
Dimitri mengajak Aresta dan Silas pergi ke salah pusat perbelanjaan yang berada di kota. Dimitri ingin menyenangkan keluarga nya sebelum kembali ke negara asalnya. Tentu saja setelah ia menyelesaikan perceraian Aresta dan pria itu.
" Apa saya boleh melihat buku?" tanya Silas yang menarik pelan celana panjang Dimitri.
" Tentu saja Silas kau boleh mengambil buku apa saja yang kau inginkan. Father sudah menyuruh seorang pengawal untuk mengawasi mu." ucap Dimitri sambil memberikan kode ke salah satu pengawal di belakangnya.
Pengawal itu menggangguk kepalanya sebelum berjalan mendekati Silas dan menundukkan kepalanya.
" Suatu kesenangan bisa menjaga anda Pangeran." ucap pengawal dengan sopan.
Silas yang melihatnya hanya memberikan anggukan kecil sebelum pergi bersama pengawal.
Aresta yang melihatnya menggelengkan kepalanya ia sama sekali tidak menyangka Silas bisa mengatasinya semudah itu.
" Aku tidak percaya bahwa Silas bisa bersikap dewasa seperti itu, dan satu hal jangan menggunakan peraturan istana di tempat ramai seperti ini. Kau hanya membuat semua orang memperhatikan kita." ucap Aresta dengan marah karena dia merasa malu melihat beberapa orang memperhatikannya.
Dimitri yang mengerti langsung memberikan tatapan tajamnya membuat orang memperhatikannya langsung pergi. Setelah melihat semua orang itu pergi Dimitri melirik ke arah Aresta yang sedang terganga.
" Mudah bukan, kalau begitu kita harus belanja untuk mu." ucap Dimitri sambil menggandeng tangan Aresta dan menyeretnya ke toko baju.
Aresta yang melihat tangannya di pegang oleh Dimitri berusaha melepaskannya.
" Jangan buat masalah Aresta ingat sekarang kita di tempat umum, dan tenanglah aku tidak akan melakukan sesuatu yang buruk terhadap mu." ucap Dimitri dengan pelan.
Mendengar itu Aresta langsung membungkam mulutnya sebab dia tidak ingin menjadi pusat perhatian orang lain mengingat di berjalan dengan seorang Raja jika satu atau dua orang mengenal pria di depannya.
" Ini....
...****************...
David yang selesai memeriksa pasiennya duduk di kursinya di ruangannya sambil berpikir tentang pertemuan nya dengan Raja tadi siang.
Ia tidak bisa melepaskan Aresta karena ia sangat mencintainya dan tidak mungkin melepaskan apa yang di perjuangkan selama ini. Tapi ia tidak bisa mengganggap remeh ancaman Raja Dimitri.
Menurut ibunya yang pernah bertemu dan bekerja secara langsung dengannya. Di katakan ketika Raja Dimitri naik tahta di usianya yang ke 17 dia tidak segan-segan menuntaskan musuhnya dengan mudah. Bahkan dia berani menangkap Perdana menteri dan mengambil harta nya akibat pencucian uang dan korupsi. Sekeluarga diasingkan dan menandatangani perjanjian jika mereka tidak akan melakukan pemberontakan di kemudian hari. Untuk perdana menteri itu sendiri dia di eksekusi oleh Raja Dimitri dengan senapan.
Sejak saat itu tidak ada seorangpun yang berani dan mengganggap remeh Raja Dimitri. Bahkan dia berani mengasingkan ibu kandungnya ke kastil tua di pegunungan dan tidak diperbolehkan untuk memasuki istana tanpa seizin nya.
Ceklek...
Ketika David sibuk berpikir tiba-tiba saja ada seseorang yang datang masuk ke ruangannya.
" Maaf Tuan saya ingin memberitahu bahwa mereka sangat merindukan anda dan mengundang anda untuk makan malam bersama." ucap seseorang yang merupakan salah satu anak buah David.
David menghela nafasnya sebelum kemudian berdiri dari kursinya.
" Saya akan ke sana sudah lama sekali tidak mengunjungi mereka dan pastikan keamanan di perketat saya tidak ingin seorangpun melihat." ucap David dengan tegas dan tatapan dingin.
Countine...