
Selesai mengerjakan pekerjaan negaranya Dimitri berjalan masuk ke dalam kamar Silas dan melihat Puteranya yang sedang tertidur sambil memeluk sebuah buku.
Dimitri mengambil buku itu dan melihat judulnya yang membuat senyum tipis terbit.
" Aku tidak percaya kau tertarik dengan buku di usia mu semuda ini." ucap Dimitri sambil duduk di samping Silas dengan tangannya mengelus rambutnya yang memiliki warna sepertinya.
Sampai sekarang Dimitri tidak percaya hasil hubungan satu malam membuatnya menjadi seorang ayah. Bahkan sekarang anaknya sudah sebesar sekarang membuat penyesalan sekaligus kemarahan menumbuk di hati nya. Dia tidak bisa membiarkan Aresta dan Silas kembali ke pria itu ia harus segera menyelesaikan hubungan di antara mereka. Memang ini terkenal jahat tapi Dimitri tidak ingin kehilangan mereka untuk kedua kalinya meski ia harus melawan ibu kandungnya sendiri.
Dengan perlahan Dimitri menyelimuti tubuh kecil Silas dan memberikan kecupan di keningnya.
" Selamat malam dan tidurlah dengan nyenyak." ucap Dimitri sebelum keluar dari kamar nya.
Tanpa di ketahui oleh Dimitri sebenarnya Silas sudah membuka matanya dan melihat pintu yang tertutup.
" Mengapa kau berubah setelah ini sudah terjadi." ucap Silas dengan kilatan mata sendu.
...****************...
Sedangkan di sisi lain Aresta hanya berdiri sambil memandang kosong ke arah kota yang sudah menunjukkan waktu malam. Ia khawatir memikirkan David yang di rumah sendirian. Semoga saja David mencari nya dan membawanya pulang bersama Silas.
Ceklek....
Aresta mendengar suara pintu terbuka tapi ia memilih untuk mengacuhkan. Tidak berapa lama ia merasakan sepasang tangan memeluk pinggangnya dan menyandarkan kepalanya di bahu miliknya.
" Kau menikmati pemandangan sayang?" tanya Dimitri sambil tersenyum.
" Apa yang ingin kau lakukan kepadaku?" tanya Aresta yang bertanya bukan menjawab pertanyaan Dimitri.
" Aku ingin kau ikut bersama ku menikah dan menjadi ratuku, pendamping ku." ucap Dimitri sambil menghirup wangi Aresta.
Aresta yang merasakan deru nafas Dimitri membuat nya gugup ia hanya bisa menggigit bibir bawahnya. Seketika memikirkan itu Aresta langsung menggelengkan kepalanya berusaha menghilangkan pikiran buruknya.
" Tapi kita tidak bisa menikah karena aku sudah memiliki suami dan kami saling mencintai. Begitu juga Silas yang sangat menghormatinya sebagai ayah nya." ucap Aresta dengan tegas sambil menatap tajam Dimitri.
Mendengar kata itu dari Aresta semakin membuat amarah Dimitri tidak terkendali ia mencengkram pinggang Aresta dengan kuat. Sehingga membuat Aresta merintih sepertinya dia salah memancing amarah pria di depannya.
Langsung saja setelah itu Dimitri mendorong tubuh Aresta hingga punggung nya menyentuh kaca dan mencium bibirnya dengan kuat.
" Hmmmp...lepas..kan hmmp..." ucap Aresta memberontak di sela ciuman mereka.
Memikirkan ciuman ini membuat Aresta merasa bersalah dengan suaminya David dan tanpa di sadari olehnya ia meninttikan air mata nya. Dimitri yang melihatnya langsung melepaskan ciumannya dan menggendongnya untuk di bawanya ke ranjangnya. Dengan gerakan perlahan Dimitri membaringkan tubuh Aresta hati-hati seolah-olah dia adalah kaca yang mudah pecah. Jika tidak di letakkan dengan penuh kehati-hatian
Aresta yang melihatnya hanya diam dengan wajah terkejut tanpa melakukan perlawanan seperti tadi. Melihat Aresta yang diam Dimitri menindih tubuh nya dengan menggunakan kedua tangannya menahannya.
" Ingatlah aku tidak akan pernah melepaskan mu karena kau milikku, dan masalah suami mu aku akan mengurusnya nanti. Istirahatlah." ucap Dimitri sambil mencium bibir Aresta sebelum keluar meninggalkan kamar.
Meninggalkan Aresta dalam keterkejutan nya dengan tindakan Dimitri.
" Apa sebenarnya dia inginkan...
Countine...