
Dor...
Suara letusan dari pistol dengan refleks Dimitri memeluk Aresta dan Silas supaya tidak terkena peluru.
Reymond beserta penjaga langsung melihat orang yang mencurigakan mengacungkan pistol ke arah Dimitri berniat ingin menembaknya kembali.
Tapi Dimitri yang melihatnya langsung mengambil pistol dari sakunya dan menembakkan peluru tepat ke arah dada orang itu.
Dor...
Seketika orang itu tumbang mati di tempat sedangkan pada wartawan langsung berteriak dan berhamburan keluar dengan dibantu oleh penjaga.
Reymond yang melihat Raja nya baru saja menebak pelaku berniat membunuhnya langsung menghampirinya.
" Apa anda baik-baik saja, Yang Mulia?" tanya Reymond kepada Dimitri.
Dimitri menatap pelaku itu dengan tatapan datar.
" Cari tahu identitas dan kehidupannya pasti dia termasuk orang suruhan musuh. Saya akan membawa tunangan dan Pangeran ke tempat aman." ucap Dimitri memerintahkan pada Reymond.
" Baiklah, Yang Mulia." ucap Reymond sambil menundukkan kepalanya.
Kemudian Dimitri melirik ke arah Aresta yang sedang memeluk Silas dengan badan bergetar hebat. Menandakan wanita itu ketakutan.
Dimitri berjongkok di hadapan Aresta dan memeluknya sambil mengusap punggungnya dengan pelan.
" Tenang semua baik-baik sudah aku bilang bahwa aku akan melindungi kalian dan memastikan kalian tidak terluka." ucap Dimitri dengan lembut.
Mendengar ucapan Dimitri membuat perlahan Aresta tenang dan badannya tidak gemetar lagi. Tapi karena syok akhirnya Aresta pingsan di dekapan Dimitri.
Membuat Dimitri terkejut dan langsung mengangkat tubuh Aresta ke gendongan nya.
" Silas ikut Father." ucap Dimitri pada Silas yang terdiam kaku.
Silas hanya menggangguk kepalanya sebelum kemudian mengambil kekuatan untuk berdiri.
Setelah itu Dimitri membaringkan tubuh Aresta di atas ranjangnya dan memanggil dokter pribadinya.
" Hallo sudah lama sekali kita tidak bertemu dan ternyata berita itu benar bukan." ucap dokter itu sambil melirik ke arah dimana Aresta tidak sadarkan diri di atas ranjang.
" Cih...jangan membuang waktu mu Daniel jadi cepat periksa wanita itu, dan jangan menyentuhnya." ucap Dimitri yang meminta sesuatu sedikit tidak masuk akal.
Sedangkan Dokter Daniel dan Silas yang berada di ruangan hanya dibuat melongo dengan ucapan Dimitri.
" Hei bagaimana aku bisa memeriksa nya jika tidak menyentuhnya. Kau sudah gila Dimitri." ucap Dokter Daniel.
Dimitri dan Dokter Daniel merupakan salah satu sepupu jauh. Dimana keluarga Dokter Daniel memutuskan untuk menjauhi kehidupan istana dan melanjutkan hidupnya di negeri kincir angin. Tapi berbeda dengan Dokter Daniel yang memutuskan untuk kembali ke tanah kelahirannya.
" Father kau gila cepat Mother butuh di periksa." ucap Silas dengan tegas memarahi Dimitri dan jangan lupa tatapan Silas yang mirip Dimitri.
Membuat Dimitri tidak berkutik karena melihat Silas seperti dirinya di masa kecil yang tidak suka perintahnya dibantah oleh orang lain.
Dokter Daniel langsung tertawa melihat Dimitri tidak berkutik melawan puteranya sendiri. Sampai akhirnya Dimitri menatap nya dengan tajam membuat Dokter Daniel diam.
" Baiklah aku akan memeriksa nya sekarang." ucap Dokter Daniel yang memulai memeriksa Aresta.
Selama pemeriksaan Dimitri tidak bisa melepaskan pandangannya dan menahan perasaan cemburu nya melihat sepupunya memegang tangan Aresta untuk mengecek nadi nya.
Selesai pemeriksaan Dokter Daniel menghampiri Dimitri yang sejak tadi seperti seorang menahan cemburunya.
" Bagaimana keadaannya dan setelah itu pergi." ucap Dimitri dengan dingin.
" Calon isterimu baik-baik dia hanya syok karena penembakan tadi dan seperti nya dia memiliki trauma terhadap bunyi pistol. Aku sudah meresepkan suruh saja anak buah mu untuk mengambilnya." ucap Dokter Daniel menjelaskan kondisi Aresta.
Silas yang mendengarnya seketika menegang karena dirinya tahu alasan awal Mother nya takut bunyi letusan pistol.
Tanpa di sadari oleh Silas bahwa Dimitri melirik ke arahnya dengan tatapan curiga.
" Apa yang sebenarnya di sembunyikan oleh Silas. Aku harus mencari tahu semuanya." batin Dimitri.
Countine...