Dimitri menjelaskan.
" Itu bagus seperti nya kapan-kapan aku akan berkunjung ke sana. Pasti ada tempat di sana." ucap Aresta sambil membayangkan menaiki kuda berkeliling hutan.
Juga Aresta pernah menonton televisi dimana setiap tahun anggota kerajaan mengadakan perlombaan yang membawa keberuntungan bagi pemenang nya. Hadiahnya sekitar tujuh puluh lima ribu dolar Amerika.
Menjadikan perlombaan yang banyak diikuti oleh peserta terkhususnya kalangan bawah yang sama sekali tidak ahli. Tentunya pulang dengan penuh kekecewaan. Tapi setiap tahun itu adalah penghiburannya.
Dimitri yang mendengar ucapan Aresta langsung berdiri di sampingnya dan memeluk pinggang nya menariknya ke dekatnya.
" Tentu saja aku akan membawamu ke tempat-tempat indah. Kalau begitu bagaimana sekarang aku akan menunjukkan kamar mu dan Silas." ucap Dimitri yang ingin menunjukkan kamar Aresta dan Silas.
Aresta menjawab dengan anggukan sebelum pandangannya tertuju ke arah Silas yang tampaknya sedang memandang kosong ke arah air mancur.
Flashback On...
Sedangkan Silas yang saat itu sudah mengetahui akal busuk dari Julie. Setelah 14 tahun tersembunyi. Meskipun Julie memperlakukannya dengan baik tapi Silas tahu bahwa wanita itu hanya ingin mendapatkan kesetiaan kepadanya dan menjadikan dirinya sebagai boneka.
Ketika Silas mau menemui Julie ia melihat sesuatu yang sama sekali tidak ingin ia ingat atau melihatnya. Bagaimana tidak di sana Julie sedang berhubungan badan dengan ayah kandungnya.
Mereka saling berbagi peluh satu sama lain tanpa sadar Silas memundurkan langkahnya ketika Julie melihatnya dan menyeringai ke arahnya seolah dia mengatakan bahwa...
Dia menang dan dirinya kalah...
Langsung saja Silas yang mengetahuinya langsung mengambil senjata api dan masuk ke dalam kamarnya. Hatinya merasa sakit melihat ayahnya sedang berpelukan dengan Julie.
" KAU WANITA BIADAB..KAU PEMBUNUH." ucap Silas sambil berteriak.
Silas bisa melihat Dimitri yang kebingungan dengan ucapannya sebab selama dirinya tidak pernah bertindak kasar kepada ibu nya Julie.
" Apa maksudmu, sia..." ucap Dimitri terpotong ketika seseorang ada menyuntikan suatu cairan ke dalam tubuhnya.
Bruk....
Hingga Dimitri tidak sadarkan diri. Silas yang melihatnya langsung khawatir dan berniat menghampiri nya sampai...
Dengan...
Countine...