I Want To See My Son Again

I Want To See My Son Again
Ibu Ratu Tahu



SAYA TIDAK PEDULI BAGAIMANA PUN SINGKIRKAN WANITA ITU BESERTA PUTERANYA ATAU NYAWA MU BESERTA PUTERA TERSAYANG ITU MATI." ucap wanita yang berteriak di layar laptopnya.


Countess Vicon mendengarnya menggigil ketakutan dengan wanita di depannya.


" Baik, Yang Mulia. saya akan berusaha untuk memisahkan mereka." ucap Countess menerima tugasnya.


Wanita di layar laptopnya menggangguk kepalanya puas sambil menampilkan senyum liciknya.


" Bagus kalau begitu saya tidak menerima kegagalan. Ingat itu." ucap wanita itu sebelum mematikan sambungannya video call nya.


Countess Vicon mengepalkan tangannya dan menampilkan senyum liciknya.


" Ternyata beruntung juga berkerja sama dengan ibu ratu. Siap-siap saja wanita sial beserta anak nya akan mati." ucap Countess Vicon.


...****************...


Sedangkan di sisi lain setelah menghabiskan kopi buatan anaknya Dimitri lanjut mengerjakan pekerjaannya yang belum selesai.


Ceklek....


Sampai dimana Reymond yang baru saja masuk membuat Dimitri menghentikan pekerjaannya sejenak.


" Yang Mulia." ucap Reymond sambil membungkuk hormat.


" Jadi ada apa yang membuat mu datang kemari Rey?" tanya Dimitri yang merasa bahwa dia tidak memanggil Reymond. Mengingat dia memberikannya libur satu hari.


" Maaf, saya mendapatkan kabar dari istana bahwa Ibu Ratu sudah mengetahui tentang Nona dan Pangeran." jawab Reymond.


Dimitri mendengarnya mengepalkan tangannya.


" Bagaimana dia bisa tahu bukannya kita sudah menyembunyikan nya dengan baik. Supaya ibu ratu tidak mengetahuinya." ucap Dimitri berpikir. Memang Dimitri sudah merencanakan kunjungan di Denmark dengan sangat rapi tujuannya supaya Aresta beserta Silas tidak mendapatkan sesuatu yang buruk mengancam nyawa mereka.


Tapi pikirannya tiba-tiba mengingat kejadian di mall tadi dimana Countess mempergoki dirinya bersama Aresta. Langsung saja Dimitri mengerti siapa yang membocorkan identitas Aresta kepada ibu ratu.


" Beliau menginginkan anda kembali bersama Nona dan Pangeran ke istana. Jika anda menolak ibu ratu akan mengancam membocorkan tentang anda yang menyembunyikan isteri dari pria lain, Yang Mulia." jawab Reymond yang meringis melihat raut wajah Dimitri sudah memerah.


BRAK...


Dimitri yang tidak bisa menyembunyikan emosinya langsung melampiaskan nya dengan memukul meja kaca hingga benda-benda di atasnya jatuh berantakan di lantai.


" Sialan, baiklah Rey kita buat rencana kedua saya tidak akan membiarkan pria itu memperlama rencana kita. Aresta harus berpisah dengan David." ucap Dimitri sambil menyeringai.


...****************...


Aresta yang sudah tidur meras tubuhnya merasa lebih baik meski lemas karena belum menyentuh makan siangnya matanya tertuju ke arah kaca jendela yang sudah menunjukkan waktu malam.


Mengingat sekarang dia sudah beberapa hari ini tidak memasak. Memutuskan untuk memasak mungkin Silas sudah rindu dengan hasil masakannya.


Tapi ketika ia membuka pintu yang membuat Aresta terkejut adalah Dimitri yang sedang memotong sesuatu di dapur. Ia membelakak matanya tidak mempercayai apa yang di lihat olehnya.


Sampai ketika Dimitri membalikan badannya ia tidak menyadarinya.


" Hmm. sepertinya nona ini menyukai apa yang dilihatnya." ucap Dimitri sambil menyeringai sombong.


Aresta yang tersadar langsung menggelengkan kepalanya menolak pendapat Dimitri sebelum melangkahkan kakinya ke dapur.


" Aku cuma tidak percaya bahwa anda yang merupakan seorang Raja bisa memasak. Bahkan mungkin semua tidak akan mempercayai nya." ucap Aresta sambil melihat ke arah Dimitri yang sedang mencuci sayuran.


" Ingat tidak semua yang ada lihat sebuah kebenaran. Terkadang seseorang yang kita anggap baik merupakan orang yang ingin menghancurkan kita dan terkadang orang yang anggap kita jahat merupakan orang yang akan melindungi kita. Ingat itu." ucap Dimitri sambil tersenyum tipis.


Membuat Aresta terkejut dan segera memalingkan wajahnya. Tapi di dalam hatinya dia penasaran apa yang di maksud dengan ucapan Dimitri. Apa ada seseorang yang ingin membuatnya celaka.


" Aku harus mencari nya aku tidak mau terkena untuk kedua kalinya dalam mempercayai seseorang." batin Aresta.


Countine...